Alit,
penulis Shitlicius pernah bilang (kurang lebih seperti ini, ehem): makin
bertambah usia, teman akan semakin sedikit. Di satu sisi, saya manggut-manggut
setuju. Pada sisi lain, saya teringat dengan diri sendiri yang memang tak
banyak teman (dekat). Dulu, saya pernah menyalahkan diri sendiri. Berpikir
bahwa saya susah cocok dengan orang lain, kerena mereka tak mau mengerti jalan
pikiran ini—yang terkadang aneh, nggak
seperti kebanyakan orang. Dan, saya pun enggan masuk terlalu dalam pada diri
mereka.
Kenapa saya nggak
mencoba memahami kamu lebih keras? atau kenapa kamu nggak mau mengerti apa yang ada
di dalam kepala saya? atau kapan saya
menemukan teman yang enak diajak ngobrol ‘ngalor-ngidul’? Pertanyaan
semacam itu terus-menerus ada, seiring dengan silih bergantinya manusia di
sekitar. Menjelang dua puluhan, kepala saya berbisik bahwa: perkenalan dengan
orang lain akan bermuara pada dua hal, cocok atau tidak cocok. Sah-sah saja
jika batin saya mengatakan salah satunya ketika semakin mengenal pribadi orang
lain. Tidak ada yang salah, hanya perkara cocok dan tidak cocok.
Bertahun-tahun
saya menantikan seorang teman yang bisa diajak bicara tentang pernikahan yang
urgensinya bisa ditunda, tak perlu mematok usia bagi seorang perempuan. Orang
di sekeliling saya membicarakan betapa menyedihkannya ulang tahun ke dua puluh
lima tanpa seorang yang disebut suami. Saya menantikan seorang teman yang mau
membicarakan tentang kunang-kunang, yang entah masih bisa dilihat terangnya
oleh seorang anak yang lahir di dua puluh tahun mendatang, atau tidak. Teman di
sekitar membicarakan gajah saja enggan.
Berpindah
dari satu lingkungan ke lingkungan lain, saya tak kunjung mendapatkan teman
idaman itu. Tapi, bukan berarti saya belum bertemu dengan seorang teman yang
sebenar-benarnya. Lewat hal lain, saya menyadari dan mendapatkan teman yang
sesungguhnya.
Tentang pendapat.
Menikah bagi saya tak perlu dibatasi usia. Tak perlu adu cepat dengan orang
lain. Bukan pula satu-satunya sumber kebahagiaan dalam hidup. Orang di sekitar
saya, yang mengaku sebagai teman, sering sekali menyalahkan pendapat saya.
Menyuruh cepat-cepat menikah, melarang saya menikah di usia yang lebih dari
sekian. Agar saya bahagia. #lhah.
Tentang selera.
Walaupun saya sering kepergok memakai flat
shoes, tapi dalam otak pernah terbersit imajinasi agar kaki ini memaki
sepatu boots pendek. Orang di sekitar
saya pernah terbahak sangat kencang saat ide itu tercetus. Komentar negatif, nada
sumbang, bercucuran dari mulut mereka. Gaya berpakaian saya yang terlalu
sederhana, tak akan pantas berpadu dengan boots
kekinian, orang lain pantas saja memakainya tapi saya tidak akan pantas. Kurang
lebih seperti itu komentar yang keluar.
Tentang menjalani hidup.
Sebuah buku bacaan selalu berada di tas. Seringnya sebuah novel atau kumpulan
cerita pendek. Barangkali ada sepuluh atau dua puluh menit waktu luang yang
bisa saya gunakan untuk membaca. Saat mata teman-teman di sekitar melihatnya,
jangankan menanyakan judulnya, mereka justru menghakimi saya sebagai
pengangguran tak guna. Waktu bagi mereka sebaiknya digunakan untuk menghasilkan
sesuatu (uang), bukan duduk dan membaca.
Mereka
berbeda dengan saya. Dan, saya bisa katakan bahwa mereka bukanlah
sebenar-benarnya teman saya. Karena mereka tidak menghargai diri saya yang
sesungguhnya.
Berpindah
ke orang-orang lain, yang juga tak sama dengan saya. Mereka dan saya saling
berbahagia ketika ada yang menikah, tak pernah menghakimi isi kepala
masing-masing tentang pernikahan. Tak pernah membicarakan tentang kunang-kunang
atau gajah, tapi menghargai kesukaan saya baca buku. Mereka dan saya tak pernah
sama dalam berpakaikan, tapi mereka mau mengusulkan boots yang cocok untuk saya. Mereka menghargai setiap apa yang ada
dalam diri dan pikiran saya. Entah yang aneh atau lucu, saya dan mereka
bicarakan bersama, tertawakan bersama. Bagi saya, mereka inilah teman yang
sesungguhnya.
Lalu,
sampailah saya pada satu kalimat:
“Jika seseorang terus menerus
menyalahkan pola pikirmu, prinsip hidupmu, jalan yang kau pilih, seleramu,
keinginanmu, hingga mimpi-mimpi yang kau dambakan. Maka, hubungan yang cocok
dengan seseorang itu adalah teman biasa. Jangan memaksa lebih, karena kau bisa
terluka.”
Mungkin,
quotes ini juga berguna untuk
hubungan yang lain, tak hanya dalam pencarian teman yang sebenar-benarnya
teman. Teman hidup barangkali. #eh
*ditulis
untuk #1minggu1cerita dengan tema “Kawan”.
*sumber
gambar: Google



ish, bahagia juga nggak harus saat nikah kan yaaa
BalasHapusselama kita bersyukur, maka kita dipastikan akan berbahagia
btw aku juga pengen segera nikah sih
tujuannya ya supaya agama saya genap, terpenuhi. salah satu tujuan dari menikah adalah menggenapkan separuh agama. jadinya enak gitu, beragama itu rasanya komplit. pas.
huahaha, di sini aku malah komenin yang tentang nikah.. :D
hehehe sorry sorry kak putri
Tulisan yg enak dibaca.. Mantap
BalasHapus~ ani 1m1c