Saya
suka makan. Dan saya susah move on. Jika
kedua dipadukan, maka akan menghasilkan orang macam saya; orang yang susah move on dari suatu makanan beserta
pembuatnya kalau sudah menemukan kelezatan. Hahaha.
Waktu
SMP, saya pernah disuguhi roti tawar yang disiram kuah santan setengah kental
oleh teman saat berkunjung ke rumahnya. Neneknya yang memasak roti itu. Sedap,
lezat, manis, semua menyatu dalam lidah. Saya kemudian menobatkannya sebagai
roti tawar siram santan terbaik dalam hidup. Sekali pun di rumah beberapa kali
coba membuatnya, tapi rasanya tak bisa selezat buatan nenek teman saya. Sampai
sekarang, saya kadang merasa rindu memakannya lagi. Sayangnya nenek teman saya
sudah tiada.
Saat
kuliah, lidah saya terpikat dengan pecel buatan Bu Galon (dipanggil Bu Galon
karena selain jualan nasi, beliau juga jualan galon). Saya menobatkannya
sebagai pecel terlezat. Tak bisa digantikan dengan pecel lain. Saat saya rindu
makan pecel, saya rela menyempatkan waktu ke luar kota, ke tempat Bu Galon. Ada
lagi, makanan lezat saat kuliah yang selalu membuat saya rindu, karena belum
menemukan tandingannya, yaitu Sambal Lamongan Gang Rambutan, Rames dan Garang
Asem Pak Kembar, Tempe Goreng Stick di King Puyuh, Sambal Ijo di Patemon, Nasi
Padang mas-mas ramah, Batagor dekat FIK, Gongso Gang Cempaka Sari, Kremes tempe
dan ayam Cempaka Sari, Bubur Kacang Ijo bu sexy, dan masih banyak lagi. Hahaha.
#ketahuansukamakanbanget.
Setelah
empat tahun merantau, saya kembali ke Kudus. Dan kuliner Kudus berkembang pesat
dibanding saat saya masih SMA. Bersama teman kerja dan murid les, saya mulai
menjelajahi kuliner-kuliner baru di Kudus. Pun sama, saya banyak menemukan
makanan lezat yang tak bisa tergantikan dengan buatan orang lain. Saya suka
Ramen di IKKI Resto, ramennya sudah disesuaikan dengan lidah orang Indonesia,
tidak Jepang banget. Itu yang membuat saya menyukainya. Siomay Mandiri yang
porsinya besar dan lezat, Geprek Keju, Chicken Steak di Kokako, Nasi Goreng Seafood
di Chinese Food, Nasi Rawut di Depan Perumahan Megawon, Nasi Bakar di
Angkringan Cekli, Kwetiau Goreng di WBB, Arem-arem di Hikmah, Galentin di
Waroeng Kafe 27, dan lain-lain. Hahaha.
Lama-lama,
saya sadar bahwa makanan bukan hanya perkara lidah. Tapi juga perkara rasa dan rindu
yang ada di baliknya. Ini merepotkan bagi saya yang susah move on sekaligus sering rindu dengan makanan-makanan lezat yang
pernah mampir di lidah. Kan repot, kalau saya kepalang rindu dan ingin
mencicipinya kembali, padahal temptanya sangat jauh. Hihihi.
*ditulis
untuk 1minggu1cerita
sumber gambar: google.


0 komentar:
Posting Komentar