Pagi
tadi, ponakan perempuan saya yang berumur tiga tahunan pamer sendal baru. Sendal
jepit berwarna pink dengan bulatan bulu di atas jepitnya. Sendal model ini
memang beberapa waktu lalu sangat hits. Ada juga untuk orang dewasa. Sorenya,
tetangga saya yang berumur empat tahunan, teman main ponakan, membeli sendal
yang sama. Keinginan anak itu untuk memiliki sesuatu yang sama dengan ponakan
saya begitu cepat terpenuhi. Berbeda dengan diri saya waktu kecil hingga
terbawa dewasa.
Saat
TK, saya ingin sendal bakiak modern seperti milik sepupu. Sendal itu sampai
saya bawa pulang dan perlihatkan kepada emak. Saya bilang, ingin sendal seperti
itu. Emak hanya mengiyakan, tapi tidak sekarang. Katanya nanti, kalau
gentengnya laku. Waktu itu orang tua saya berwirausaha membuat genteng. Sabar
menunggu, akhirnya saya pun dibelikan sendal itu. Agak lama, hingga boomingnya
sudah lewat. Haha.
Beranjak
kelas dua SD, teman-teman saya mempunyai sepeda. Mereka semua punya sepeda dan
bersepeda bersama di minggu pagi. Saya selalu tertinggal kegiatan itu karena
tak punya sepeda. Keinginan saya ikut bersepeda sangatlah besar. Karena Senin
paginya mereka selalu membicarakan keseruan bersepeda kemarin, dan saya tak
pernah mengerti apa yang mereka bicarakan. Mereka asyik bercerita, saya
mendengarkan seorang diri. Ketika saya menyampaikan keiginan punya sepeda,
orang tua saya pun meminta untuk menunggu. Satu tahun setelahnya, saya baru dibelikan
sepeda.
Berlanjut
ke SMP, saat semua teman-teman saya punya HP. Jaman dahulu, belum ada android,
jadi jangan dibayangkan HP canggih semacam BBM atau Android. Maksud saya, HP
sejenis Nokia, Soni, dan lain-lain. Teman-teman saya bertukar nomor HP kemudian
saling berkirim pesan. Saya tak bisa melakukannya dan di usia itu, saya mulai
mengekang keinginan yang perlu disampaikan pada orang tua. Tak saya ungkapkan
bahwa semua teman punya HP dan saya juga ingin punya. Karena saya tahu, jawaban
mereka pasti menyuruh menunggu. Seperti sebelum-sebelumnya. Lama-lama saya
sadar bahwa tak semua keinginan saya pantas diungkapkan pada mereka.
Saat
itu, saya pun menyiasatinya dengan berbagi HP bersama kakak perempuan. Nomor
kakak, saya akui sebagai milik sendiri juga. Sehingga teman-teman bisa
menghubungi saya dan sebaliknya. Dua tahun kemudian, barulah tabungan saya
mencukupi untuk membeli HP. Kejadian ini pun terulang saya SMA. Semua teman
saya punya motor, dan saya tidak. Saya tak pernah minta pada orang tua.
Hari
ini, saya menyadari bahwa keinginan saya ternyata selalu terlambat. Terlambat
terpenuhi. Tak seperti keinginan anak-anak lain. Teman-teman saya dulu, selalu
mendapatkan apa yang diinginkan. Hingga semua keterlambatan yang saya alami
membuat diri ini sungkan mengungkapkan keinginan pada orang tua. Saya lebih
suka membebani diri sendiri, ketika menginginkan sesuatu. Efeknya mungkin baik,
karena saya peka terhadap keadaan dan bisa mengendalikan setiap keinginan.
Tapi, ada pula buruknya, yaitu membebankan semuanya pada diri sendiri hingga
kadang merasa sendirian dan lelah sendirian untuk meraih keinginan-keinginan
itu.
*gambar diambil dari google
*ditulis untuk #1minggu1cerita


0 komentar:
Posting Komentar