Diri
sendiri adalah yang paling bertanggung jawab atas hidup masing-masing. Atas
semua kegagalan dan keberhasilan.
Dan,
saya tidak suka bertanggung jawab atas kegagalan. Hahaha!
Saya
rasa, semua orang juga tidak suka bertanggung jawab atas kegagalannya. Ada yang
mengatakan ‘siapa juga yang mau gagal’. Ini benar, tetapi seseorang mungkin
lupa tentang ‘keberhasilan mana yang mau diraih dengan mudah?’.
Dua
kali, saya gagal membuat adonan hottang (hotdog kentang)—sosis dibalut adonan
lengket dilumuri dengan kentang beku kemudian digoreng, makanan yang beberapa
waktu lalu sempat hits. Pertama, adonan
yang saya buat kurang pekat. Adonan yang sudah dilumur ke sosis akhirnya
bergelambir dan lepas. Kedua, adonannya tidak menempel, kurang lengket. Saya,
gagal. Kegagalan ini makin terasa menyakitkan karena sebelumnya saya memasak
cilok, cimol, untuk pertama kalinya dan berhasil. Mengambil jeda beberapa hari
tanpa kembali ke dapur, akhirnya saya coba membuatnya lagi. Percobaan terakhir,
saya bekali diri dengan informasi pembuatan hottang lebih banyak lagi. Dan,
saya berhasil.
Ini
terulang lagi, saat saya membuat brownies tanpa mixer dan telur. Tekstur bantet
saya dapatkan. Saya pun kapok dan enggan kembali ke dapur untuk memasak
brownies. Ada beberapa minggu saya singkirkan menu brownies dari daftar resep
yang ingin dicoba. Sekarang, mood saya mengatakan ingin coba buat brownies
lagi, lain kali.
Dari
sana, saya belajar bahwa kita memang butuh gagal agar tahu caranya berhasil. Kegagalan
membuat saya mempertanyakan: ‘apanya yang kurang?’. Saya harus mau belajar lagi
agar lain kali berhasil. Saya harus bertanggung jawab atas kegagalan (yang
disebabkan) oleh diri sendiri. Tapi, perasaan “bangkit lagi” semacam itu juga
tidak bisa didapat dengan mudah. Apalagi jika kegagalan yang diperoleh adalah
sebuah kegagalan besar, tidak hanya sebatas gagal di dapur. Belakangan, saya
mulai menyadari ini. Usai mengalami kegagalan yang menyakitkan.
Beberapa
bulan lalu, saya gagal dalam sebuah lomba novel. Rasanya saya sudah berjuang
pol-polan untuk naskah itu. Ujung-ujungnya masih gagal juga. Didera kesedihan
mendalam dan menyakitkan, saya enggan membuka naskah novel itu lagi. Mungkin
kalau saya punya versi cetaknya, sudah saya buat hancur berkeping-keping.
Saking kecewanya, butuh pelampiasan. Waktu itu, kata mutiara kegagalan adalah
keberhasilan yang tertunda seolah hanya omong kosong bagi saya. Persetan! Bodo
amat! Nasihat dari teman saya (seketika saat saya gagal)—yang bilang bahwa
naskah itu harus tetap dilanjut, paling tidak sebagai pertanggung jawaban moral
terhadap tokoh-tokoh yang sudah saya buat—hanya saya dengarkan saja. Tanpa saya
sangkutkan di hati dan pikiran.
Waktu
demi waktu saya lewati tanpa membuka folder naskah itu sama sekali. Bulan demi
bulan berlalu, tiba-tiba minggu kemarin saya tergerak untuk membukanya lagi.
Tak hanya sekedar membaca, saya mengeditnya kembali! Dan, saya kukuh untuk
melanjutkan naskah itu. Saya ingin melanjutkan naskah gagal itu. Well, nasihat
dari seorang teman berdegung dan membuat saya berpikir bahwa kisah tokoh-tokoh
saya harus selesai. Perasaan sayang terhadap tokoh-tokoh yang saya ciptakan
muncul kembali dan membuat lupa akan kegagalan.
Jeda.
Itulah yang saya pelajari dari kegagalan kemarin. Saya butuh jeda untuk kembali
bangkit dan melupakan kegagalan. Sempat ada rasa kesal pada diri sendiri,
karena tak kunjung bangkit dari kegagalan kemarin. Tak kunjung berani membuka
folder naskah gagal itu. Justru masih merasa ‘sakit’ saat melihat folder itu.
Tapi sekarang saya tahu bahwa semua hal butuh jeda. Butuh berhenti untuk lanjut
berjalan lagi (apalagi usai terjatuh).
Diri
sendiri memang harus bertanggung jawab atas semua kegagalan. Tapi jangan
salahkan diri sendiri jika memang belum siap. Barangkali, diri ini hanya butuh
jeda. Jeda untuk berani bangkit, mengatasi kegagalan. Hanya diri sendiri yang
tahu, berapa lama jeda yang dibutuhkan. Mungkin, kita hanya butuh secangkir
cokelat panas selama beberapa waktu sebelum melanjutkan perjalanan.
*ditulis
untuk #1minggu1cerita


0 komentar:
Posting Komentar