Mungkin
rasanya amat sangat terlambat membicarakan drama yang muncul beberapa tahun
lalu ini. Tapi, dua hari ini saya merasa sangat merindukan Choi Young Do (dan
Kim Woo Bin tentunya. Hihihi). Saya merasa perlu melampiaskan rasa rindu, sekaligus
mengabadikan perasaan pada Choi Young Do. Maka, saya membuat tulisan random
ini. #harapmaklum
Dulu
sekali, saat drama korea ‘The Heirs’ sedang melejit, saya tidak langsung
mengikutinya. Saya tipe orang yang tak bisa diulur-ulur oleh rasa penasaran.
Hahaha. Setelah seluruh episode rampung, saya baru menontonnya. Saat itu, saya
sering mendengar nama Kim Tan dan Cha Eun Sang, disebut oleh anak-anak kost
yang memang rutin mengikuti. Kisah cinta mereka begitu menyita perhatian banyak
orang. Tapi, saat menontonnya sendiri, saya justru sama sekali tidak tertarik dengan
percintaan mereka. Mungkin karena terlalu bosan dengan tema serupa, tentang seorang
perempuan dari keluarga biasa yang jatuh cinta pada laki-laki konglomerat. Perjuangan
cinta beda kasta di kehidupan modern sudah menjamur. Dan, saya tidak menemukan
apa yang spesial dari kisah mereka.
Dibanding
kisah cinta Kim Tan-Cha Eun Sang, saya lebih tertarik dengan karakter Choi
Young Do. Seorang laki-laki yang menyimpan banyak luka, kesepian dan tidak tahu
cara mengekspresikan perasaannya. Hidup dalam lingkungan konglomerat dengan
segala aturan permainan bisnis, membuat harinya sebagai seorang siswa SMA
berumur 18 tahun terlihat menyedihkan. Nilai saham, perjanjian, pernikahan
bisnis, etika kawan-lawan berbisnis, dan yang sejenisnya lebih banyak memenuhi
harinya daripada kesenangan sebagai remaja. Choi Young Do hanya ada waktu untuk
mengikuti apa yang Ayahnya perintahkan. Melakukan pembullian di sekolah menjadi
salah satu pelampiasannya. Orang-orang hanya melihat sisi jahatnya itu, dan
takut padanya.
Sisi
jahat ini pula yang sedari awal dilihat oleh Cha Eun Sang, cinta pertama Yong
Do. Pertama kali Yong Do melihat Eun Sang di sebuah minimarket. Yong Do sedang
makan mie instan, sementara Eun Sang tertidur di depannya begitu saja. Bagi
Yong Do, ini menarik dan sudah cukup membuatnya jatuh cinta. Sayangnya, apa
yang Yong Do lakukan untuk mendekatinya justru berbuah sebaliknya. Di mata Eun
Sang, dia tetaplah seorang laki-laki yang jahat dan perlu dijauhi. Hingga
akhir, Eun Sang menolaknya, tanpa membalas apa pun.
Dari
sisi lain saya melihat kebaikan Yong Do. Dia memang sering mengganggu Eun Sang
dengan ancaman karena tak bisa mengatakan secara langsung hal-hal semacam: ‘aku
ingin ngobrol denganmu’, ‘aku ingin kita saling menyapa’ atau ‘aku ingin makan
mie berdua denganmu sambil bercerita’. Tapi, yang Yong Do lakukan ketika Eun
Sang sedih atau mengalami kesulitan adalah membantunya. Walaupun perempuan itu
ketus padanya. Nah, Yong Do baik banget, kan? J
Lebih
dalam lagi, saya melihat Yong Do adalah orang yang paling menderita di drama
ini. Dia hidup tanpa seseorang yang bisa diajak berbicara, berbagi kesedihan-kesedihannya.
Jauh dari seorang ibu, menjalani hidupnya yang rumit seorang diri. Ayahnya akan
menikah dengan perempuan lain untuk urusan bisnis, Ayahnya dipenjara karena
kasus korupsi, Kim Tan yang seharusnya teman sejati justru sibuk dengan
urusannya sendiri, Cha Eun Sang menolaknya berkali-kali, hingga permintaan
maafnya ditolak oleh korban bullinya dulu. Tidak ada yang tahu apa yang
dirasakannya. Harapannya sederhana, makan mie bersama Cha Eun Sang—yang tak
pernah terwujud. Mungkin maksudnya, makan mie bersama orang yang disuka untuk
membuat suasana hatinya membaik, meringankan sedikit beban hidupnya, atau
bahkan hingga berbagi kesedihan.
Saya
tak tahu, kenapa begitu simpati pada tokoh Yong Do. Orang-orang mungkin
tertarik padanya karena diperankan oleh aktor yang sangat tampan. Tapi saya
tertarik dengan karakternya, keadaan batinnya. Di kehidupan nyata pun, saya
sering menaruh simpati pada orang-orang yang seperti ini. Cinta saya juga
pernah hinggap pada seorang yang punya luka tapi jarang membicarakan luka-luka
itu. Pernah ada yang bertanya kenapa, dan saya menjawab karena saya ingin
menemaninya. Tak tega melihatnya terluka sendirian. Padahal, saya kan juga
punya luka(?) Kalau saya ingin selalu menemani orang yang terluka, lalu siapa
yang akan membantu saya menyembuhkan luka(?) Heuheu.
Ah,
entahlah, saya juga tak paham. Sekiranya itulah perasaan saya pada Choi Young
Do. Sekalipun saya juga punya luka, tapi saya tetap ingin menemani Choi Yong Do
makan mie.
*ditulis
untuk #1minggu1cerita






0 komentar:
Posting Komentar