“Bunda, bunda, asilia mau
dibacain buku dongeng baru ini,” Asilia menarik lengan bundanya.
“Sebentar ya sayang, bunda masih ada
kerjaan,” jawab Bunda Nabila pendek.
Bunda Nabila masih saja memandang
layar komputernya. Tanpa sedikitpun menengok Asilia yang berdiri disampingnya
dan merengek minta dibacakan dongeng. Lesu sekali wajah bocah yang masih duduk
di TK nol kecil itu. Rambut kuncir kudanya bergoyang- goyang mengimbangi
langkah menuju kamar.
Ayah yang sedari tadi
memperhatikan dari ruang TV, menyusul Asilia. Mengantarkan putri kecilnya
tertidur pulas. Walaupun ayah tak pandai membaca dongeng seperti bunda.
“Bunda, ayah mau bicara,” kata
ayah pendek.
“Iya ayah, sebentar,” bunda masih
saja menatap layar laptop.
Tangan ayah langsung memegang tangan
bunda yang masih mengetik. Matanya menatap tajam mata bunda. Bunda menunduk,
tak berani menatap suaminya. Langsung saja dia mematikan komputer.
“Bunda, apa bunda tidak merasa ada
yang berubah dengan rumah ini sejak bunda bekerja jadi editor?”
“Ada apa yah?”
“Lihat Asilia. Dia tidak terurus.
Membacakan dongeng seperti biasanya saja bunda sudah tidak sempat.”
Kecut sekali perkataan ayah
ditelan oleh bunda. Matanya mulai berkaca- kaca. Mengingat Asilia yang sudah
seminggu ini merengek minta dibacakan dongeng. Namun bunda tak pernah sempat.
Hanya berkata iya, nanti saja. Hingga Asilia tertidur, bunda tak pernah
membacakan satu halaman cerita saja. Pun dengan Asilia yang dulu sering
dibuatkan bekal special. Sekarang bunda hanya memasak yang gampang, tidak
ribet, bahkan membeli di warung depan jika sudah tidak sempat.
“Bunda, ayah tahu, kamu sangat
mencintai dunia menulis. Tapi tidakkah bunda juga mencintai Asilia? Jika bunda
tidak bisa mengejar mimpi bunda sekarang, bunda masih bisa mengejarnya lain
waktu. Tapi jika bunda tidak bisa memberikan waktu terbaik untuk mendidik
akhlak Asilia sekarang, bunda tidak akan pernah bisa mengejarnya di lain waktu.
Karena ketika dia dewasa, dia akan terbentuk dari apa yang bunda tanamkan sejak
kecil. Jika sekarang bunda hanya sibuk bekerja, kapan bunda akan menanamkan
akhlak mulia pada Asilia?” Ayah menatap mata bunda yang sudah nanar.
“Tapi bunda juga ingin menulis
yah. Pekerjaan ini, sudah bunda idamkan sejak dahulu. Salah satu posisi penting
di penerbit.”
“Ayah tidak pernah melarang bunda
untuk menulis. Ayah juga tidak melarang bunda untuk berhenti menulis. Tapi
pikirkan semua ini dengan baik. Menulis dan Asilia,” ayah berkata datar.
Hati bunda sudah ditampar habis
oleh semua perkataan ayah malam ini. Ayah benar, Asilia lebih penting dari
semuanya. Tapi hatinya juga benar, dia tidak bisa berhenti menulis.
Malam mulai sunyi. Menyisakan
bunda yang masih sibuk dengan pikirannya. Bunda duduk disamping tempat tidur
putrinya. Memandang wajah Asilia yang polos sedang pulas. Rasanya dia sangat rindu
dengan mata Asilia yang mulai mengantuk ketika dongeng sampai di tengah.
Teringat mata Asilia yang perlahan- lahan menutup hingga lelap. Lucu sekali
melihatnya kantuk hingga tertidur pulas.
Sudah seminggu bunda tak melihat ekspresi
itu. Berkelebat pula seyum riang Asilia ketika melihat kotak makannya terisi
penuh dengan “nasi goreng senyum”, “roti bakar ceria” atau “gulung- gulung
lezat”. Semua menu special yang sengaja bunda ciptakan untuk bekal sekolah Asilia.
Kemudian Asilia akan pulang sekolah dengan senyum riang. Bercerita tentang
teman- temannya, gurunya, hingga hari ini belajar apa di sekolah. Sayang
sekali, bunda sudah absen seminggu melewatkan masa- masa indah itu. Saat Asilia
pulang, bunda masih berada di kantor redaksi. Menyerahkan setumpuk tugas
editing dan mengambil tugas lagi. Bunda pulang dengan banyak PR dari redaksi,
tanpa menghiraukan Asilia yang sudah menunggu untuk bercerita. Langsung saja
bunda tancap gas di depan komputer, membiarkan asilia bermain dengan Mbok Inah
yang sudah sepuh.
Air mata bunda mulai meleleh.
Betapa berharganya waktu bersama Asilia. Seminggu kurang intensif menjaga Asilia
saja, sudah ada kejadian putrinya membawa pulang boneka milik temannya. Kata Asilia
dia hanya pinjam, tapi tidak ijin. Bunda menyadari satu hal yang sangat
berharga. Bahwasannya akhlak anaknya tidak akan bisa ditukar dengan apapun. Dan
dialah sebagai seorang ibu yang mampu menanamkan akhlak mulia pada Asilia.
Segara bunda menyalakan komputer
kembali. Menuliskan surat pengunduran diri. Sudah benar malam ini keputusannya
melepaskan pekerjaan. Sebab dia tidak pernah bisa melepaskan anaknya.
*cerita ini saya tulis akhir Maret 2014 dan diikutkan lomba menulis sebuah penerbit indie--yang saya lupa namanya, hehehe. Cerita ini kemudian lolos dan dibukukan dalam sebuah antologi bertema wanita. Beberapa waktu setelahnya, saya mendapat pesan singkat dari seorang perempuan. Dia seorang wanita karir yang membaca cerita saya, kemudian ingin meluangkan waktunya lebih banyak untuk anaknya. Saat itu saya merasa bahagia, karena tulisan saya ternyata bisa membuat orang lain bergerak ke arah lebih baik. Sejak saat itu, saya percaya bahwa sebuah tulisan yang baik adalah tulisan yang bisa memberikan sumbangan pemikiran atau mempertanyakan banyak hal atau membuat seseorang bergerak ke arah lebih baik. Saya merasa perlu memposting tulisan ini karena sekranga sedang berada pada "down mood". #alesan
*sumber gambar: google

0 komentar:
Posting Komentar