Ada
beberapa hal (tentang hidup) yang menyita pikiran saya. Sesuatu yang membuat saya
memikirkannya begitu dalam, untuk menemukan jawabannya. Kadang, saya juga butuh
seseorang untuk bertukar pikiran. Dan seringnya, saya tak kunjung menemukan
jawabannya. Inilah yang saya sebut sebagai pertanyaan-pertanyaan hidup.
Sebenarnya,
kita ini sedang menjalani takdir atau hasil dari usaha?
Beberapa
waktu lalu, saya bertemu dengan teman lama, seorang laki-laki teman saat SD. Di
sebuah kios pasar dia bekerja. Dia menjadi pelayanan untuk toko sepatu
olahraga. Seingat saya, dulu sejak saya masuk kuliah, artinya usai lulus SMA
dia sudah bekerja di sana. Enam tahun berjalan, dan dia masih tetap di sana.
Kita
bertegur sapa sebentar, saling bertanya kabar, kemudian berlalu dengan senyum
yang saling terlempar. Agak jauh berjalan, teman yang menemani saya ke pasar,
bertanya tentang laki-laki tadi. Saya pun akhirnya bercerita sedikit tentang
dia.
Waktu
SD, dia selalu ikut kejuaraan sepak bola dan selalu memenangkannya. Dia
kebanggaan sekolah karena selalu mengharumkan nama baik sekolah. Setiap hari,
dia membawa bola ke sekolah. Berlatih saat istirahat, mematangkan kemahiran
kakinya. Sayangnya, hobi dan prestasinya harus terputus setelah itu. Karena ada
kebutuhan keluarga yang harus dia penuhi.
Teman
saya bilang, “pinter main bola, tapi sayangnya kurang beruntung.”
Kalimat
itu membuat saya mempertanyakan beberapa hal; apa nasibnya ditentukan oleh
keberuntungan? jika dia berusaha maksimal di masa lalu, tapi sekarang tetap
menjalani hidup sebagai penjaga toko sepatu, apa itu juga namanya ketidakberuntungan?
lalu, di mana peran usaha dalam hidup ini?
Pikiran
saya pun terus lanjut bertanya, jadi sebenarnya yang kita jalani sekarang
adalah takdir (atau bisa disebut keberuntungan dan ketidakberuntungan) yang sudah
tercatatkan? lalu, kapan usaha berbicara tentang jerih payah yang dilakukan?
Jodoh
sudah ditentukan atau diyakini?
Kalau
jodoh nggak ke mana.
Ungkapan
itu seolah jadi jurus pamungkas jika ada seorang yang berada di ujung selatan
dunia menikah dengan seorang di ujung utara dunia. Atau seorang yang sudah
bertahun-tahun tidak bertemu kemudian bertemu lagi dan menikah.
Seakan-akan
sudah ada yang menggerakkan seseorang menuju orang lain, untuk sebuah
pernikahan. Seolah-olah semuanya sudah diatur, si A akan menikah dengan B, lalu
si C dengan si D, dan seterusnya. Walau mereka terpisah di tempat yang amat
sangat jauh, atau di waktu yang amat sangat berbeda.
Tapi,
jaman sekarang, ketika perceraian bukan hal yang tabu lagi (saking banyaknya perceraian
yang dibeberkan media), bagaikan kacang rebus yang bisa dijumpai dengan mudah,
lantas apakah ungkapan itu masih sahih?
Jika
memang jodoh, harusnya tiada perceraian bukan? Apa “mekanisme”—yang dipercayai
itu—sengaja mengatur seseorang berjodoh dengan orang yang salah? Kalau ada yang
bilang ‘ternyata tidak jodoh’, lalu siapa yang harus disalahkan atas terjadinya
pernikahan yang sudah terlanjur itu?
Apa
benar jodoh benar-benar sudah ditentukan?
Atau
harus diyakini? Tapi, kalau diyakini tanpa didukung semesta, apa bisa?
sumber gambar: google.
*ditulis untuk #1minggu1cerita.
Btw, ini tema minggu lalu. Tapi, karena minggu lalu sibuk yang kemudian berujung sakit kepala, kuputuskan untuk bolos setor. Tulisan yang baru jadi satu paragraf ini kupending. Haha.


0 komentar:
Posting Komentar