Minggu, 29 September 2019

Dongeng, Atmosfer Baca dan Tumbuhnya Akar Literasi pada Anak

sumber gambar: dokumen pribadi

Rombongan Sunan Muria terhenti saat mendengar suara krubyuk... krubyuk... air di sawah. Hari hampir petang, adzan maghrib sebentar lagi terdengar. Sunan Muria mendengarkan dengan teliti dari mana suara itu berasal.
“Suara apa ini?” tanya Sunan Muria.
Salah seorang warga lalu menjawab, “kita sedang mencangkul sawah, Kanjeng Sunan.”
“Oh, sudah petang kok krubyak-krubyuk. Tak kira suara bulus.” Lalu, rombongan Sunan Muria melanjutkan perjalanannya.
Beberapa waktu berlalu, rombongan Sunan Muria kembali dari kunjungannnya melewati desa itu lagi. Saat singgah sebentar, beliau diberi tahu warga bahwa beberapa orang yang kemarin petang mencangkul di sawah telah berubah menjadi bulus. Apa yang Sunan Muria katakan menjadi kenyataan. Terkejut mendengarnya, Sunan Muria pun menancapkan tongkat di area persawahan itu. Keluarlah air dari dalam tanah.
“Ini sumber air untuk penghidupan para bulus itu,” ujar Sunan Muria.
Sekarang desa itu dinamai Desa Sumber dan setiap Syawal diadakan acara dinamai Bulusan. Berbagi berkah berupa makanan kepada para bulus yang ada di sana.
Di akhir dongeng, suara Bapak mulai berat karena kantuk menyerang sangat hebat. Saya masih ingat suara Bapak yang terseret-seret saat dongeng sebelum tidur itu akan berakhir. Saya masih ingat intonasi menggebu hingga lembut yang Bapak ucapkan. Saya masih ingat dongeng-dongeng yang Bapak bawakan; Ande-Ande Lumut, Jaka Tarub, Malin Kundang, Nabi Musa, Nabi Ibrahim, Fir’aun dan daftar panjang judul lainnya. Bagi saya dongeng telah menjadi bagian terpenting dalam hidup. Dongeng menjadi pemantik minat baca.

Dongeng
      sumber gambar: bobo

Imajinasi dan rasa ingin tahu. Utamanya, dua hal itu yang saya dapatkan atas dongeng. Lewat dongeng sebelum tidur yang Bapak tuturkan, daya imajinasi saya mulai berkelana. Saya dibawa ke dunia dongeng yang menarik dan seru. Hingga merasa “ketagihan” untuk berpetualang di dunia dongeng lainnya. Imajinasi saya haus cerita. Rasa ingin tahu mulai tumbuh dari sana. Setiap bertemu buku dongeng, saya selalu ingin tahu dunia apa yang akan diselami oleh imajinasi ini.
Di sekolah dasar, minat baca saya mencapai puncaknya. Saya melahap habis cerita-cerita yang ada di buku teks dalam waktu singkat. Setiap tahun ajaran baru, sekolah akan membagikan buku paket untuk dipinjam selama satu tahun. Sebangku hanya dipinjami satu buku karena keterbatasan jumlah. Jadi, saya harus berbagi buku dengan teman Kita harus bergiliran dalam membawa buku paket untuk belajar di rumah. Saya selalu meminta didahulukan membawa buku paket Bahasa Indonesia. Sepulang sekolah hingga malam, saya akan membaca teks cerita yang ada di sana. Sampai habis. Saya akan menuntaskannya dalam satu-dua hari saja.
Di depan sekolah, penjual mainan anak juga menyediakan buku dongeng kecil. Harganya seribu rupiah. Saya selalu menabung untuk bisa membelinya. Demi petualangan baru yang akan didapatkan dari dongeng tersebut. Jika sedang beruntung dapat uang saku lebih, saya akan menabung untuk membeli majalah anak. Majalah anak dengan dongeng Nirmala di dalamnya. Saya ingin tahu, apa yang akan dialami Nirmala minggu depan dan seterusnya. Saya tidak akan melewatkan kesempatan untuk membaca kisahnya. Saya akan berusaha agar bisa membacanya.
Jika melihat ke belakang, saat saya belum bisa membaca dan hanya bisa mendengar, maka dongeng sebelum tidur dari Bapak yang membantu membangkitkan minat baca ini. Andalusia, dkk (2017) menyatakan bahwa salah satu cara memperkenalkan anak pada kegiatan membaca dan menulis yang menyenangkan adalah dengan bercerita atau berdongeng. Dari dongeng, anak tidak hanya mendapatkan informasi, tetapi juga mendapatkan petualangan imajinatif. Maka, tidak ada kesan belajar secara terpaksa bagi si anak. Mereka akan nyaman dengan proses pengenalan aktivitas baca yang menyenangkan ini.
Fitri Wahyuni (2018) juga mengungkapkan bahwa dalam mendongeng terjadi proses mendapatkan kosakata baru, imajinasi baru, minat membaca dan daya simak anak. Aktivitas mendongeng akan membawa banyak dampak positif bagi pengenalan anak pada aksara. Maka, dongeng secara rutin bisa dijadikan sebagai salah satu sarana untuk memantik minat baca sejak kecil.

Atmosfer Baca
sumber gambar: dokumen pribadi

Baca. Baca. Baca. Itu adalah kegiatan yang hampir setiap hari Bapak ajarkan sejak kecil. Ketika membeli kacang rebus berbungkus koran, Bapak akan membuat sepotong koran sebagai bahan bacaan. Bapak yang akan membacakan tulisan pada sepotong koran itu. Jika sedang beruntung, maka ada satu artikel penuh yang akan dibaca. Kadang hanya sepotong artikel tidak utuh, tetapi Bapak tetap menggaris bawahi mana informasi yang bisa didapatkan. Seolah Bapak mengatakan “selalu ada informasi yang bisa didapatkan dari membaca”.
Dari bungkus shampoo, makanan, dan semua benda yang kita pegang setiap hari, Bapak selalu mengajarkan untuk membaca. Sepulang kerja, terkadang Bapak membawa sepotong tulisan dari koran yang ditemuinya. Lalu, Bapak memperlihatkan informasi dari tulisan tersebut. Kita menyimaknya bersama. Saat menonton televisi, Bapak akan membaca iklan baris yang berjalan di bawah layar. Ia membacanya keras, menunjukkan pada saya apa yang sedang dibaca. Tidak hanya itu, apa yang dilihat juga harus dibaca. Setiap naik transportasi umum, Bapak mengajarkan untuk membaca informasi yang ada di sekitar. Nama jalan, nama tempat, hingga petunjuk arah. Ia mengisyaratkan bahwa semuanya adalah tentang membaca.
Jika nilai ulangan saya bagus, maka Bapak akan memberikan hadiah; pergi ke toko buku. Berbonceng sepeda kayuh, Bapak mengajak saya ke toko buku terdekat. Saya dibuatnya terbiasa dikelilingi buku. Saya selalu betah dan rindu berada di tempat yang banyak buku. Lewat aktivitas membaca hal sederhana itu, Bapak seolah membangun atmosfer baca di rumah dan di mana pun berada. Atmosfer baca yang selalu melingkupi keseharian, sehingga menularkan keinginan membaca.
Irna menyebutkan ‘Pojok Baca’ dan berkunjung ke toko buku atau perpustakaan adalah dua cara untuk menumbuhkan minat baca anak. Pojok baca berkaitan dengan lingkungan yang mendukung anak untuk menumbuhkan minat baca. Sementara berkunjung ke toko buku atau perpustakaan termasuk penerapan model pembelajaran field trip atau berjalan-jalan. Kegiatan field trip yang menyenangkan bagi anak disisipi dengan makna literasi. Anak diajak mengunjungi buku agar membiasakan diri dengannya. Atmosfer baca dan toko buku, dua hal ini berhasil diterapkan Bapak. Ia telah melekatkan atmosfer baca pada dunia saya sampai sekarang. Di mana pun berada, saya akan ‘refleks’ membaca banyak hal.

Tumbuhnya akar literasi pada anak
Seorang anak yang memiliki minat membaca tinggi berasal dari keluarga yang memiliki kebiasaan membaca yang baik. Begitu tutur Andalusia, dkk, dan saya ikut mengamini. Jika orang tua ingin anaknya rajin membaca, maka mereka pun harus ikut rajin membaca. Begitu pula jika mereka ingin anak melek literasi, maka orang tua harus sadar literasi. Orang tua ikut terlibat dalam proses menumbuhkan cinta literasi pada diri anak. Dan, proses penumbuhan jiwa literasi ini perlu dimulai sejak dini.
Bak menanam kecambah, maka menumbuhkan akar literasi pada anak pun butuh proses panjang. Sejak anak belum bisa membaca, pengenalan pada bacaan bisa dilakukan dengan dongeng.Anak akan mulai mengenal kosa kata, bahasa dan cerita yang seru melalui dongeng. Anak akan terbiasa dengan aktivitas membaca lewat mendengar dongeng dari orang tua. Maka, orang tua bisa membacakan dongeng sebelum tidur secara rutin. Lewat dongeng, orang tua telah menanamkan benih baca pada diri anak.
Benih itu tidak lantas dibiarkan saja. Untuk tumbuh akar dan berkembang, sebuah benih butuh nutrisi. Atmosfer baca yang dibangun di rumah bisa menjadi salah satu nutrisi. Anak memiliki kecenderungan untuk meniru. Jika orang tua membaca, maka anak akan ikut membaca. Setiap hari atmosfer baca perlu dimunculkan di rumah. Orang tua bisa memberi contoh dengan membaca di sekitar anak dan melibatkan anak dalam proses membacanya. Maka, anak akan terbiasa dengan aktivitas membaca hingga menirunya.
Di era maraknya gawai sekarang, orang tua harus memunculkan atmosfer baca yang kuat di rumah. Agar anak lebih mengenal dan terbiasa dengan aktivitas membaca daripada menatap layar gawai. Ketika orang tua membiasakan diri dengan aktivitas membaca daripada bermain gawai, anak akan menirunya. Rutinitas membaca perlu digalakkan dengan kuat di rumah.
Bersama benih baca yang telah ditanam lewat dongeng, akar baca yang kuat akan tumbuh pada diri anak. Orang tua perlu menutrisinya lewat mencipta atmosfer baca di rumah setiap hari. Jika akar literasinya sudah tumbuh kokoh, maka membaca bukan sesuatu yang asing lagi bagi anak di sepanjang hidupnya.
#SahabatKeluarga #LiterasiKeluarga.

Referensi:
Andalusia, dkk. 2017. Literasi Dini dengan Teknik Bercerita.
Irna. Menumbuhkan Minat Baca Anak Usia Dini Melalui Implementasi Literasi Keluarga.
Wahyuni, Fitri. 2018. Menumbuhkan Kecerdasan Literasi Anak Usia Dini dengan Mendongeng.



0 komentar:

Posting Komentar