sumber gambar: dokumen pribadi
Rombongan Sunan Muria terhenti saat
mendengar suara krubyuk... krubyuk... air di sawah. Hari hampir petang, adzan maghrib
sebentar lagi terdengar. Sunan Muria mendengarkan dengan teliti dari mana suara
itu berasal.
“Suara apa ini?” tanya Sunan Muria.
Salah seorang warga lalu menjawab,
“kita sedang mencangkul sawah, Kanjeng Sunan.”
“Oh, sudah petang kok
krubyak-krubyuk. Tak kira suara bulus.” Lalu, rombongan Sunan Muria melanjutkan
perjalanannya.
Beberapa waktu berlalu, rombongan
Sunan Muria kembali dari kunjungannnya melewati desa itu lagi. Saat singgah
sebentar, beliau diberi tahu warga bahwa beberapa orang yang kemarin petang
mencangkul di sawah telah berubah menjadi bulus. Apa yang Sunan Muria katakan
menjadi kenyataan. Terkejut mendengarnya, Sunan Muria pun menancapkan tongkat
di area persawahan itu. Keluarlah air dari dalam tanah.
“Ini sumber air untuk penghidupan
para bulus itu,” ujar Sunan Muria.
Sekarang desa itu dinamai Desa
Sumber dan setiap Syawal diadakan acara dinamai Bulusan. Berbagi berkah berupa
makanan kepada para bulus yang ada di sana.
Di
akhir dongeng, suara Bapak mulai berat karena kantuk menyerang sangat hebat. Saya
masih ingat suara Bapak yang terseret-seret saat dongeng sebelum tidur itu akan
berakhir. Saya masih ingat intonasi menggebu hingga lembut yang Bapak ucapkan. Saya
masih ingat dongeng-dongeng yang Bapak bawakan; Ande-Ande Lumut, Jaka Tarub, Malin
Kundang, Nabi Musa, Nabi Ibrahim, Fir’aun dan daftar panjang judul lainnya. Bagi
saya dongeng telah menjadi bagian terpenting dalam hidup. Dongeng menjadi pemantik
minat baca.
Dongeng
sumber gambar: bobo
Imajinasi
dan rasa ingin tahu. Utamanya, dua hal itu yang saya dapatkan atas dongeng.
Lewat dongeng sebelum tidur yang Bapak tuturkan, daya imajinasi saya mulai
berkelana. Saya dibawa ke dunia dongeng yang menarik dan seru. Hingga merasa
“ketagihan” untuk berpetualang di dunia dongeng lainnya. Imajinasi saya haus
cerita. Rasa ingin tahu mulai tumbuh dari sana. Setiap bertemu buku dongeng,
saya selalu ingin tahu dunia apa yang akan diselami oleh imajinasi ini.
Di
sekolah dasar, minat baca saya mencapai puncaknya. Saya melahap habis cerita-cerita
yang ada di buku teks dalam waktu singkat. Setiap tahun ajaran baru, sekolah
akan membagikan buku paket untuk dipinjam selama satu tahun. Sebangku hanya
dipinjami satu buku karena keterbatasan jumlah. Jadi, saya harus berbagi buku dengan
teman Kita harus bergiliran dalam membawa buku paket untuk belajar di rumah. Saya
selalu meminta didahulukan membawa buku paket Bahasa Indonesia. Sepulang
sekolah hingga malam, saya akan membaca teks cerita yang ada di sana. Sampai
habis. Saya akan menuntaskannya dalam satu-dua hari saja.
Di
depan sekolah, penjual mainan anak juga menyediakan buku dongeng kecil.
Harganya seribu rupiah. Saya selalu menabung untuk bisa membelinya. Demi petualangan
baru yang akan didapatkan dari dongeng tersebut. Jika sedang beruntung dapat
uang saku lebih, saya akan menabung untuk membeli majalah anak. Majalah anak
dengan dongeng Nirmala di dalamnya. Saya ingin tahu, apa yang akan dialami
Nirmala minggu depan dan seterusnya. Saya tidak akan melewatkan kesempatan
untuk membaca kisahnya. Saya akan berusaha agar bisa membacanya.
Jika
melihat ke belakang, saat saya belum bisa membaca dan hanya bisa mendengar,
maka dongeng sebelum tidur dari Bapak yang membantu membangkitkan minat baca
ini. Andalusia, dkk (2017) menyatakan bahwa salah satu cara memperkenalkan anak
pada kegiatan membaca dan menulis yang menyenangkan adalah dengan bercerita
atau berdongeng. Dari dongeng, anak tidak hanya mendapatkan informasi, tetapi
juga mendapatkan petualangan imajinatif. Maka,
tidak ada kesan belajar secara terpaksa bagi si anak. Mereka akan nyaman dengan
proses pengenalan aktivitas baca yang menyenangkan ini.
Fitri
Wahyuni (2018) juga mengungkapkan bahwa dalam mendongeng terjadi proses
mendapatkan kosakata baru, imajinasi baru, minat membaca dan daya simak anak. Aktivitas
mendongeng akan membawa banyak dampak positif bagi pengenalan anak pada aksara.
Maka, dongeng secara rutin bisa dijadikan sebagai salah satu sarana untuk
memantik minat baca sejak kecil.
Atmosfer Baca
sumber gambar: dokumen pribadi
Baca.
Baca. Baca. Itu adalah kegiatan yang hampir setiap hari Bapak ajarkan sejak
kecil. Ketika membeli kacang rebus berbungkus koran, Bapak akan membuat sepotong
koran sebagai bahan bacaan. Bapak yang akan membacakan tulisan pada sepotong
koran itu. Jika sedang beruntung, maka ada satu artikel penuh yang akan dibaca.
Kadang hanya sepotong artikel tidak utuh, tetapi Bapak tetap menggaris bawahi
mana informasi yang bisa didapatkan. Seolah Bapak mengatakan “selalu ada
informasi yang bisa didapatkan dari membaca”.
Dari
bungkus shampoo, makanan, dan semua benda yang kita pegang setiap hari, Bapak
selalu mengajarkan untuk membaca. Sepulang kerja, terkadang Bapak membawa
sepotong tulisan dari koran yang ditemuinya. Lalu, Bapak memperlihatkan informasi
dari tulisan tersebut. Kita menyimaknya bersama. Saat menonton televisi, Bapak
akan membaca iklan baris yang berjalan di bawah layar. Ia membacanya keras,
menunjukkan pada saya apa yang sedang dibaca. Tidak hanya itu, apa yang dilihat
juga harus dibaca. Setiap naik transportasi umum, Bapak mengajarkan untuk
membaca informasi yang ada di sekitar. Nama jalan, nama tempat, hingga petunjuk
arah. Ia mengisyaratkan bahwa semuanya adalah tentang membaca.
Jika
nilai ulangan saya bagus, maka Bapak akan memberikan hadiah; pergi ke toko
buku. Berbonceng sepeda kayuh, Bapak mengajak saya ke toko buku terdekat. Saya
dibuatnya terbiasa dikelilingi buku. Saya selalu betah dan rindu berada di
tempat yang banyak buku. Lewat aktivitas membaca hal sederhana itu, Bapak
seolah membangun atmosfer baca di rumah dan di mana pun berada. Atmosfer baca
yang selalu melingkupi keseharian, sehingga menularkan keinginan membaca.
Irna
menyebutkan ‘Pojok Baca’ dan berkunjung ke toko buku atau perpustakaan adalah
dua cara untuk menumbuhkan minat baca anak. Pojok baca berkaitan dengan
lingkungan yang mendukung anak untuk menumbuhkan minat baca. Sementara
berkunjung ke toko buku atau perpustakaan termasuk penerapan model pembelajaran
field trip atau berjalan-jalan. Kegiatan
field trip yang menyenangkan bagi
anak disisipi dengan makna literasi. Anak diajak mengunjungi buku agar
membiasakan diri dengannya. Atmosfer baca dan toko buku, dua hal ini berhasil
diterapkan Bapak. Ia telah melekatkan atmosfer baca pada dunia saya sampai
sekarang. Di mana pun berada, saya akan ‘refleks’ membaca banyak hal.
Tumbuhnya akar literasi pada anak
Seorang
anak yang memiliki minat membaca tinggi berasal dari keluarga yang memiliki
kebiasaan membaca yang baik. Begitu tutur Andalusia, dkk, dan saya ikut
mengamini. Jika orang tua ingin anaknya rajin membaca, maka mereka pun harus ikut
rajin membaca. Begitu pula jika mereka ingin anak melek literasi, maka orang tua
harus sadar literasi. Orang tua ikut terlibat dalam proses menumbuhkan cinta
literasi pada diri anak. Dan, proses penumbuhan jiwa literasi ini perlu dimulai
sejak dini.
Bak
menanam kecambah, maka menumbuhkan akar literasi pada anak pun butuh proses
panjang. Sejak anak belum bisa membaca, pengenalan pada bacaan bisa dilakukan
dengan dongeng.Anak akan mulai mengenal kosa kata, bahasa dan cerita yang seru
melalui dongeng. Anak akan terbiasa dengan aktivitas membaca lewat mendengar
dongeng dari orang tua. Maka, orang tua bisa membacakan dongeng sebelum tidur
secara rutin. Lewat dongeng, orang tua telah menanamkan benih baca pada diri
anak.
Benih
itu tidak lantas dibiarkan saja. Untuk tumbuh akar dan berkembang, sebuah benih
butuh nutrisi. Atmosfer baca yang dibangun di rumah bisa menjadi salah satu
nutrisi. Anak memiliki kecenderungan untuk meniru. Jika orang tua membaca, maka
anak akan ikut membaca. Setiap hari atmosfer baca perlu dimunculkan di rumah. Orang
tua bisa memberi contoh dengan membaca di sekitar anak dan melibatkan anak
dalam proses membacanya. Maka, anak akan terbiasa dengan aktivitas membaca
hingga menirunya.
Di
era maraknya gawai sekarang, orang tua harus memunculkan atmosfer baca yang
kuat di rumah. Agar anak lebih mengenal dan terbiasa dengan aktivitas membaca
daripada menatap layar gawai. Ketika orang tua membiasakan diri dengan aktivitas
membaca daripada bermain gawai, anak akan menirunya. Rutinitas membaca perlu
digalakkan dengan kuat di rumah.
Bersama
benih baca yang telah ditanam lewat dongeng, akar baca yang kuat akan tumbuh
pada diri anak. Orang tua perlu menutrisinya lewat mencipta atmosfer baca di
rumah setiap hari. Jika akar literasinya sudah tumbuh kokoh, maka membaca bukan
sesuatu yang asing lagi bagi anak di sepanjang hidupnya.
#SahabatKeluarga
#LiterasiKeluarga.
Referensi:
Andalusia,
dkk. 2017. Literasi Dini dengan Teknik Bercerita.
Irna.
Menumbuhkan Minat Baca Anak Usia Dini Melalui Implementasi Literasi Keluarga.
Wahyuni,
Fitri. 2018. Menumbuhkan Kecerdasan Literasi Anak Usia Dini dengan Mendongeng.




0 komentar:
Posting Komentar