Diet? Boleh aja kok. Emm.. tapi kalau tujuan dietnya untuk
melebihkan diri sendiri dan melihat orang lain dengan kacamata ‘ketidaksempurnaan’,
itu sangat salah. Jika dalam hati ada sebutir debu niat yang berkata bahwa “saya
diet agar badan saya bagus, tidak seperti kamu”, maka sebenarnya bukan diet
yang dibutuhkan tetapi main yang jaaauuhhh. Hahahaha! Pemikiran terlalu sempit,
lalu membawa ke ujung simpulan salah kaprah kadang menyakiti orang lain. :’)
Body Shaming. Disebut
demikian, dan di sini saya sering mendengarnya bahkan pernah mengalami. Saya
pernah ada di satu titik tidak mau dibonceng orang lain. Karena beberapa ada
yang bilang teralu berat, gendut, dan lain-lain. Lebih baik saya menghindari
keadaan itu daripada hanya menerima kalimat sampah dari mereka.
Kadang, saya tanya “eh, aku berat, ya. Maaf, ya.” Saat
jawabannya “enggak, kenapa kamu minta maaf”. Duh, ingin kuajak hidup bersama
selamanya orang-orang macam itu. Tapi, ya, lebih banyak yang berkata
sebaliknya, sih. Hahaha.
Saya pun pernah ada di fase diet untuk orang lain. Pernah,
agar si dia suka sama saya karena tipenya cewek-cewek kurus kaki panjang macam
girlband koryah. Tapi pandangan saya berubah, saat melihat pasangan yang mereka
tidak memandang fisik sama sekali. Tidak masalah apapun bentukmu, asal sejiwa
ya sudah, asal satu frekuensi ya sudah, hal remeh-temeh bentuk fisik tidak akan
jadi soal. Dan, saya melihat kebahagiaan di antara mereka sangat berlimpah.
Pernah, agar orang lain memandang saya lebih baik daripada sebelumnya, agar
tidak di “body-shaming” lagi. Tetapi, lama-lama saya juga menyadari bahwa saya
tidak perlu dihargai oleh orang-orang yang memandang dalam satu sisi. Apalagi
hanya dari segi fisik. HAHA! Teman-teman dekat yang saya sayangi tidak pernah
seperti itu.
Dan, ya, terakhir. Sebagai pengingat saja. Bahwa Tuhan sudah
menciptakan manusia dalam sebaik bentuk. Semua orang, bagaimana pun wujudnya.
Jadi, hargai semuanya.
Diet? Boleh saja. Boleh banget. Untuk diri sendiri yang
lebih baik bukan untuk orang lain atau untuk kata sempurna dari orang lain.
Mari, menerima diri sendiri dengan bahagia. Lalu menemukan orang lain yang mau
menerima diri kita dengan bahagia pula. J
Putri.

0 komentar:
Posting Komentar