Selasa, 30 Juli 2019

Beranjak Dewasa


Kemarin, saat memakai lipstik mau berangkat kerja, tiba-tiba saya menangis. Tiga minggu sesak saja di dada, tanpa bisa ditata, akhirnya kemarin keluar begitu saja. Lepas begitu saja. Setelahnya, saya tahu akan ada perenungan-perenungan.  Banyak sekali yang berputar-putar di kepala. Pada akhirnya, di pagi hari yang sunyi tadi, saya memutuskan untuk beranjak dewasa. Keputusan, perbuatan dan apa pun itu dalam hidup saya, semuanya sedang beranjak dewasa.
Perasaan sensitif harus ditepis. Logika, pertimbangan dicampur intuisi harus diberi ruang lebih banyak. Sabarku tiada batas. Kasih sayangku tulus tiada batas pula. Tapi bukan berarti semuanya serta-merta bebas dan terlalu luas. Dalam beranjak dewasa, saya belajar untuk menyikapi semuanya dengan lebih lembut, sabar dan bijak. Dan, menjadi dewasa memang tidak pernah mudah.
Saya belajar dari masa lalu. Masa lalu untuk masa depan yang lebih dewasa. Saya tak ingin terjebak pada langkah yang sama di masa lalu. Karena di masa sekarang, saya sedang beranjak dewasa. Dan, saya tahu menjadi dewasa memang tidak pernah mudah.
Satu hal yang saya renungkan kemarin: masa lalu. Banyak hal yang saya dapatkan hari ini. Tak hanya soal hubungan, tapi juga kepribadian, impian dan karir. Semua tiba-tiba mencuat dalam pikiran dan menggusur semua pemikiran lama saya.
Secuil obrolan dengan Farrah kemarin.
“Kamu nikah dua tahun lagi. Paling tidak, untuk serius dengan laki-laki, kamu butuh dua tahun lagi. Dan itu dengan orang baru dalam hidupmu. Bukan dengan orang lama.”
“Kenapa harus dua tahun lagi? Nggak bisa tahun depan aja aku nikahnya?”
“Kenapa harus cepet-cepet sih, put?”
Awalnya agak kecewa dengan prediksi dua tahun lagi. Karena walaupun di dalam sini belum ada siapa-siapa, tapi saya berharap tahun depan. Tapinya lagi, tadi pagi saya belajar bahwa buat apa tahun depan? Ada banyak impian dan karir yang ingin saya kejar, belum tercapai sama sekali. Kenapa waktu saya harus terbuang sia-sia tanpa mendapatkan apa pun? Lalu, saya menyadari bahwa sebuah pernikahan membutuhkan kedewasaan yang sejati. Kenapa saya tidak belajar menjadi pribadi yang matang terlebih dahulu?
Saya pun meraih sebuah buku dna membuat sebuah ‘timeline karir’.
Apapun itu, saya berterima kasih atas diri ini di pagi tadi. Atas semua pemikiran dan perenungan. Atas keputusan untuk beranjak dewasa. Dan, ingat, menjadi dewasa tidak pernah mudah.


Jogja, 30 Juli 2019.
                                                   

0 komentar:

Posting Komentar