Selasa, 22 Mei 2018

Keputusan Besar



Dulu, saya selalu kagum dengan seseorang yang berani resign dari pekerjaannya karena merasa tak cocok, tak nyaman, atau merasa pekerjaan itu bukan ‘dia banget’ dan belum mendapat pekerjaan baru. Artinya, dia berani memutuskan untuk menganggur, di antara berjuta umat manusia yang tak ingin menjadi pengangguran. Saya menjadi bagian dari berjuta umat manusia itu. Takut menjadi pengangguran, tak ada penghasilan setiap bulan, dan yang paling membebani diri adalah tak bisa ikut menyokong kebutuhan keluarga. Ketakutan itu mengalahkan rasa tak nyaman selama hampir tiga tahun. Saya bertahan di tempat itu dengan segala ketidaknyamanan yang saya alami. Tapi, bulan kemarin saya membuat satu keputusan besar. Saya akhirnya memutuskan resign, menjemput status pengangguran.
Saya sudah terlalu lelah berada di sana, atas semua yang saya alami. Tahun pertama saya bekerja di sana, sama sekali tidak ada keinginan untuk resign. Tempat kerja saya dekat dengan rumah, saya yang tak ada motor bisa jalan kaki ke sana, gajinya lumayan, dan saya belum terlalu mengenal orang-orang yang ada di sana. Pertemanan saya dengan orang-orang yang berada di sana hanya sebatas lempar senyum dan sapa saat bertemu di mushalla atau jalan. Mereka tak menjenguk saat saya sakit lumayan lama, walau rumah saya dekat. (Sekarang saya baru menyadari jika hubungan sebatas itu ternyata yang terbaik.)
Tahun kedua, saya mulai menyesap sedikit “racun”. Perlakuan atasan saya kurang menyenangkan. Dia mengorek kehidupan pribadi saya melalui orang lain. Tentang keluarga, tentang perekonomian keluarga yang kurang, tentang kehidupan pribadi saya di rumah. Dari seorang tetangga yang hanya melihat saya dari luar saja, tanpa tahu tentang kehidupan saya yang sebenarnya. Apa yang atasan saya tahu, dibeberkan di hadapan rekan kerja serta siswa (ingat, saya kerja di bimbingan belajar), tanpa konfirmasi terlebih dahulu kepada saya tentang kebenarannya. Masalah perekonomian keluarga saya yang sebenarnya tak layak dibicarakan di depan umum, atau tentang suatu kabar tak benar. Dua-duanya diungkapkan dengan percaya diri olehnya di depan siswa. Ketika saya membela diri, menyangkal kabar yang memang tidak benar itu, justru atasan saya memberikan tanggapan tak percaya. Dia tak mempercayai pembelaan saya dan tetap membahasnya sesuai kebenaran versinya. Saat itu saya pulang dan menangis di rumah. Perasaan tidak dihargai mulai muncul dan setelahnya semakin membesar seiring dengan perlakuannya kepada saya. Kata resign selalu muncul dipikiran, tetapi orang tua saya bilang untuk bertahan sampai saya dapat kerjaan baru. Saya memutuskan bertahan saat itu.
Di lingkungan sosial pun sama. Pada awalnya saya merasa sosialisasi dengan teman-teman berjalan baik. Saya membantu mereka dan berbaur dengan mereka. Tapi, saya pun mulai merasakan “racun” di hubungan itu. Ada seseorang yang mengganggu sekali. Dia selalu mengomentari apa yang ada di hidup saya, bahkan selera saya, dan menghakimi bahwa itu salah. Saya hanya memakai baju yang lengannya sampai pergelangan tangan, dia bilang saya rewel, selera saya susah. Saya bilang ingin membeli sepatu boots wanita—yang bootsnya pendek—dan dia menertawakan saya. Katanya orang yang memakai jilbab lumayan panjang seperti saya tak akan pantas. Saya coba membela diri dengan memberi contoh bahwa teman saya juga memakai jilbab lebih panjang, tapi pantas memakainya. Dia bilang kalau saya yang pakai tak akan pantas, dan dia akan menertawakan saya jika jadi membelinya. Saya suka membaca dan beli buku. Dia bilang, untuk apa beli buku, itu tidak penting, lebih baik beli baju. Kalau buku sekali baca langsung selesai sementara baju akan terus digunakan. Saya sering sakit, dia menghakimi saya di depan siswa kalau badan saya lemah. Saya ini tidak bisa diajak travelling ke mana-mana, karena badannya rewel sekali. Kemudian pamer, dia sering olahraga dan mengkritik badan saya. Saya buktikan dengan travelling ke Malang dan kembali dengan sehat, tapi dia sama sekali tak meralat ucapannya. Saya memang hanya bekerja sebagai tutor les, di sore hari. Dia berkomentar, apa saya tak bosan kalau pagi hanya di rumah, tidak bekerja dan menganggur. Tanpa tahu apa yang saya lakukan saat di rumah, dia mengkritik kehidupan saya dan menganggap dia yang paling benar. Di sela-sela mengajar, saya pernah belajar toefl. Belajar melalui program gratis yang diadakan oleh orang baik. Saya memperkenalkan program itu, siapa tahu bermanfaat. Tapi, dia malah berkomentar bahwa dia tidak sempat belajar. Orang pengangguran macam saya-lah yang waktunya terlalu berlebih, yang cocok untuk program seperti itu. Tanpa mendengarkan penjelasan saya bahwa PNS/dosen/orang-orang sibuk banyak yang ikut program itu. Masih banyak lagi hal yang dia lakukan kepada saya. Dia selalu memberikan energi negative ke saya.
Dari semua perlakukan itu, perlakuannya yang terakhirlah yang membuat saya paling “sakit”. Sekaligus yang mendorong saya untuk resign. Sebelumnya, memang ada sesuatu yang rumit terjadi. Tapi, saya tak menganggapnya serius, tak menganggapnya sebagai masalah. Ternyata atasan saya menganggapnya sebagai suatu masalah. Atasan saya membeberkannya (seperti biasa) kepada rekan kerja, termasuk dia. Menurut sudut pandang atasan, saya salah dan sudah tak dipedulikan lagi. Tapi, itu tak pernah disampaikan ke saya, hanya disampaikan ke rekan kerja. Dia (rekan kerja tadi) membeberkannya kepada siswa saya dengan sudut pandangnya juga, yang menganggap saya sudah tak berharga di sana. Saya tahu dari siswa yang konfirmasi kebenaran masalah itu ke saya. Saya tak habis pikir dengan apa yang terjadi.
Saya berteman dengan dia hampir tiga tahun. Atas semua perlakuan negativenya, saya hanya diam, tak pernah melawan. Tapi, ketika ada hal seperti itu terjadi, dia malah bersikap yang sangat tak profesional. Dia menceritakan masalah itu kepada siswa saya, bukan mengkonfirmasi ke saya terlebih dahulu. Dan dia menceritakannya dengan ketus, seolah saya bukanlah orang yang pernah dikenalnya. Seharusnya jika memang masih menganggap sebagai teman, saat tahu ada masalah yang menjerat saya, perilaku yang benar adalah memberi tahu saya. Bukan malah mengumbar semuanya di belakang saya kepada banyak orang. Atasan saya juga tak seharusnya melakukan hal itu. Jika merasa saya ada salah, harusnya diingatkan. Bukan digunjingkan dengan rekan sesama kerja. Itu tidak menghargai saya. Malam itu, saya kembali menangis dan berkata pada orang tua bahwa saya sudah tak kuat di sana. Saya minta ijin ke mereka untuk resign. Restu mereka adalah yang utama. Mereka mengerti dan mengijinkannya.
Tak hanya sampai di situ, semua berlanjut ketika saya mengatakan resign ke atasan. Saya bilang sudah tak nyaman di sana dan ingin pindah ke tempat lain. Atasan saya memaksa untuk menceritakan semuanya dengan jujur. Saya mengatakan semuanya. Saya bilang jika mendengar banyak suara tentang atasan yang menganggap kerumitan kemarin sebagai masalah dan tak mempedulikan saya lagi. Dia menyangkalnya, tapi dia juga keceplosan, katanya “kalau tahu kamu akan membicarakan ini, orangnya tak suruh datang sekalian”. Penyangkalan demi penyangkalan dia ucapkan, tapi justru dari sudut pandang saya, itu penyangkalan yang lemah. Dia bilang sangat menghargai perasaan saya, sehingga tidak mengatakan apa pun yang akan menyakiti. Tidak pernah menegur saya, karena menghargai. Dia bilang, saya tidak kirimi nama anak-anak yang lolos SNMPTN karena yang lolos tak ada murid saya. Dia menghargai perasaan saya. Faktanya, sebagian siswa yang pernah saya ajar, lolos SNMPTN. Saya hanya diam.
Selanjutnya dia mengungkapkan banyak kalimat yang tujuannya agar saya bertahan. Tapi, lagi-lagi apa yang dia ucapkan justru melemahkan. Dia bilang, rumah saya yang paling jelek di antara semuanya, orang tua saya yang paling tidak mampu di antara semuanya, jadi gaji saya dari dia sangat diharapkan keluarga. Sebaiknya saya tidak resign karena keluarga kurang mampu. Dia bilang, saya akan dimasukkan untuk ngajar di sekolahnya jika dia punya kekuasaan. Atau jika saya melamar kerja di sekolahnya, dia akan memberi saya nilai lebih baik daripada teman-teman (yang juga bekerja di tempatnya). Semester depan saya akan diberi kelas paling banyak, gaji saya naik, dan jika dibanding dengan bimbel-bimbel lain, gaji di situ lebih banyak. Dia memuji saya terus-menerus. Katanya, saya bisa mengajar semua kalangan. Termasuk siswa dari sekolah favorit. Faktanya, dulu pernah ada sekelompok anak dari sekolah favorit yang tak cocok dengan saya dan minta ganti guru. Pada guru yang menggantikan itu, dia bilang bahwa saya jangan sampai mengajar sekolah favorit lagi. Lalu, tiba-tiba dia bilang tetangganya mulai menanyakan saya. Tetangganya ada yang ingin menjodohkan anaknya dengan salah satu pekerja di sana, dan saya masuk kandidat. Secara tidak langsung, dia mau bilang kalau saya tetap di sana, maka semua perkara (termasuk jodoh) akan dia jamin.
Dalam hati, saya geleng-geleng. Dia benar-benar tak mengenal saya. Saya bukan orang yang materialistis. Untuk saya, bekerja dapat gaji tak terlalu banyak bukan masalah asal saya nyaman dan bahagia di tempat kerja. Tentang jodoh, dia memandang saya salah kaprah. Saya memang orang yang pendiam, tapi bukan berarti bisa diartikan sebabagi ‘cewek polos’ yang akan manggut-manggut saja jika dijodohkan. Dia tak tahu jika saya punya banyak teman dan punya idealisme sendiri tentang jodoh. Saya membaca banyak buku, saya melihat dunia lebih luas, pemikiran saya tentang jodoh tak sesempit itu.
Dan yang terakhir, yang paling menyakitkan dari semuanya, dia menuduh saya akan menghancurkan usahanya jika saya keluar. Saya dituduh akan menyebar cerita ini kepada semua pekerja di sana yang menyebabkan mereka ingin keluar. Saya dinilai akan menghancurkan bimbel itu. Lalu, dia mengancam saya. Dia bilang, jika saya keluar dengan cara seperti itu, selamanya dia akan memberikan cap kepada saya sebagai orang terburuk yang pernah bekerja padanya. Setelah saya bilang bahwa saya tak akan buka mulut pada rekan-rekan pekerja, dia sedikit lega. Lagian, saya bukan orang rendahan semacam itu! Saya bukan orang yang suka membeberkan sana-sini. Ucapannya yang tak tertata pun berujung pada membeberkan aib semua rekan pekerja di sana, menjelekkan-jelekkan mereka dan mengunggulkan saya (mungkin di depan yang lain, akan terjadi sebaliknya, kan?).
Saya lelah hidup di lingkungan yang terlalu negative. Saya lelah menyesap terlalu banyak racun. Energi positif saya banyak terbuang. Saya ingin maju, mengerjakan ini dan itu, mencapai ini dan itu, tapi yang berkeliaran di telinga saya setiap hari adalah hal negative. Kepala saya dipenuhi oleh cerita-cerita negative mereka. Walau kelihatannya sepele, tapi itu benar-benar menguras energi positif. Saya ingin berada di lingkungan yang orang-orangnya saling menghargai, punya pandangan hidup yang tak sempit. Saya ingin dihargai dengan apa adanya saya, bukan diolok-olok karena selera/gaya hidup saya berbeda. Lingkungan seperti itu, akan membuat saya nyaman. Dan saya berpendapat bahwa lingkungan baik hanya dihuni oleh orang-orang baik, orang-orang berpandangan hidup luas, dan orang-orang yang dewasa dalam bersikap.

sumber gambar: google

0 komentar:

Posting Komentar