Minggu, 17 Juli 2016

#Renungan23: Perlunya Mengisi Semangat (Lagi)



Satu tahun lalu, sekitar bulan Juli tahun 2015, saya dinyatakan lulus kuliah. Mendapatkan Surat Keterangan Lulus (disingkat SKL) yang kemudian saya fotokopi sekitar 25 lembar untuk dimintakan legalisir. Kata salah seorang teman, SKL bisa digunakan untuk melamar kerja di sekolah sebagai guru; sesuai dengan bidang ilmu saya. Maka, saya sangat semangat untuk legalisir itu SKL sebanyak-banyaknya. Kemudian, saya mencari daftar nama sekolah yang ada di Kudus (tempat tinggal saya) beserta alamatnya. Saya tulis pada sebuah buku nama-nama sekolah itu—entah yang saya tahu atau yang masih asing. Saya mulai membuat surat lamaran kerja. Memasukkannya ke sekolah-sekolah tersebut. Menerima jawaban dari pihak sekolah yang kadang membuat saya sedikit tersenyum, tapi lebih banyak yang membuat saya mengernyitkan dahi atau kecewa. Menyoret nama-nama sekolah yang sudah saya datangi. Dan tak lupa merubah volume nada dering ponsel pada level tinggi alias yang paling keras. Biar apa? Biar saya mendengar setiap pesan atau telpon masuk. Barangkali salah satunya dari sekolah-sekolah itu. Walaupun di antara sekolah yang saya datangi itu, jelas menjawab bahwa waktu tunggu jawaban lamaran sekitar enam bulan sampai satu tahun. Ada juga yang menolak secara halus namun mantap. Tetapi, saya tetap menjaga diri untuk tidak jauh dari handphone. Sembari memasang wajah antusias anak kecil yang menunggu ibunya pulang belanja dengan membawakan sebungkus kue manis jajanan pasar.

Beberapa bulan menunggu, ternyata yang masuk hanyalah pesan-pesan dari operator (mbaknya jomblo sih. Heh!). Hingga saya mulai melupakan surat lamaran-lamaran itu. Menyibukkan diri di sore hari dengan menjadi guru les pada salah satu lembaga bimbingan belajar milik guru SMA dulu. Tanpa saya sadari, saya mulai mengubur keinginan untuk menjadi guru di sekolah. Melupakan keinginan saya untuk; mengamalkan apa yang pernah saya dapatkan di univertas pada jalur pendidikan formal, menganalisis kemampuan dan kepribadian siswa, menulis sesuatu tentang pembelajaran atau kelas atau karakter siswa atau masalah di kelas, dan mengikuti lomba karya tulis yang diperuntukkan khusus guru. Saya mulai melupakan semua itu. Dan menjalani hari hanya sebagai pegawai part time di atas.

Pagi yang longgar saya isi dengan membaca buku, novel, dan chatting. Secara tidak sengaja saya membaca kisah seseorang sukses (sayangnya saya lupa namanya) yang pernah bekerja apa saja di luar bidangnya. Saya pun mulai memikirkan ini. Saya bawa obrolan ini ke beberapa orang yang saya percayai. Muncullah sebuah pandangan, bahwa saya sangat boleh mencoba bekerja di luar background pendidikan. Yang terjadi kemudian adalah setiap pagi saya mencari lowongan kerja di internet, website perusahaan, website penyedia lowongan kerja dan koran. Dalam seminggu, saya bisa membeli tiga sampai empat koran. Lagi, saya mencatat lowongan-lowongan yang memungkinkan untuk kualifikasi diri sendiri. Membuat surat lamaran kerja, mengirimnya, dan duduk dekat handphone (lagi). Entah sudah berapa lamaran yang saya kirim, jelasnya lebih dari lima belas. Lagi lagi, tak ada satu pun yang menghubungi saya! Hebat sekali! Akhirnya, saya kembali menerima diri yang hanya pegawai part time di sebuah bimbingan belajar.

Beberapa bulan kemudian, secara tidak sengaja, saya kembali dekat dengan teman lama. Namanya Nurul. Teman SMA yang dulu pernah satu kelas di kelas 10. Dia baru lulus dan ternyata juga mengalami hal sama dengan saya. Bahkan, lamaran yang dia kirim banyaknya mencapai dua atau tiga kali lipat dari yang saya kirim. Hebatnya juga, tak satupun menghubunginya. Tetapi, setiap hari, dia masih saja mencari lowongan kerja di mana-mana, mengirim lamaran kerja lagi dan lagi, secara terus menerus. Tidak seperti saya yang kemudian menerima “takdir” sebagai guru les.

Kadang, saat ngobrol dengan Nurul, ada kalimat-kalimatnya yang asal ceplos, atau cerita-cerita pengalamannya selama mencari kerja, yang  membuat saya tergugah. Dia yang tahu saya masih nganggur pun, sering memberikan info-info lowongan kerja. Hingga pada suatu saat, saya merasa apa yang telah saya lakukan tidak ada apa-apanya dibanding Nurul. Semangat yang Nurul bawa jauh lebih besar dari semangat yang ada pada diri saya. Saya merasa tidak pantas untuk menyerah. Maka, saya dan Nurul beberapa minggu belakangan, mulai mencari pekerjaan bersama-sama.

Kebersamaanku dengan Nurul membuat kita saling tukar cerita. Ternyata, di balik semangat Nurul yang sangat baja itu, dia juga pernah mengalami apa yang saya alami. Pernah merasa tidak ingin mencoba sesuatu yang sudah dicoba dan menghasilkan kegagalan. Pernah merasa “menerima keadaan diri” yang hanya menganggur saja. Kemudian, saya bilang ke Nurul, kalau kita harus tetap bersama selama kita menganggur. Maksudnya, menjaga diri kita tetap berada di lingkaran orang-orang yang bernasib sama. Karena yang namanya semangat itu fluktuatif. Naik-turun, ketika menemukan hal-hal tertentu yang berefek pada kondisi diri. Jika kita bersama orang lain, paling tidak, ada yang mengingatkan untuk menaikkan semangat lagi ketika bertemu situasi melemahkan.



Saya pun akhirnya sangat menyadari bahwa semangat, sama seperti baterai yang pelu diisi ulang pada saatnya tiba. Saat saya sudah merasa “pasrah” dengan apa yang saya hadapi. Saat saya sudah tidak ingin berusaha lagi untuk sesuatu yang saya inginkan. Saat saya merasa stagnan di keadaan sekarang dan mengganggap itu sebagai nasib. Dan saat saya mengerjakan semua hal hanya sebagai rutinitas, tanpa gairah, monoton. Saat tanda-tanda itu sudah muncul, saya mulai menyadari bahwa semangat dalam diri saya perlu di top up. Saya pun mulai mengingat apa saja yang secara tidak sengaja saya lakukan agar semangat kembali terpacu. Ternyata, saya biasanya melakukan hal-hal yang sederhana, seperti: mengulik perjalanan mimpi seseorang yang berhasil; mengingat berulang-ulang apa yang saya inginkan, apa yang saya impikan, dan apa yang sudah pernah saya lakukan untuk meraihnya (biasanya saya mencatat impian-impian saya, mencatat apa-apa yang sudah pernah saya lakukan untuk meraihnya, jadi kalau mau mengingat tinggal dibuka saja buku catatannya. Hhee); mendengarkan lagu-lagu dengan lirik semangat; menonton film dengan tema tertentu; jalan kaki kemudian melihat apa yang ada disekitar, melihat nenek-nenek yang menjajakkan keripik pisang di jalan, melihat anak-anak kecil yang tertawa bersama saat lampu hijau menyala dan bersamaan mengetuk pintu mobil sembari bernyanyi saat lampu merah menyala; melihat kesuksesan role model atau tokoh-tokoh favorit; dan bertukar pikiran dengan orang lain. Pokoknya, sampai saya merasa ingin berjuang kembali.

Mungkin ini akan berbeda pada masing-masing orang. Cara-cara yang orang lain lakukan untuk kembali menemukan rasa semangatnya mungkin berbeda dengan caraku. Itu boleh-boleh saja, tidak masalah. Setiap orang bebas melakukan apa saja yang bisa membuatnya semangat lagi (asal positif, ya!). Karena yang ingin saya garis bawahi di sini bukanlah adaptasi cara saya mengumpulkan semangat kembali. Tetapi, mengingatkan (kepada diri saya sendiri utamanya) bahwa yang namanya semangat itu bisa naik-turun. Maka, saat sedang turun, semangat perlu diisi lagi dan lagi. Bukan berpasrah pada satu keadaan.

Putri Lestari

0 komentar:

Posting Komentar