Sabtu, 23 Juli 2016

#Renungan23: Membuang yang Tidak Perlu




Suatu ketika, seorang teman bertanya kepada saya kapan kita pernah makan es krim bersama di depan indomaret. Kejadian makan es krim tanpa sengaja ini sudah berlalu beberapa bulan. Saya coba mengingatnya, tetapi gagal menemukan tanggal atau hari tepatnya. Lalu, saya mengambil sebuah kotak di meja kamar. Kotak itu berisi semua nota pembelian yang saya lakukan tahun ini. Saya mencari nota yang memuat nama dua es krim itu dan sebotol air mineral di antara banyak nota lainnya. Teman saya tidak membantu, tetapi malah melongo. Dia menepuk pundak saya keras dan bilang kalau saya gila. Bisa-bisanya saya mengumpulkan semua nota itu. Mengumpulkan sesuatu yang teman saya sebut sampah.

Mungkin tidak hanya teman saya yang menganggap nota-nota sampah. Sebagian besar orang juga pasti berpikir begitu. Buktinya, banyak nota yang ada di tempat sampah minimarket. Buat saya, nota pembelian ini mempunyai arti lebih dari sekedar sampah. Biasanya, setelah melakukan transaksi saya memang langsung memasukkan nota ke dompet. Begitu sampai di kost (saat masih jadi mahasiswa dulu) atau rumah, saya akan mengeceknya. Mengecek nota tersebut dan mencocokannya dengan barang-barang yang saya beli. Jika semua sudah saya anggap beres, saya letakkan nota itu ke sebuah kotak tadi. Saya selalu melakukan ini untuk pembelian barang-barang besar—misalnya buku, tas, sendal, sepatu, baju, barang elektronik, perabot, belanja bulanan dan lainnya—maupun barang kecil seperti air mineral atau makanan ringan. Saya juga menyimpan nota ketika makan di luar (di tempat makan gitu loh, kan agak mahal biasanya).

Saya melakukannya karena berpikir bahwa mungkin saja suatu saat nanti saya masih membutuhkan nota-nota iu. Mungkin ketika teman saya bertanya tentang harga sepatu. Selain itu, saya memang berniat khusus mengumpulkan nota untuk refleksi. Ada kalanya saya membuka lagi nota-nota itu. Kemudian melihat betapa borosnya diri saya minggu lalu, bulan lalu atau tahun lalu. Sehingga saya perlu merubah kebiasaan belanja yang terlalu boros itu. Tetapi, ada kalanya nota-nota itu hanya menjadi “sampah” di atas meja yang tak pernah saya sentuh karena sibuk atau malas. Rasanya apa yang dikatakan teman saya itu benar. Saya hanya mengumpulkan sampah!

Ternyata, ada banyak “sampah” yang saya timbun. Tidak hanya nota-nota itu. Pulpen-pulpen yang isinya sudah habis (dengan niat ingin menjadikan tempat pulpen yang warna-warni itu sebagai hiasan. Tapi ya, nggak pernah kejadian), bros-bros yang penitinya sudah copot (awalnya mau dilem lagi), simcard kuota yang hanya sekali pakai, kertas-kertas setelah skripsi (ini sampai dua kardus, niatnya juga mau dibuat kerajinan tangan tapi belum juga kesampaian), dan barang-barang lainnya. Memang niat saya menyimpan barang-barang ini awalnya baik. Tetapi, toh ujungnya saya tidak pernah melakukan rencanan-rencana indah dengan barang-barang itu. Akhirnya barang-barang itu hanya memenuhi kamar atau ruangan-ruangan di rumah. Tidak sempat jadi “sesuatu”. Hanya menumpuk begitu saja namun masih ada rasa sayang untuk membuangnya.

Hingga saya merasa kamar atau ruangan-ruangan di rumah dipenuhi barang-barang “sampah”. Sesak, enggak enak dilihat dan enggak enak ditempati. Saya mulai tidak nyaman dengan keadaan ini. Maka, saya mulai membuang beberapa barang yang saya simpan itu. Awalnya memang masih ada rasanya sayang. Ada rasa semacam “gimana kalau suatu saat nanti aku masih butuh ini?”. Tapi rasa semacam itu harus dilawan. Beberapa waktu setelah membuang barang-barang itu, rasa merasa baik-baik saja. Saya tidak merasa membutuhkan barang-barang itu lagi. Keputusan saya membuang barang-barang itu sudah tepat. Saya pun mulai menyortir barang lainnya. Melakukannya lagi dan lagi. Kamar saya menjadi lebih baik, ruangan-ruangan di rumah juga lebih lega dan yang paling penting perasaan saya baik-baik saja. Maksudnya, saya tidak merasa menyesal telah membuangnya dan tidak merasa masih membutuhkannya. Kalaupun ada beberapa barang yang dikemudian hari ternyata masih saya butuhkan, toh saya lebih memilih beli yang baru. Karena tentu saja yang saya buang itu sudah usang.

Dari membuang barang-barang “sampah” itu, saya juga merasa ada hal dalam hidup yang perlu diperlakukan sama. Hal yang selama ini masih saya simpan (mungkin juga kamu), entah di hati atau pikiran atau bahkan hidup, yang sejatinya itu tidak berguna. Kenangan-kenangan yang hanya menyesakkan dada ketika diingat, mungkin saya masih menyimpannya di hati karena melalui kenangan itu bersama orang yang pernah spesial; sifat negativ yang merugikan, seperti sifat manja yang pernah dipunya ketika kecil tetapi menjadi tidak berguna saat bertambah usia; prasangka-prasangka buruk pada diri sendiri maupun orang lain; hingga kebiasaan-kebiasaan kecil yang tidak berguna (misalnya saja: kebiasaan begadang yang dulu sering saya lakukan saat masih kuliah, kebiasaan membuang waktu dengan ngerumpi, sering menunda pekerjaan, terlalu sering malas-malasan, dan lain-lain).





Sesekali kita perlu melihat ulang, apakah yang kita simpan di hati dan pikiran, yang kita jalani dalam hidup, benar-benar berguna atau tidak? Jangan-jangan kita melakukannya hanya karena terbiasa melakukannya, sampai jadi rutinitas, rasanya ada yang kurang jika tidak dilakukan. Tetapi ternyata semua itu tidak ada gunanya.



Rajinlah membuang yang tidak perlu dalam hidup, agar hidup terasa lebih ringan.Rajinlah membuang yang tidak perlu dalam hati dan pikiran, agar jiwa terasa lebih tenteram.


Putri Lestari



*sumber gambar: [1] , [2] , [3]






0 komentar:

Posting Komentar