Suatu
ketika, seorang teman bertanya kepada saya kapan kita pernah makan es krim
bersama di depan indomaret. Kejadian makan es krim tanpa sengaja ini sudah
berlalu beberapa bulan. Saya coba mengingatnya, tetapi gagal menemukan tanggal
atau hari tepatnya. Lalu, saya mengambil sebuah kotak di meja kamar. Kotak itu
berisi semua nota pembelian yang saya lakukan tahun ini. Saya mencari nota yang
memuat nama dua es krim itu dan sebotol air mineral di antara banyak nota
lainnya. Teman saya tidak membantu, tetapi malah melongo. Dia menepuk pundak
saya keras dan bilang kalau saya gila. Bisa-bisanya saya mengumpulkan semua
nota itu. Mengumpulkan sesuatu yang teman saya sebut sampah.
Mungkin
tidak hanya teman saya yang menganggap nota-nota sampah. Sebagian besar orang
juga pasti berpikir begitu. Buktinya, banyak nota yang ada di tempat sampah
minimarket. Buat saya, nota pembelian ini mempunyai arti lebih dari sekedar
sampah. Biasanya, setelah melakukan transaksi saya memang langsung memasukkan
nota ke dompet. Begitu sampai di kost (saat masih jadi mahasiswa dulu) atau
rumah, saya akan mengeceknya. Mengecek nota tersebut dan mencocokannya dengan
barang-barang yang saya beli. Jika semua sudah saya anggap beres, saya letakkan
nota itu ke sebuah kotak tadi. Saya selalu melakukan ini untuk pembelian barang-barang
besar—misalnya buku, tas, sendal, sepatu, baju, barang elektronik, perabot, belanja
bulanan dan lainnya—maupun barang kecil seperti air mineral atau makanan
ringan. Saya juga menyimpan nota ketika makan di luar (di tempat makan gitu
loh, kan agak mahal biasanya).
Saya
melakukannya karena berpikir bahwa mungkin saja suatu saat nanti saya masih
membutuhkan nota-nota iu. Mungkin ketika teman saya bertanya tentang harga
sepatu. Selain itu, saya memang berniat khusus mengumpulkan nota untuk refleksi.
Ada kalanya saya membuka lagi nota-nota itu. Kemudian melihat betapa borosnya
diri saya minggu lalu, bulan lalu atau tahun lalu. Sehingga saya perlu merubah
kebiasaan belanja yang terlalu boros itu. Tetapi, ada kalanya nota-nota itu
hanya menjadi “sampah” di atas meja yang tak pernah saya sentuh karena sibuk
atau malas. Rasanya apa yang dikatakan teman saya itu benar. Saya hanya
mengumpulkan sampah!
Ternyata,
ada banyak “sampah” yang saya timbun. Tidak hanya nota-nota itu. Pulpen-pulpen
yang isinya sudah habis (dengan niat ingin menjadikan tempat pulpen yang
warna-warni itu sebagai hiasan. Tapi ya, nggak pernah kejadian), bros-bros yang
penitinya sudah copot (awalnya mau dilem lagi), simcard kuota yang hanya sekali pakai, kertas-kertas setelah
skripsi (ini sampai dua kardus, niatnya juga mau dibuat kerajinan tangan tapi
belum juga kesampaian), dan barang-barang lainnya. Memang niat saya menyimpan
barang-barang ini awalnya baik. Tetapi, toh ujungnya saya tidak pernah
melakukan rencanan-rencana indah dengan barang-barang itu. Akhirnya barang-barang
itu hanya memenuhi kamar atau ruangan-ruangan di rumah. Tidak sempat jadi
“sesuatu”. Hanya menumpuk begitu saja namun masih ada rasa sayang untuk
membuangnya.
Hingga
saya merasa kamar atau ruangan-ruangan di rumah dipenuhi barang-barang “sampah”.
Sesak, enggak enak dilihat dan enggak enak ditempati. Saya mulai tidak nyaman
dengan keadaan ini. Maka, saya mulai membuang beberapa barang yang saya simpan
itu. Awalnya memang masih ada rasanya sayang. Ada rasa semacam “gimana kalau
suatu saat nanti aku masih butuh ini?”. Tapi rasa semacam itu harus dilawan.
Beberapa waktu setelah membuang barang-barang itu, rasa merasa baik-baik saja.
Saya tidak merasa membutuhkan barang-barang itu lagi. Keputusan saya membuang
barang-barang itu sudah tepat. Saya pun mulai menyortir barang lainnya.
Melakukannya lagi dan lagi. Kamar saya menjadi lebih baik, ruangan-ruangan di
rumah juga lebih lega dan yang paling penting perasaan saya baik-baik saja.
Maksudnya, saya tidak merasa menyesal telah membuangnya dan tidak merasa masih
membutuhkannya. Kalaupun ada beberapa barang yang dikemudian hari ternyata
masih saya butuhkan, toh saya lebih memilih beli yang baru. Karena tentu saja
yang saya buang itu sudah usang.
Dari
membuang barang-barang “sampah” itu, saya juga merasa ada hal dalam hidup yang
perlu diperlakukan sama. Hal yang selama ini masih saya simpan (mungkin juga
kamu), entah di hati atau pikiran atau bahkan hidup, yang sejatinya itu tidak
berguna. Kenangan-kenangan yang hanya menyesakkan dada ketika diingat, mungkin
saya masih menyimpannya di hati karena melalui kenangan itu bersama orang yang
pernah spesial; sifat negativ yang merugikan, seperti sifat manja yang pernah
dipunya ketika kecil tetapi menjadi tidak berguna saat bertambah usia; prasangka-prasangka
buruk pada diri sendiri maupun orang lain; hingga kebiasaan-kebiasaan kecil
yang tidak berguna (misalnya saja: kebiasaan begadang yang dulu sering saya
lakukan saat masih kuliah, kebiasaan membuang waktu dengan ngerumpi, sering
menunda pekerjaan, terlalu sering malas-malasan, dan lain-lain).
Sesekali
kita perlu melihat ulang, apakah yang kita simpan di hati dan pikiran, yang
kita jalani dalam hidup, benar-benar berguna atau tidak? Jangan-jangan kita
melakukannya hanya karena terbiasa melakukannya, sampai jadi rutinitas, rasanya
ada yang kurang jika tidak dilakukan. Tetapi ternyata semua itu tidak ada
gunanya.
Rajinlah membuang yang tidak perlu dalam hidup, agar hidup terasa lebih ringan.Rajinlah membuang yang tidak perlu dalam hati dan pikiran, agar jiwa terasa lebih tenteram.
Putri
Lestari
*sumber gambar: [1] , [2] , [3]




0 komentar:
Posting Komentar