by: Dhamala Shobita
Sebuah
bangunan tempat bernaung belum tentu bisa disebut rumah. Perjalanan Ben, Dila
dan Lila dalam menemukan “rumah” mungkin akan membuatmu bertemu makna rumah
yang lain.
Lila
mencari Dila. Ben mencari Dila. Dila mencari “kebahagiaan”.
Dila
dan Lila bersaudara. Mereka terpisah sejak kecil karena perceraian. Dila memilih
hidup bersama ayahnya, sementara Lila menemani ibunya. Bertahun-tahun mereka
hidup pada dunia masing-masing. Dunia yang berbeda. Dan Lila punya keinginan kuat
untuk bertemu kakaknya lagi. Sayangnya, karena sesuatu hal, Lila tidak bisa mencari
kakaknya sendiri. Dia meminta Ben—seorang laki-laki yang belum lama dikenalnya
dan disukainya—untuk mencari Dila.
Ben
mewujudkan keinginan Lila. Dia akan berangkat mencari Dila. Satu-satunya
pentunjuk yang dia punya hanyalah catatan (dalam novel ini disebut jurnal) milik
Lila. Berisi perjalanan yang Lila lakukan untuk mencari Dila dan beberapa cerita
tentang Dila. Ben mengunjungi tempat-tempat yang Lila ceritakan dalam jurnal
tersebut.
Perjalanan
itu membuat Ben bertemu seorang perempuan bernama Ris secara tidak sengaja. Mereka
sering bertemu di tempat yang Ben kunjungi. Sesekali bertemu dan mengobrol,
kemudian saling berpisah. Tetapi, takdir mempertemukan mereka kembali saat Ben
pergi ke Bukit Doa. Di sana, Ben mendapat telepon dari rumah. Mengabarkan bahwa
ayahnya—lebih tepatnya ayah bilogis yang selalu dibencinya—sudah melewati masa kritisnya.
Ben segera pergi dan meninggalkan jurnal itu bersama Ris. Misteri pun
terpecahkan.
Itulah
sedikit ringkasan ceritanya. Disamping cerita utama pencarian Dila, ada juga
kisah tentang keluarga Ben yang menarik untuk disimak. Hubungan seorang anak
laki-laki dengan ayahnya menjadi sorotan utama. Jika beralih pada kisah falshback keluarga Dila dan Lila, maka
sisi rumah yang gelap akan terlihat. Saya menikmati setiap bagian dari novel
yang bercerita tentang keluarga.
Dari
keseluruhan isi buku, saya cukup menikmatinya. Merasa terhibur, tercerahkan
tanpa merasa digurui dan merasa senang setelah membacanya. Karena saya bisa
memaknai kata rumah lebih luas lagi. Lebih menghargai kata rumah. Tetapi, ada
beberapa bagian yang “cacat” di mata saya, dan bagian yang kurang saya sukai.
Di
halaman sepuluh, paragraf terakhir, sebuah kalimat menyebutkan bahwa Ben
bermata kebiruan.
Matanya kebiruan,
tulang pipinya menonjol.
Lila. Halaman 10.
Tetapi,
di bagian lain, disebutkan bahwa Ben mempunyai pupil mata berwarna cokelat.
Ben menggelengkan
kepalanya tidak percaya. Sepanjang kedua matanya yang berpupil cokelat itu...
Halaman 54.
Memang
hal ini sepele. Tetapi, ketika saya menyadarinya, saya merasa terganggu. Surat
Lila yang terkahir juga membuat saya agak mengernyitkan dahi. Di akhir
suratnya, Lila menyatakan sebuah kejujuran bahwa selama ini dia membohongi Ben.
Selama ini dia mengaku sebagai Dila—gadis yang sewaktu kecil dikagumi oleh Ben
karena “air”. Saya rasa, di halaman awal hanya disebutkan sebuah percakapan
antara Lila dan Ben ketika mengenang sebuah kenangan seumur jagung. Lila
mengaku bahwa gadis kecil yang diselamatkan Ben waktu tenggelam di laut adalah
dia. Sebelumnya, Ben dengan jelas menyatakan bahwa dia mengagumi seorang gadis
kecil yang menari bersama ombak dengan baju renang kuning bunga matahari. Ben
juga mengamati saat gadis pecinta air itu mendekati ibu dan saudara
perempuannya. Jika wajah mereka tidak sama persis dan pakaian renang yang
mereka gunakan tidak sama, saya rasa Ben ingatan Ben tentang gadis itu tidak
akan tertukar. Saya rasa, Ben tahu siapa yang tenggelam dan siapa yang
mencintai air. Ini bagian paling membuat saya pusing. Saya harus mengulang baca
beberapa halaman depan, menyusuri dengan cepat bagian mana yang menyatakan
bahwa Lila menipu Ben. Kemudian kembali lagi ke surat terakhir Lila, sembari
mencocokannya. Sayangnya, saya tidak menemukan apa pun untuk menjawab
kebingungan itu. Yah, semoga saja saya yang melewatkan bagian itu. Karena novel
ini terlalu indah untuk dicoreng dengan “cacat” tersebut.
Selanjutnya,
ada bagian yang kurang saya suka. Ehem, ini hanya soal selera saja. Ending
novel ini menurut saya terlalu drama. Terlalu telenovela. Hahaha! Membayangkan
Ben berlari ke sana- ke sini mencari seseorang dan diikuti dengan
maju-mundurnya surat terakhir Lila, rasanya saya ingin tertawa. Padahal
harusnya perasaan yang rasakan bukanlah itu. Tetapi, saya justru teringat
ending beberapa film serupa dan membuat saya kurang menyukainya. Terakhir,
bagian yang kurang saya sukai adalah cara mengakhiri misteri ini. Lagi-lagi ini
selera.
Makna sebuah rumah
Ini
bagian terpenting dari semua yang kutuliskan. Segenggam makna yang kudapatkan
dari buku ini.
Dila,
Lila dan Ben telah memberiku banyak pelajaran berharga tentang makna sebuah
rumah. Lewat kisah gelap-terang mereka, sebuah rumah dan ikatan keluarga tidak
lagi sama di mata saya sekarang. Semuanya berubah lebih spesial. Kadang, definisi
rumah yang sempurna menurut benak kita tidak sepenuhnya terjadi di dunia nyata.
Tetapi, sebuah rumah yang kita tempati tetaplah sempurna disebut sebagai rumah
yang utuh. Rumah tempat orang-orang yang menyayangi kita dengan cara apa pun.
Dengan kelemahan, keterbatas dan kesalahpahaman.


0 komentar:
Posting Komentar