Naluri
perempuan kerap membuat saya gelap mata saat belanja! Niatnya menyambangi
diskon untu beli satu item sepatu, eh
yang dibawa pulang lebih dari satu barang. Pergi ke minimarket niatnya mau beli
sabun, yang dibawa ke kasir ada sabun, keripik kentang, puding dingin, kacang
atom, keju, es krim dan lain-lain. .
Akhirnya, yang saya dapatkan
hanyalah semakin bertambahnya barang, namun semakin tipisnya tabungan. Target
tabungan yang direncanakan pun sering meleset dari target. Memang barang-barang
yang saya punya memang semakin banyak. Tetapi, saya tidak bisa menjamin bahwa
barang tersebut benar-benar berguna. Misalnya saja, buku catatan kecil
bergambar Menara Eiffel yang pernah saya beli di salah satu toko. Saat itu, niatnya
hanya beli alat tulis. Sayangnya buku catatan itu terlihat menarik dan ikut
terbeli. Sudah satu tahun lebih buku catatan itu hanya tersimpan di rak buku
bagian belakang. Bersama buku catatan lain yang juga masih kosong. Di
sudut-sudut kamar, juga ada barang-barang yang terbeli namun tidak pernah
terpakai. Dibeli hanya karena unyuk,
lucu tanpa pertimbangan lain.
Saya mulai menyadari bahwa ketika
saya belanja, yang menang adalah nafsu. Bukan logika. Maka, mulai sekarang saya
membuat skala prioritas belanja sebelum membeli barang.
Skala
prioritas nomor satu: Belilah sebuah barang karena kamu butuh.
Skala
prioritas nomor dua: Sesuaikan harga barang dengan isi dompet.
Skala
prioritas nomor tiga: Barulah pilih yang menurutmu paling unyuk (dengan harga
segitu ya)
Jadi,
walau dapat bonus atau gajian lebih, tetap tidak boleh membeli barang yang
tidak dibutuhkan, ya. Meskipun ada yang warna ungu, lucu dan menarik, tetap
tidak boleh dibeli kalau harganya melebihi kapasitas uang di dompet. Dan kalau
yang sesuai kantong tidak ada yang lucu sekali, maka pilihlah yang lumayan
menarik dari yang tidak lucu itu (Apa bisa? Hahaha!).
Semoga
aku selalu ingat sama skala prioritas ini, ya!
Putri
Lestari
*Notes:
tulisan ini lama sekali terbengkalai. Notes ini dibuat biar aku agak menyesal
telah menelantarkan tulisan terlalu lama.



0 komentar:
Posting Komentar