dunia bergerak bukan karena omongan
para
pembicara dalam ruang seminar
yang
ucapannya dimuat
di
halaman surat kabar
mungkin
pembaca terkagum-kagum
tapi
dunia tak bergerak
setelah
surat kabar itu dilipat [1]
Senja
terpana dengan puisi di halaman terkahir itu. Embusan napasnya yang dalam lagi
panjang bukan pertanda keputusasaan, melainkan getir yang coba dilepaskan.
“Seperti
ada yang runtuh di dalam hatiku ketika membacanya…”
Gumamnya
lirih yang kemudian disapu angin sore begitu cepat. Kakinya masih berselonjor sembari
memangku buku. Matanya mulai berkejaran dengan burung yang terbang merunut
garis jingga cakrawala. Angin bertiup lebih kencang, menggoncangkan
tangkai-tangkai anyelir di hadapan senja.
Waktunya pulang,
batin Senja ketika alam mulai mengusirnya dari ladang ini. Dia beranjak dari
rumput-rumput basah itu, memeluk erat sebuah buku dan berjalan pulang.
***
“Hanya
mengajarkan apa yang aku tahu tentang mawar, anyelir, lily dan krisan saja,”
jawab Senja dengan bola mata yang terpaku pada buku—yang sedang dibacanya.
Dion
kehilangan akal untuk merajut kata dengan Senja. Perempuan itu hanya menjawab datar.
Tanpa ekspresi, tanpa sorot mata yang mengatakan aku ingin berbincang lebih lama denganmu. Dion memang menemani
raganya menjaga toko bunga itu, tapi ruh dan batin Senja sedang berkelana.
Dion
paham benar, jika Senja memang mencintai buku-buku itu. Buku yang ditulis oleh
seseorang. Seseorang yang hanya diketahui namanya; Leonat. Tidak ada foto di
lembar biografi semua buku yang ditulisnya. Dan desa ini seolah mengurung Senja
untuk mencari sosoknya.
“Senja…
besok aku akan ke kota lagi,” ujar Dion pelan.
Senja
bergeming.
***
Hanya
ada satu cara membahagiakan Senja. Mempertemukannya dengan Leonat. Dion sengaja
mempercepat kepulangannya ke desa. Ketika embun sedang bergelayut manja di
ujung daun, Dion tiba dan berhambur ke rumah Senja. Dia ingin bertemu dengan
gadis yang dicintainya itu dan melihat senyum bahagianya.
Senja
terpaku melihat Dion yang terengah-engah, berdiri di depan pintu rumahnya
sepagi ini. Apalagi dengan tas dan kemeja rapi yang dipakainya usai dari kota.
“Senja…
Leonat akan mengadakan bedah buku terbarunya di kota. Aku sudah membelikanmu
buku terbarunya sekaligus tiketnya.”
Sebelah
tangan Dion memegang buku bersampul ungu dan sebuah tiket. Senja tersenyum. Dia
meraih buku dan tiket itu, kemudian melonjak girang. Belum pernah Dion melihat
Senja sebahagia itu. Senyumnya sangat lepas dan tulus. Sayangnya, senyum itu
bukan untuk Dion.
Dia
pun tahu, hubungan ini memang berawal dari orang tua Senja—bahkan mungkin bukan
hubungan yang diinginkan Senja. Senja telah lama memberikan cintanya pada
seseorang. Seseorang yang selalu ditelusuri isi pikirannya melalui buku. Sementara
Dion sudah memberikan cintanya pada Senja sejak mereka masih bermain di ladang
bunga.
Waktu
memisahkannya dari keceriaan Senja selama bertahun-tahun. Dia harus
menyelesaikan kuliah di kota dan meninggalkan Senja bermain di ladang bunga itu
sendirian. Saat dia kembali, Senja memang masih senang berada di ladang bunga
itu. Tapi bukan bermain di sana yang membuatnya bahagia. Melainkan buku yang
sering dia baca di sana.
“Kita
akan ke sana kan?” Senja bertanya dengan senyum lebar.
Dion
tersenyum.
***
Senja
memegang sebuket bunga—perpaduan mawar putih, lily putih dan krisan
merah—dengan lembut dan hati-hati. Dia tak ingin bunganya rusak. Bunga itu spesial.
Bunga itu untuk Leonat.
Mawar putih simbol cinta sejati, keluguan,
rahasia dan juga diam. Bunga lily berwarna putih bisa melambangkan sesuatu yang
suci dan murni. Dan krisan merah berarti cinta.
Dia laki-laki yang mengagumkan. Tulisan-tulisannya
memperjuangkan kehidupan yang tak banyak disuarakan. Pikirannya begitu
memesona. Tak heran jika ada yang jatuh cinta hanya dengan membaca pikirannya
lewat buku.
Dion
masih mengingat ocehan Senja sepanjang perjalanan. Kemudian tersenyum saat
melihat senja menggendong sebuket bunga itu layaknya menggendong seorang bayi.
Langkah
Dion terhenti tepat di depan pintu masuk gedung acara. Senja menatapnya dan
mengernyitkan dahi.
“Masuklah,
aku hanya membeli tiket untukmu. Aku akan menunggu di sini,” kata Dion sembari
menamatkan pandangannya pada Senja yang bergerak masuk hingga duduk.
***
Senja
berdiri dengan antusias sedari tadi. Entah sudah berapa puluh orang yang
mendapat tanda tangan. Dan entah sudah berapa lama dia berdiri, mengantre. Tapi
rasa bahagia itu tetap menyala terang di hatinya. Gilirannya pun tiba.
Sejenak
dia bergeming. Memandang Leonat yang begitu dekat. Bisa sedekat ini… bisiknya lirih.
Seorang
laki-laki bertubuh besar—semacam bodyguard—yang
berdiri di samping Leonat, berkata dengan nada tegas, “bukunya nona!”
Tangan
Senja sedikit tersentak, mengulurkan buku itu dengan cepat. Leonat menggerakkan
pulpen di halaman pertama buku. Membubuhkan tanda tangan di buku Senja seperti
pada buku yang lain. Leonat tersenyum dan memberikan buku itu padanya. Belum
sempat Senja menyerahkan buket bunga itu, seseorang yang suara masih tegas tadi
kembali menegur.
“Maaf
nona, silakan,” tangan kanannya menunjuk pintu keluar,”berikutnya!”
***
Dion
agak heran menatap Senja keluar dari gedung masih dengan sebuket bunga itu. Tapi
senyum Senja membuatnya sedikit tenang.
“Ada
apa?” Dion bertanya sambil melirik bunga itu.
“Em..
tidak ada. Hanya tidak sempat memberikannya.”
“Mau
menunggu sampai Leonat keluar dari gedung?”
Senja
menatap Dion tepat di jantung matanya. Sejenak Dion hanyut, kemudian cepat melempar
pandang. Mata Senja pun ikut melihat ke arah lain. Matanya tertuju pada suara
anak kecil yang menangis dan menunjuk bunga yang masih dijaganya. Anak itu
merengek pada ibunya.
Kaki
Senja melangkah mantap padanya. Langkahnya yang pelan terlihat anggun dengan
rok panjang itu.
“Ini
untukmu anak manis, jangan menangis lagi,” katanya sambil menyerahkan sebuket
bunga itu.
“Senja,
kau tidak jadi…”
“Ah,
sudahlah,” Senja memotong kalimat Dion.
Pandangan
Senja beralih pada pintu gedung yang dikerumuin banyak orang. Di sana ada
Leonat yang mencari jalan keluar.
“Dia..
hanya seseorang yang bisa kukagumi dan kujatuhcintai pikirannya, tapi tak akan
pernah bisa kusentuh.”
Senja
tersenyum pada Dion. Senyum yang berbeda dari biasanya.
Catatan:
[1]
Cuplikan Puisi “Mendongkel Orang-Orang Pintar” oleh Wiji Tukhul.
dengan sepenuh hati,
_Putri Lestari
0 komentar:
Posting Komentar