(Ini
hanya sebuah curhat dari seorang perempuan yang selama empat tahun terakhir
sering bermain dengan satuan. Kesamaan nama, tempat, adegan, dan lain-lain
memang disengaja untuk kepentingan #KODE!)
Mulanya
aku hanya seorang cewek polos yang menganggap cinta adalah perasaan luar biasa,
suci, tulus dan agung. Semacam cinta luar biasa pangeran yang membangunkan putri
tidur, cinta tulus seorang gadis yang berhasil mengusir kutukan Beast, atau
cinta Shrek pada Putri Viona—pun sebaliknya.
Selama
bertahun-tahun pemahaman cintaku yang semacam itu, sama sekali tidak membawa
masalah. Aku bisa dengan mudah menyukai Ge Pamungkas—yang terkenal itu
loh—tanpa mempertimbangkan apa pun. Tapi sejak mengenal seseorang (baca:
gebetanku) aku mulai memikirkan kembali pemahaman cintaku.
Kuakui,
rasa sukaku tumbuh dari kekaguman atas dirinya. Saking kagumnya, aku selalu
mendewakan dia. Padahal aku tahu, dia manusia biasa dengan segala kekurangan. Misalnya,
dia suka mimisan kalau pikiran dan
batinnya tertekan. Dan mimisannya itu nggak kenal waktu, pun tempat. Pernah
suatu kali aku menemaninya jalan-jalan pas pikirannya lagi kacau. By the way, itu jalan kaki beneran. Dia
dengan segala kekacauan di pikiran—dan mungkin saja batin—berjalan secepat
mungkin tanpa mempedulikan aku yang berusaha mengimbangi langkahnya. For your info, sama sekali aku nggak
anggap dia jahat waktu itu.
Keinginanku
cuma satu; menyamai langkahnya. Tapi aku memang harus puas tertinggal beberapa
meter darinya. Hingga dia berhenti saat darah keluar dari hidungnya. Perasaanku
padanya—yang kukatakan tulus—memerintahkan diriku untuk mengelap darah yang
mengalir dengan lengan kaosku. Sampai saat itu aku masih menganggap bahwa cinta
nggak bisa diukur dengan satuan apa pun. Apalagi dengan harga deterjen cair
yang kupakai untuk membersihkan noda darah kering.
Beberapa
hari setelahnya, kita masih sering jalan bareng. Pernah suatu kali dia
mengajakku ke “jamuan” makan malam komunitas yang diikuti. Ya sebenarnya itu
nggak sengaja. Malam itu dia hanya ingin berterima kasih atas kejadian
“pendarahan” tempo hari lewat secangkir kopi. Tapi malam itu aku harus puas
dengan makan malam massal saja.
Ohh
Tuhan, baru kali itu aku bingung cara menikmati hidangan. Di depanku ada sebuah
piring dengan sendok, garpu, pisau yang tertata rapi di sebelah kanan dan
kirinya. Dia dan teman-temannya, entah bagaimana bisa menggunakan alat yang
sama pada hidangan tertentu secara serempak. Sementara aku hanya bisa mengekor
cara makannya. Aku terbiasa makan dengan sendok atau bahkan tangan saja.
Malam
itu pun aku menjadi seorang pendiam untuk pertama kalinya. Dia dan
teman-temannya membicarakan banyak hal; sejarah dunia, sejarah angkasa, budaya
Perancis, budaya Jerman, sastra Arab, dan lain-lain yang nggak bisa kusebut
karena aku lupa. Aku rasa, dari semua orang yang hadir di sana, hanya aku yang
cuma tahu sejarah Indonesia level anak SD. Pun hanya tahu sedikit kebudayaan
Indonesia.
Aku
hanya menjadi pengamat di sana. Mengamati sorot matanya yang terpesona pada
mereka. Pada perempuan-perempuan yang hadir dan “hidup” di dalamnya.
Malam
itu, aku mulai ragu bahwa cinta nggak punya satuan. Dan malam itu pun aku mulai
ragu menyebutnya sebagai gebetan.
Perkatannya
tempo hari rasanya menjadi batas atas semua ini. Dia bilang “aku ingin menjadi
awan”, saat kita sedang menikmati sore bersama. Saat aku, dia dan dua ekor
kucingnya sama-sama tidur menatap langit. Aku mulai berpikir, jika dia memang
segumpal awan, maka sampai kapan pun aku hanya bisa menjadi gadis yang
menatapnya dari tempatku berpijak—seperti sekarang.
Dan
dia. . .? Ah, apa kau bercanda?! Mana mungkin aku akan terlihat! Selamanya, aku
hanya bagaikan butiran debu yang dibagi menjadi tujuh, jika dilihat dari atas
sana. Saat itulah mungkin cinta punya satuan yang diberi nama “tinggi”.
Akhirnya
aku harus menyadari bahwa dia adalah seseorang yang selalu bisa kukagumi, kutemani
sepinya, kumaklumi kesalahannya, tapi nggak akan pernah bisa kugapai.
Hanya
ada dua pilihan yang bisa dijalani. Menghabiskan waktu berjam-jam untuk
telentang di tanah lapang ini sambil menatap awan itu. Atau menghabiskan waktu
berjam-jam untuk telentang di tanah lapang ini sambil bergandengan tangan
dengan seseorang dan sesekali menatap awan itu.
__Putri
Lestari

Pilihan kedua lbh rasional, Put (maklum, aku selalu menempatkan logika di atas perasaan wkwk). Jika suatu saat awan itu tertiup angin, atau luruh jadi hujan, apakah kamu masih tetap menatapinya? Haha
BalasHapusGag di japri, gag di sini, semua nyuruh aku milih pilihan kedua. Aku kan juga pengin guling-guling di rumput sama dia Priiiddddd... *lirik ganas prida. wkwkwk
BalasHapusBtw makasih udah mampir... *emot cium :D
Apapun pilihannya, mudah-mudahan gak punya sesal. Selamat memilih, mba Putri!
BalasHapus