Judul: Alles Liebe
Penulis : Farrahnanda
Penerbit : de TEENS
Cetakan : I, November 2013
Tebal : 228 halaman
ISBN : 978-602-7695-25-2
Novel
remaja yang judulnya diambil dari Bahasa Jerman ini saya peroleh dari seorang
teman baik hati—ehem. By the way, ini
pertama kalinya saya meresensi buku. Kacamata saya mungkin masih buram dalam
melihat buku ini. *Duh, jadi deg-degan…
Saya
akan mengungkapkan apa yang ada di buku dalam dua bagian. Bagian ulasan buku
dan satu bagian yang saya beri judul “Aku Ingin Dimengerti”. Simak yeahhh…!
Novel
ini dibuka dengan prolog bernuansa duka. Suasana pemakaman membuat saya menebak
sedari awal bahwa akan ada yang meninggal. Siapa yang meninggal? Pertanyaan itu
bisa dijawab dengan mengikuti kisah Sartika—anak panti asuhan—sebagai seseorang
yang seolah diblacklist dari pergaulan di SMA-nya.
Sartika
lebih senang berkomunikasi dengan awan, asap rokok dan angin di atap sekolah
daripada siswa lain. Sikapnya yang kasar kepada guru, nilai jelak dan
pelanggaran seabrek, hampir mendepaknya dari sekolah. Tapi seorang siswa mempertaruhkan
jabatannya sebagai Dewan Eksekutor dan Sekretaris OSIS untuk menyelamatkan Sartika.
Ferro bersedia jabatannya dicopot jika tidak bisa mengubah Sartika.
Awalnya
Sartika menolak niat baik Ferro. Namun dia terus meyakinkan Sartika. Sartika
berjuang dengan laki-laki yang menjadi pacarnya secara tidak sengaja itu.
Mengejar semua pelajaran yang banyak ditinggalkan, mengurangi hingga berhenti
merokok. Akhirnya Sartika mendapatkan hasil yang baik di akhir semester. Ferro
pun tidak jadi kehilangan jabatannya. Dan hubungan mereka, terus berlanjut
hingga kuliah. Sayangnya Sartika harus menangis di akhir cerita karena Ferro
meninggal.
Saya
mengapresiasi novel ini karena di dalamnya ada hal-hal yang sebenarnya biasa, namun
disorot dengan baik oleh penulis. Ada empat hal yang saya garis bawahi.
1. Sikap
Guru Kimia kepada Sartika. Murid yang sikapnya minus (bahkan bisa dibilang
kurang ajar), prestasi belajar buruk, pelanggarannya banyak, memang seolah
dipandang sebelah mata oleh seorang guru. Penulis membeberkan perasaan seorang
murid yang berada di posisi itu.
2. Perasaan
siswa yang dikucilkan. Walaupun Sartika terlihat kasar dan tidak peduli, namun
perasaan tidak enak saat dikucilkan teman-temannya tetaplah ada.
“Aku
tidak suka menjadi anak panti dan jadi bahan ejekan anak-anak ingusan yang
belum dewasa itu.”
__Sartika, halaman 44.
3. Sisi
ambisius seorang siswa berprestasi diinterpretasikan oleh tokoh Rana. Sayangnya,
menurut saya, ada beberapa adegan yang menggambarkan Rana tidak pantas disebut
berprestasi karena sifatnya. Misalnya saja di halaman 191, ketika Rana menarik rambut
Sartika di kelas ketika nilai Sartika lebih tinggi.
4. Perkara
“anak emas” juga diselipkan dengan apik. Tak bisa dipungkiri, bahwa “kasih” beberapa
guru lebih berat kepada siswa yang berprestasi.
“Kalau
saja yang melakukan tindak kekerasan macam monyet liar barusan itu aku. Pasti
pelajaran sudah dihentikan karena guru ini akan menyeretku sampai ke ruang guru
dan aku dihakimi massa di sana. Tapi, toh, terkadang dunia memang tidak harus selalu
adil, kan?”
__Sartika, halaman 194
Namun, saya agak
mengernyitkan dahi ketika membaca adegan guru matematika yang tidak berkutik
saat Rana menyerang Sartika di jam pelajarannya. Ini menjadi satu-satunya
adegan yang menurut saya “cacat”. Karena seorang guru membiarkan kekerasan
terjadi di depannya.
Aku
ingin dimengerti…
Semua
kisah dan konflik yang dialami Sartika, bagi saya telah menyampaikan satu pesan
besar. Pesan untuk memahami perasaan siswa yang terasing di sekolah. Siswa-siswa
yang hanya dicap buruk karena pelanggarannya tanpa pernah dimengerti kenapa dia
melakukannya.
Sartika
yang sering membolos jam pelajaran, merokok di sekolah, kasar dengan
teman-temannya—bahkan guru. Ternyata hanya ingin mengatakan aku ingin dimengerti pada orang-orang
itu dengan bahasa yang unik. Bahasa yang hanya bisa dimengerti oleh orang-orang
yang mau mengerti. Bukan orang-orang yang menghakimi semua sikapnya dengan mata
telanjang.
“Aku
menangis. Jelas-jelas aku menangis sekarang. Memalukan! Seharusnya aku tidak
boleh menangis, aku harus kuat menghadapi semua sendiri. Semua orang itu hanya
monyet-monyet yang tidak mau memahamiku…”
__Sartika, halaman 98.


0 komentar:
Posting Komentar