Matamu
menyiramkan kepedihan tak terperi pada seseorang yang kau tatap hampa. Genap
dua hari nyawamu seolah terbang entah kemana. Tangismu terdengar memilukan
ketika berdiskusi dengan Tuhan untuk mengulang waktu.
Kau
tak pernah menyangka bahwa seluruh hidupmu akan hancur dalam waktu sekejap,
hanya karena kau salah “mencintai”. Sesuatu yang kaucintai, bahkan kaugilai
dengan seluruh hidupmu itu memang sudah kaulepaskan begitu saja. Sayangnya itu
tak memusnahkan racun yang terus berkelindan di dalam hatimu. Pedihnya, itu
adalah racun yang kaubuat sendiri.
Amarahmu
pada diri sendiri seolah tak pernah habis. Padahal kemarin kau sudah mengamuk
hingga batas gilamu samar. Ruangan itu. . . kau hancurkan! Ruangan yang
belakangan seolah keramat bagimu. Ruangan yang mungkin merindukan dirimu yang
dulu. Tanganmu yang menari pada kertas-kertas kosong. Tempat menuangkan imaji
tak terbatas yang berkutat di kepalamu. Matamu yang jeli menyematkan beberapa
pernik cantik nan elegan. Konsentrasi kaucurahkan begitu dalam pada kertas itu,
hingga menolak bocah yang membawa sebuah buku dongeng dan menarik ujung gaun
tidurmu. Ruangan yang bertahun-tahun menemanimu dalam kubangan obsesi yang kau
atas namakan impian.
Obsesi
atau impian itu pernah mengantarkanmu hingga puncak yang kauidamkan. Kauimpikan.
Kau usahakan mati-matian hingga mengorbankan seluruh hidupmu—yang baru kau sadari
belakangan ini. Aku masih ingat betapa bahagianya kau saat itu. Malam itu kau
tak mengahabiskan banyak waktu di ruanganmu. Tapi bersama orang-orang yang
menghujanimu dengan kata selamat. Dari balik jendela kamarku, aku mengintip
salam perpisahan bahagia pada mereka yang mengantarmu pulang di waktu yang ragu
kusebut malam atau pagi. Sayangnya itu menjadi kebahagiaan terakhirmu.
Sebuah
badai datang dalam hidupmu. Bahkan kau tak pernah menyangka jika badai itu
bagaikan “musuh dalam selimut”. Selama ini sudah mengincarmu, tanpa pernah kau
sadari. Kau murka. Sangat murka.
Ruangan
itu kau jadikan pelampiasan. Kertas-kertas yang sudah kaububuhi gambar
berhamburan. Kau merobeknya dengan emosi yang begitu tinggi. Tak peduli kau
pernah menggambarnya hingga batas sadarmu punah.
Emosimu
yang mengerikan itu beralih pada tas-tas yang kaudesain untuk perusahaanmu. Itu
hasil karyamu selama bertahun-tahun. Kau abadikan di ruang kerja dengan apik.
Dan sekarang kau membanting semuanya.
Kau
masih belum puas. Tanganmu memegang ‘tas kebanggaan’. Tas yang telah
mengantarkanmu pada kebahagian tak terhingga itu. Pada puncak yang kauidamkan,
tapi tak pernah kau rasakan semilir angin di puncak itu. Dan tak akan pernah. Karena
kau memilih berada di kamar ini pada waktu yang lama dan lama.
Seandainya.
Kata itu muncul saat kau menatap wajah putrimu yang sedang pulas.
Seandainya. . . aku sadar lebih
awal bahwa impian terbesarku bukanlah pekerjaanku tapi masa depanmu. . .
Sedandainya. . . kusediakan sedikit
waktuku untuk mendengar ceritamu yang tata bahasanya masih kacau tapi penuh
semangat. . .
Seandainya. . . kuluangkan waktu
untuk mendongeng kemudian kuselipkan beberapa nasihat dan peringatan untukmu. .
.
Seandainya. . . aku banyak
memberikan kasih sayang untukmu. . .
“Seandainya”
adalah kata yang cukup menghibur sekaligus menikam dirimu. Kau tersenyum saat
membayangkannya, kemudian muram setelah menyadari itu tidak mungkin. Putrimu terlanjur
menemukan sepasang telinga yang mau mendengarkannya dengan sabar. Putrimu terlanjur
menemukan kasih di tempat lain. Kasih yang siap mendongeng untuk putrimu sebelum
merengkuhnya dalam peluk tak terlupakan.
Aku telah gagal menjadi seorang
ibu. . .
Kau
kembali mengucapkannya bersama air yang merembesi pipi. Sejak putrimu yang belum
lulus TK itu dicabuli oleh pacar Minah—pengasuh anakmu—kau selalu berucap
demikian.
Hidupmu
hancur. Hatimu seperti dibunuh berkali-kali. Rasanya pedih. Pedih sekali. Aku
tahu betapa itu menyiksamu. Aku paham benar. Karena aku pun pernah dihantui
oleh pengandaian yang begitu menyiksa.
Seandainya. . . aku meluangkan
banyak waktu dan kasih untukmu, pasti kau tak akan mencari kasih di luar sana—yang
membuatmu merasakan kehamilan sekaligus keguguran saat baru lulus SMA.
Seandainya. . . aku sempat
memberitahumu—dan diriku sendiri—bahwa perempuan dilahirkan untuk menempati
tiga posisi. Sebagai anak, sebagai istri, dan sebagai ibu—mungkin saja kau tak
akan menganggap dirimu gagal seperti sekarang.
Sayangnya aku harus terbunuh
oleh racun yang sama denganmu, setiap hari. Bahkan hingga aku benar-benar
meninggalkanmu dari dunia ini seminggu yang lalu, racun itu tetap bersarang di
hatiku.
_putri lestari

Bikin baper bagian ini, Put:
BalasHapusSeandainya. . . aku sempat memberitahumu—dan diriku sendiri—bahwa perempuan dilahirkan untuk menempati tiga posisi. Sebagai anak, sebagai istri, dan sebagai ibu—mungkin saja kau tak akan menganggap dirimu gagal seperti sekarang.
ihiksihiksihiks :(
Nulisnya pun aku baper Fea....
HapusAaaahhhhh Fea... makasih udah mampir di blog juniormu. . . *emot peluk cium. :D