Ada
sebuah negeri yang namanya begitu terkenal di mata dunia. Negeri tempat
orang-orang seluruh dunia memanen padi, jagung, kedelai hingga biji pala. Kesuburan
yang diberikan oleh tangan Tuhan pada negeri itu, belum ada tandingannya.
Sekalipun manusia dari negeri yang menciptakan robot canggih mencari akal untuk
menandingi.
Seorang
seniman musik mengibaratkan tanah negeri itu bagaikan surga. Katanya, sebatang
kayu jika ditancapkan saja bisa berubah jadi tanaman dan memberi penghidupan
pada umat. Laut di negeri itu juga sangat kaya. Tak perlu menunggu lama, jala
yang dibentangkan akan memerangkap banyak ikan. Sungguh, Tuhan bagai memerlihatkan
surga nyata di dunia. Hingga tak satu orang pun mampu memungkirinya.
Beberapa
negeri bahkan mengakui bahwa mereka iri. Mereka ingin mengakuisisi negeri itu.
Tapi orang-orang di negeri itu kuat dan tangguh. Tak akan dibiarkan orang-orang
dari negeri lain mengambil apa yang menjadi miliknya. Rakyatnya ingin hidup
tenteram dan makmur. Hidup berdampingan dengan sifat ramah yang diwariskan oleh
Tuhan pula, pada orang-orang di sana. Jika kau terlahir di sana, maka kau akan
digariskan menjadi orang ramah seperti mereka.
Sayangnya,
ini adalah kisah negeri surga yang sebentar lagi akan hancur. Mau tidak mau,
suka tidak suka, kisah ini harus diceritakan. Biar Pak Darso—tukang ojek di
negeri itu—dan keluarganya sedikit tabah. Tak terus-menerus hidup dalam mimpi indah
yang dibuat oleh hatinya. Hati yang masih sangat yakin, bahwa negerinya sudah
digariskan Tuhan untuk menjadi negeri surga. Negeri yang paling nyaman
ditinggali.
Barangkali,
hari itu Pak Darso sedang malang. Padahal dia tak lupa berdoa sebelum mangkal
di tempat biasanya. Ketika dia sedang duduk santai di atas motor, menunggu
penumpang, sekumpulan polisi datang menghampiri. Tanpa memberi salam dan
bertanya identitas, mereka membawa Pak Darso ke kantor polisi. Air muka
pengharapan akan datangnya penumpang, berubah jadi cemas tak terkira. Kalau sudah berurusan dengan polisi, bakal
panjang urusannya. Kalimat yang akhir-akhir ini seolah ngetrend di negeri itu kemudian terngiang. Membuat benaknya makin
tak tenang. Apalagi ketika dia teringat akan istri dan anaknya—yang belum bisa
berjalan. Hari ini bukan rupiah yang akan mereka terima. Tapi kabar buruk dari
dua tetangga Pak Darso yang memergoki peristiwa itu.
Layaknya
Pak Darso yang kebingungan, istrinya pun semakin bingung ketika pintu rumah
mereka diketuk oleh tetangga. Dua orang laki-laki datang mengantarkan motor Pak
Darso. Pun mereka bercerita hal ihwal Pak Darso yang diringkus polisi. Hati Bu
Karsi bagai dihantam badai. Apalah yang sudah suaminya lakukan hingga berurusan
dengan polisi. Bertahun-tahun mengojek, baru kali ini Pak Darso kena masalah.
Terlebih lagi, harus berurusan dengan polisi. Pastilah bukan masalah sepele.
“Kami
nggak tahu bu, apa masalahnya. Si Darso langsung digelendeng masuk mobil tadi.
Nggak ngasih surat penangkapan kayak polisi di sinetron,” ujar salah satu
lelaki.
Kabar
itu pun kemudian datang dari pihak polisi. Kabar tentang Pak Darso yang katanya
terlibat kasus pengeroyokan sopir angkot. Kemarin, di tempat mangkal itu, ada
seorang sopir angkotan umum yang dikeroyok. Entah karenapa apa. Dan hari ini,
polisi baru datang. Setelah pengeroyokan itu berlalu dan bekasnya bersih.
Setelah pelaku-pelakunya mungkin kabur terbawa angin.
Tentu
Bu Karsi yakin suaminya tidak bersalah. Dia tahu benar, seminggu belakangan,
suaminya tidak mangkal di sana. Tapi keyakinan itu ternyata tidak cukup.
Kejujuran mereka di ruang sidang hanya bahan kajian orang-orang yang bicaranya berbelit.
Putusan pun tak dibuat, hingga berminggu-minggu. Bahkan berulan-bulan.
Bu
Karsi hanya bisa meneruskan pekerjaan suaminya untuk menyambung hidup. Memang
bukan hal yang lumrah;seorang perempuan jadi tukang ojek. Tapi apalah yang bisa
dilakukannya. Dia hanya bisa pasrah tinggal di negeri surga itu. Sembari
berharap negeri itu memang benar-benar negeri surga. Berharap tak ada lebam di
pipi suaminya lagi, saat dia menjenguk. Berharap tak ada orang-orang yang mendatanginya
dan tanya macam-macam saat dia mengambil kayu di lahan sebelah untuk memasak.
Di
daerah lain, masih di negeri surga itu, ada seorang saudagar kaya. Kekayaannya terus
bertambah setiap hari. Dia adalah orang yang tahu benar bahwa negerinya itu
memang negeri surga. Negeri dengan tanah yang subur dan gembur. Negeri yang
menyediakan apa pun untuk orang-orang yang hidup di dalamnya. Entah sejak kapan,
saudagar itu mulai melakukan apa yang Bu Karsi lakukan; mengambil kayu di
lahan-lahan yang dekat. Pun mengambil dalam jumlah yang berpuluh kali lipat
dari seikat kayu yang Bu Karsi ambil. Nyatanya, kekayaan saudagar itu terus
bertambah dan bertambah. Beberapa orang yang pernah mendatangi Bu Karsi juga pernah
mengunjungi saudagar itu. Bedanya, mereka keluar dengan bingkisan dan senyum
lebar. Kemudian tak pernah kembali lagi. Apalagi bertanya macam-macam, seperti
apa yang ditanyakan pada Bu Karsi.
Semakin
lama, semakin banyak orang-orang macam Pak Darso dan saudagar di negeri itu. Dan
bukan negeri surga lagi julukan bagi negeri itu. Tapi “Negeri dengan Dua Dunia”.
Dua dunia yang dimaksud adalah dua golongan—golongan Pak Darso dan
Saudagar—yang ada pada negeri itu. Tinggal menunggu waktu saja, dunia mana yang
akan menang. Atau, negeri itu akan hancur ketika salah satu golongan semakin
ingin berkuasa.
***
“Kenapa
ibu selalu menceritakan kisah itu, kalau aku mau tidur?”
Tyas
bertanya sembari menatap lamat ibunya. Dia sungguh belum mengerti benar apa
yang ibunya kisahkan. Mendengar cerita Putri Salju, Rapunzel si rambut panjang,
Cindderella bahkan cerita kecerdikan kancil pasti lebih menyenangkan daripada
cerita yang ibunya bawakan setiap malam. Tyas pun tak mengerti, dari mana
cerita itu berasal, karena ibunya tak pernah membawa buku saat mendongeng. Tapi
tak ada satu kisah pun yang ibunya lupakan. Semuanya sama, tersampaikan jelas,
dengan nada kepedihan yang selalu sama.
“Karena
ini kisah yang bagus nak.”
“Tapi
aku tidak mengerti Bu”
“Walau
sekarang kau belum mengerti, tapi kisah yang harus selalu kau ingat. Dan ibu tidak
akan berhenti menceritakannya padamu. Sampai kau mengerti dengan kisah ini.”
Seraya berucap, air
muka wanita itu berubah jadi muram. Dia teringat akan suaminya yang masih
dipenjara karena menjadi korban salah tangkap atas pengeroyokan sopir angkot. Pun
teringat akan gugatan dari pihak yang mengaku sebagai polisi hutan tempatnya
biasa mengais seikat kayu untuk memasak. Mungkin
esok mereka akan datang lagi dan menuduh ibu sebagai pencuri kayu.
0 komentar:
Posting Komentar