Ada
yang “mengganggu” pikiranku (lagi). Seperti biasa, aku mulai merasa ingin tapi
tak ingin. Berdosa tapi tak berdosa—karena semua orang melakukan hal semacam
itu dan tetap hidup damai. Melawan tapi berdamai. Dan menangis tapi terbahak
santai. Aku ingin membaginya denganmu; walau tanpa belaian lembut dari tangan
beratmu.
Entah
kau tahu atau tidak tentang diriku yang mencintaiku dunia pendidikan. Kalau pun
kau tahu, mungkin kau hanya melihatku sebagai sarjana pendidikan yang nantinya
akan mengajar di sekolah seperti lainnya. Memberi penjelasan, memberi tugas
kemudian kutinggal minum teh di kantor hingga bel berbunyi, mengadakan ulangan
sesuai ketentuan, hingga menuliskan angka-angka di rapot yang sebelumnya sudah
kukalkulasi sedemikian rupa agar tinta merahku masih utuh. Kau pun tentu
menerka, aku akan ikut CPNS tahun ini, tahun depan, dan tahun depannya lagi
hingga berhasil. Menunggu pengangkatan pegawai, dan bertemu dengan bulan-bulan
yang lebih membahagiakan.
Aku
tak sepenuhnya menyalahkan terkaanmu. Tapi kenyataannya aku hanya seorang
tentor di beberapa lembaga bimbingan belajar. Memang, aku menemukan sedikit
kebahagiaan di sana. Mengajari mereka materi-materi fisika dan menyalurkan
sedikit pengetahuanku. Mendengar mereka berkata “ooo….” panjang sambil
mengangguk, bagiku sebuah kepuasan pribadi. Tapi aku juga menyimpan gelisah.
Aku
gelisah dengan pekerjaan “pendidik” yang seperti ini. Kau tahu, sekarang ini
banyak bermunculan lembaga bimbingan belajar. Mulai dari lembaga yang namanya
sudah terkenal, sampai lembaga kecil-kecilan yang biasanya didirikan oleh
seorang guru. Jelas ini menguntungkan bagi sarjana pendidikan—macam aku—yang belum
diterima sebagai guru bantu di sekolah. Ibaratnya, pengetahuan yang didapat
bisa disalurkan, menambah “jam terbang” mengajar, dan tentu saja sebagai tempat
mencari kepuasan mengajar bagi orang sepertiku.
Tapi,
aku mengkhawatirkan semua ini. Lembaga bimbingan belajar yang semakin banyak
dan ramai murid, guru-guru yang juga mendirikan bimbel. Aku merasa khawatir dengan dunia yang sangat kucintai—dunia
pendidikan. Apa yang guru-guru ajarkan di sekolah hingga mereka mencari “sekolah
kedua”? Apa metode pengajaran (yang dipelajari, diteliti, hingga disimpulkan
mahasiswa pendidikan semasa kuliah) yang diterapkan di sekolah sama sekali
tidak berhasil? Apakah orientasi pendidikan di sekolah sekarang ini hanya
berpandang pada nilai siswa? Ke mana budaya belajar “mencari dan menemukan”
bukan dijejali?
Rasanya
aku ingin berlari. Keluar dari semua ini. Meninggalkan sesuatu yang kujalani namun
terasa membunuh yang kucintai. Tapi aku tak ingin. Aku tak ingin kehilangan
kebahagiaan mengajar yang sedikit itu. Dan aku tak ingin menjadi sarjana
pendidikan yang hanya menganggur. Sekalipun rasanya dedikasiku pada dunia yang
kucintai tak ada. Mana yang harus kulakukan?
Soal
CPNS, entahlah…. Aku dari dulu tak begitu menggebu tentang itu. Aku hanya berharap
bisa menjadi guru bantu di sekolah. Setidaknya ada sebuah kelas untukku. Supaya
aku bisa mengajarkan materi, pendidikan karakter, memfasilitasi kemampuan
individu siswa (yang berbeda-beda) dan apa-apa yang kudapat selama kuliah. Ya,
memang aku tak akan mendapat gaji ke-13. Tapi toh bisa makan sehari dua kali
sudah cukup bagiku. Sayangnya, tak semudah itu mencari sekolah. Ada “sesuatu”
yang tak mudah kujelaskan. Itu artinya, agar aku bisa mendapatkan sebuah kelas,
aku harus lolos ujian CPNS. Padahal sudah banyak kabar tentang “intrik” di
sana. Dan aku tak menyukainya. Ah, lagi-lagi ini yang kurasakan. Seperti ingin
tapi tak ingin.
Kau
mungkin bertanya, “kenapa aku tak ikut program mengajar di tempat terpencil seperti
yang beberapa temanku lakukan? Jika itu memang cinta dari hati nuranimu”.
Yaahhh….
untuk yang satu ini, aku tak mau banyak berlasan. Aku selalu merasa berdosa
ketika tahu anak-anak di tempat terpencil kekurangan guru. Tidak mendapatkan
pendidikan yang layak. Mengalami ketimpangan dengan para siswa yang sekolah di
kota dan banyak lembaga bimbel di
kota itu. Aku pun merasa berdosa jika menyalahkan badanku yang terlalu mudah
sakit (mungkin dua bulan sekali aku sakit). Tapi kenyataannya, mungkin saja aku
tak akan lolos tes kesehatan. Lari satu putaran lapangan sepak bola saja aku
tak kuat—bahkan terkadang setelahnya aku sakit. Rasa berdosa itu selalu ada di
dalam hatiku, tapi kadang aku pun berpura-pura tak merasa.
Dan
yang terakhir…. ini tentang kau. Aku tak mungkin meninggalkan kau yang (sudah) meninggalkanku—bahkan
tanpa pertemuan. Kecintaanku padamu tak akan pernah selesai jika kau masih
memperjuangkan nilai-nilai kehidupan, perdamaian umat dan kebahagiaan non
materi. Entah bagaimana, aku sangat mencintaimu atas semua itu. Bagiku, kau
juga inspirasi yang tak kunjung kering. Bagaimana mungkin aku bisa memenggal perasaan
ini hanya karena kau mengidamkan perempuan lain? Hanya karena kau susah diraih
dan aku bukan “tipemu”. Tapi, lagi-lagi aku gelisah dan terjerat.
Ada suatu kebiasaan yang disebut “menikah” dalam
hidup ini. Jika aku boleh meminta, aku ingin menikah denganmu dan ikut
memperjuangkan apa yang kau suarakan. Tapi jika kau memilih orang lain, aku tak
bisa berbuat apa-apa. Rasanya aku ingin “membunuh” pengharapanku padamu, agar
bisa kurancang pernikahan itu dengan orang lain. Terbahak santai dengan
seseorang suatu saat nanti. Namun, aku juga ingin menangis saat melepasmu
sebelum memperjuangkan harapanku.



0 komentar:
Posting Komentar