Jer basuki mawa beya
Setiap keberhasilan membutuhkan pengorbanan/biaya.
Sejak Sekolah Dasar, saya sudah mengenal ungkapan
tersebut. Sebagai peribahasa dalam mata pelajaran Bahasa Jawa. Tapi, dulu
saya tidak pernah memilih kata 'biaya' sebagai arti. Walau beya dalam Bahasa
Jawa berarti biaya. Saya lebih menyukai kata pengorbanan. Bagi saya, kata itu
lebih mewah dan istimewa. Pengorbanan hanya bisa dilakukan, diperjuangkan dan diraih
oleh diri sendiri. Berbeda dengan uang yang bisa saja ditebus oleh orang lain.
Beberapa orang terlahir sudah dikelilingi banyak uang. Kekayaan turun-temurun.
Tidak perlu berjuang untuk mengeluarkan uang. Jika keberhasilan bisa ditebus
oleh uang, maka ada yang tidak perlu memperjuangkan dan menempa diri. Hanya
perlu mengeluarkan uang kemudian sukses.
Kemarin, saya mulai berpikir ulang. Biaya juga
berpengaruh dalam kesuksesan seseorang. Itu yang menghujam dada dan pikiran
saya, ketika membaca persyaratan beasiswa LPDP untuk study ke luar negeri.
Skor ielts atau ibt diwajibkan bagi setiap yang punya mimpi
belajar ke luar negeri dan ingin dibantu negara. Saya rasa, semua orang bisa berjuang
untuk meraih skor yang ditargetkan. Mengikat tali di kepalanya hingga larut.
Terjaga hingga batas malam dan pagi sudah samar, demi sebuah impian. Tapi,
tidak semua orang bisa melakukan tes ini. Biaya tesnya saja hampir 3 juta, untuk satu
kali. Usaha untuk belajar saja tidak bisa memenuhi persyaratan beasiswa. Butuh
biaya juga untuk meraihnya.
Syarat mendapatkan LoA diawal juga tidak
bisa diraih hanya dengan bekal nilai. Ada biaya yang perlu dikeluarkan. Apalagi
untuk mendaftar ke universitas luar negeri. Tidak sedikit biaya yang
diperlukan. Dan, itulah yang harus dilakukan jika memang ingin impiannya
terwujud dengan bantuan negara.
Beberapa orang merasa ini wajar dan
setimpal. Mengingat bantuan negara yang tidak main-main jika sudah
mendapatkannya. Tapi, beberapa orang merasa ini “tidak adil”. Keadaan setiap
orang berbeda, tidak bisa disamakan. Ada yang terbatas ekonomi, akses belajar
dan lain-lain. Setiap orang punya keterbatasan yang berbeda. Lalu, siapa yang
akan membantu melampaui keterbatasan itu jika pihak yang mengulurkan tangan
hanya mau terima beres?
Barangkali ada yang berpendapat, jika
tidak mampu melampaui syarat itu, kenapa impiannya tidak diturunkan saja?
Kasarnya, jika tidak mampu lanjut S2, kenapa tidak bekerja saja? Atau jika
tidak mampu memenuhi syarat untuk kuliah di luar negeri, kenapa tidak
menurunkan impian jadi kuliah di dalam negeri saja? Tidak perlu terlalu
memaksakan diri dan menyalahkan yang sudah mau membantu. Mungkin saja
orang-orang yang berpendapat seperti itu lupa kalau sewaktu kecil diajari untuk
bermimpi setinggi langit. Bermimpi tanpa perduli dengan keterbatasan dan latar
belakangnya.
Sementara syarat itu secara tidak
langsung memberikan klaim bahwa hanya
yang mampu memenuhi syarat itu saja yang diterima. Hanya yang tidak punya
keterbatasan dalam hal-hal tertentu saja yang diterima.
Pihak yang membantu mungkin kurang
mempertimbangkan bahwa seseorang bisa saja terbatas ekonomi, terbatas akses
belajar. Lupa bahwa seseorang mungkin saja terbatas dalam hal-hal tertentu tapi
tidak terbatas pada tekad dan semangat. Sayangnya, indikator tekad dan semangat
bukanlah hal sangat penting di mata mereka.
Tapi, saya yakin masih ada orang-orang yang
memaknai pepatah jawa itu sebagai perjuangan dan kerja keras. Tentang semangat,
tekad, perjuangan dan pengorbanan.
Dan, saya yakin, walau manusia tidak
memberi jalan pada orang-orang yang terbatas, Tuhan akan selalu memberi jalan
bagi orang-orang yang berusaha. Tuhan akan selalu memberi jalan pada orang-orang
yang bekerja keras dan berusaha membuka jalan lewat doa.



0 komentar:
Posting Komentar