Ini
semua karena berkomentar seolah tidak ada adabnya.
Beberapa
hari yang lalu, saya pergi ke pasar untuk mencari majalah bekas. Selain karena
saya tidak punya cukup uang untuk membeli majalah baru setiap bulannya, saat
itu saya juga sedang semangat membaca majalah. Ini bukan kali pertama saya
mencari majalah bekas. Sejak keinginan saya membaca majalah muncul, saya sudah
mencarinya di beberapa tempat yang berpotensi menjual majalah bekas. Tetapi,
saya tidak mendapatkannya. Info dari salah satu temanlah yang akhirnya
menggerakkan langkah pencarian ke pasar. Walau saat itu saya tidak tahu persis
di mana tempat penjualan majalah bekas. Saya hanya diberi tahu, itu ada di
lantai dua.
Saya
bertanya pada beberaa pedagang buku di lantai dua, dan mereka memberikan
jawaban yang sama. Langsung saja saya mencari toko itu. Memang tidak mudah,
karena letaknya di dalam dan membaur dengan penjual topi, tas, dan ikat
pinggang. Itu pun saya bertanya beberapa kali pada penjual lain. Sayangnya,
toko yang saya maksud masih tutup. Ibu yang menjaga toko di sebelahnya, memberi
tahu saya bahwa bukanya memang agak siang. Dengan kebaikan hati dan
keramahannya, si ibu ini mempersilakan saya menunggu di tokonya. Tentu saja
saya iyakan, karena saya lelah berkeliling. Kami pun ngobrol tentang beberapa
hal, termasuk seputar profil saya.
Tak
lama kami ngobrol, ada seorang ibu pemilik toko depannya menghampiri. Beliau
langsung ngobrol panjang dan lebar tentang dagangannya dan hasil penjualan
dengan si ibu ramah. Saya hanya melihat sekilas ke “ibu curhat” itu, karena dia
sama sekali tidak melihat ke arah saya. Mau melempar senyum juga tidak tepat
waktunya. Mau ikut ngobrol juga tidak enak. Akhirnya, posisi yang serba salah
itu saya alihkan ke handphone. Saya membaca apa saja melalui handphone.
Chatting yang masuk, pesan, hingga membaca blog. Tiba-tiba si ibu ramah ini
pamit ke kamar kecil. Katanya kebelet. Tersisa saya, “ibu curhat”, pegawai-pegawai
ibu curhat dan seorang laki-laki pemilik kios lain. Mereka langsung terkoneksi
pada obrolan barang dagangan si ibu curhat, atas komando beliau pula. Saya
masih terdiam dan membaca. Karena si ibu curhat ini sama sekali tidak mengusik
saya.
Tetapi,
konsentrasi saya pada tulisan agak terganggu ketika ibu curhat menyenggol salah
satu pegawainya dan menunjuk ke arah saya. Mbak pegawai itu sedari tadi sudah
ada di sana sejak saya ngobrol dengan si ibu ramah. Maka, dia sedikit tahu tentang
saya. Dia pun membisikkan info itu pada si ibu curhat. Mereka berbisik-bisik,
sesekali menatap ke arah saya, kemudian berbisik lagi. Begitulah yang mereka
lakukan. Hingga si ibu curhat itu melontarkan beberapa pernyataan tentang diri
saya, menurut versinya ke pegawai-pegawainya.
Tuhan
mengijinkan telinga saya mencuri dengar sedikit tentang apa yang mereka
bicarakan. Saat itu juga, saya langsung “tersadarkan”. Bahwa selama ini, kita terlalu banyak berkomentar tentang
hal-hal yang sebenarnya tidak kita pahami betul. Tentu saja ibu curhat tadi
tidak memahami betul kepentingan saya di sana, bahkan karakter saya. Tetapi, si
ibu curhat dan para pegawainya bisa berkomentar selama beberapa menit tentang
diri saya. Sungguh, mulut memang terkadang tidak adil.
Saya
pun merasa bahwa saya mungkin saja sering melakukan hal-hal semacam itu. Bukan hanya dalam konteks berkomentar
sepihak tentang seseorang yang baru saya temui, tapi juga ketika menemui
persoalan-persoalan yang sebenarnya saya tidak begitu paham. Terkadang, mulut
memang langsung angkat bicara dan berkomentar sesuka hati ketika melihat,
mendengar atau membaca sesuatu—yang sebenarnya kita hanya tahu kulitnya saja.
Maka, kejadian ini benar-benar membuat saya “tersadarkan” seperti yang saya
bilang tadi. Bahwa tidak baik adanya
membiarkan mulut bertindak tidak adil pada sesuatu yang pikiran saja belum
berani mengeluarkan fonisnya; karena tidak benar-benar tahu tentang sesuatu hal
tersebut. Membiarkan diri untuk mencari tahu, sembari mengunci mulut justru
lebih bijaksana. Agaknya, memang sudah waktunya kita mulai mengurangi porsi
bicara yang tidak penting. Jangan berkomentar, jika hanya tahu dari luar.
Karena sudah saatnya memberikan adab dalam berkomentar.
Putri
Lestari
*tulisan
ini ditulis sekitar minggu kedua bulan November tahun 2016, dan masuk dalam
salah satu tulisan yang terbengkalai.


0 komentar:
Posting Komentar