Rabu, 01 Februari 2017

#Renungan23: Berkomentar



Ini semua karena berkomentar seolah tidak ada adabnya.
Beberapa hari yang lalu, saya pergi ke pasar untuk mencari majalah bekas. Selain karena saya tidak punya cukup uang untuk membeli majalah baru setiap bulannya, saat itu saya juga sedang semangat membaca majalah. Ini bukan kali pertama saya mencari majalah bekas. Sejak keinginan saya membaca majalah muncul, saya sudah mencarinya di beberapa tempat yang berpotensi menjual majalah bekas. Tetapi, saya tidak mendapatkannya. Info dari salah satu temanlah yang akhirnya menggerakkan langkah pencarian ke pasar. Walau saat itu saya tidak tahu persis di mana tempat penjualan majalah bekas. Saya hanya diberi tahu, itu ada di lantai dua.
Saya bertanya pada beberaa pedagang buku di lantai dua, dan mereka memberikan jawaban yang sama. Langsung saja saya mencari toko itu. Memang tidak mudah, karena letaknya di dalam dan membaur dengan penjual topi, tas, dan ikat pinggang. Itu pun saya bertanya beberapa kali pada penjual lain. Sayangnya, toko yang saya maksud masih tutup. Ibu yang menjaga toko di sebelahnya, memberi tahu saya bahwa bukanya memang agak siang. Dengan kebaikan hati dan keramahannya, si ibu ini mempersilakan saya menunggu di tokonya. Tentu saja saya iyakan, karena saya lelah berkeliling. Kami pun ngobrol tentang beberapa hal, termasuk seputar profil saya.
Tak lama kami ngobrol, ada seorang ibu pemilik toko depannya menghampiri. Beliau langsung ngobrol panjang dan lebar tentang dagangannya dan hasil penjualan dengan si ibu ramah. Saya hanya melihat sekilas ke “ibu curhat” itu, karena dia sama sekali tidak melihat ke arah saya. Mau melempar senyum juga tidak tepat waktunya. Mau ikut ngobrol juga tidak enak. Akhirnya, posisi yang serba salah itu saya alihkan ke handphone. Saya membaca apa saja melalui handphone. Chatting yang masuk, pesan, hingga membaca blog. Tiba-tiba si ibu ramah ini pamit ke kamar kecil. Katanya kebelet. Tersisa saya, “ibu curhat”, pegawai-pegawai ibu curhat dan seorang laki-laki pemilik kios lain. Mereka langsung terkoneksi pada obrolan barang dagangan si ibu curhat, atas komando beliau pula. Saya masih terdiam dan membaca. Karena si ibu curhat ini sama sekali tidak mengusik saya.
Tetapi, konsentrasi saya pada tulisan agak terganggu ketika ibu curhat menyenggol salah satu pegawainya dan menunjuk ke arah saya. Mbak pegawai itu sedari tadi sudah ada di sana sejak saya ngobrol dengan si ibu ramah. Maka, dia sedikit tahu tentang saya. Dia pun membisikkan info itu pada si ibu curhat. Mereka berbisik-bisik, sesekali menatap ke arah saya, kemudian berbisik lagi. Begitulah yang mereka lakukan. Hingga si ibu curhat itu melontarkan beberapa pernyataan tentang diri saya, menurut versinya ke pegawai-pegawainya.
Tuhan mengijinkan telinga saya mencuri dengar sedikit tentang apa yang mereka bicarakan. Saat itu juga, saya langsung “tersadarkan”. Bahwa selama ini, kita terlalu banyak berkomentar tentang hal-hal yang sebenarnya tidak kita pahami betul. Tentu saja ibu curhat tadi tidak memahami betul kepentingan saya di sana, bahkan karakter saya. Tetapi, si ibu curhat dan para pegawainya bisa berkomentar selama beberapa menit tentang diri saya. Sungguh, mulut memang terkadang tidak adil.
Saya pun merasa bahwa saya mungkin saja sering melakukan hal-hal semacam itu. Bukan hanya dalam konteks berkomentar sepihak tentang seseorang yang baru saya temui, tapi juga ketika menemui persoalan-persoalan yang sebenarnya saya tidak begitu paham. Terkadang, mulut memang langsung angkat bicara dan berkomentar sesuka hati ketika melihat, mendengar atau membaca sesuatu—yang sebenarnya kita hanya tahu kulitnya saja. Maka, kejadian ini benar-benar membuat saya “tersadarkan” seperti yang saya bilang tadi. Bahwa tidak baik adanya membiarkan mulut bertindak tidak adil pada sesuatu yang pikiran saja belum berani mengeluarkan fonisnya; karena tidak benar-benar tahu tentang sesuatu hal tersebut. Membiarkan diri untuk mencari tahu, sembari mengunci mulut justru lebih bijaksana. Agaknya, memang sudah waktunya kita mulai mengurangi porsi bicara yang tidak penting. Jangan berkomentar, jika hanya tahu dari luar. Karena sudah saatnya memberikan adab dalam berkomentar.
                                                              
Putri Lestari
*tulisan ini ditulis sekitar minggu kedua bulan November tahun 2016, dan masuk dalam salah satu tulisan yang terbengkalai.


0 komentar:

Posting Komentar