Saya
lebih menyukai diri saya yang sekarang. Saya mulai mengakui kesalahan dan
kelemahan diri, meminta maaf pada diri sendiri, kemudian merangkak ke arah yang
saya anggap lebih baik secara perlahan. Saya bersyukur atas semua yang ada. Hidup
rasanya lebih bahagia dan lega.
Di
penghujung 23, saya ingin mengungkapkan beberapa hal yang menurut saya penting.
Sebuah pencapaian berharga untuk diri saya sendiri. Segala hal yang perlu saya
ingat, bahwa saya pernah memikirkan dan melaluinya di 23.
Saya
sangat bersyukur bisa masuk di #KampusFiksi12. Di sanalah saya menemukan banyak
pandangan baru tentang hidup, teranugerahi untuk berubah dan mengembangkan
diri, dan bertemu dengan teman yang seperti keluarga. Mereka semua tulus.
Mereka semua saling menyayangi dalam pengertian tidak berlebihan. Mereka
mengajariku tentang pertemanan sejati.
Mereka
semua keren dengan kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Itu memacu saya
untuk berubah dan mengembangkan diri. Karena sebelumnya, saya merasa tidak bisa
dan tidak tahu cara mengembangkan diri. Terjebak dalam hidup dan pemikiran
hidup yang saya tidak suka, tapi saya juga tidak bisa keluar. Di sana, saat
bertemu dengan mereka yang kerennya berbeda-beda, saya mulai belajar.
Teman-teman #KampusFiksi lain, yang saya tahu dan kenal juga berperan dalam
ini.
Pertemanan
dan kekeluargaan yang mereka tunjukan juga memberikan saya kenyamanan. Hingga
saya mau terbuka pada mereka. Jujur saja, saya orang yang sangat tertutup. Saya
jarang mengungkapkan apa yang saya rasakan. Bahkan, saat saya punya pacar, saya
tidak pernah bilang rindu padanya. Padahal, saya sedang rindu. Ya, begitulah
salah satu kekurangan diri saya. Susah mengungkapkan apa yang sedang saya
rasakan. Kalau ditanya kenapa, mungkin ini ada hubungannya dengan pola asuh
keluarga saya. Tapi, saya juga tidak bisa memastikannya semua berakar dari pola
asuh. Karena saya belum belajar dan menelusurinya.
Di
grup WhatsApp #KampusFiksi12, sedikit demi sedikit saya mau terbuka. Di sana,
saya juga perlahan menjalin pertemanan lebih dekat dengan Serli. Dan, Serli
cukup membantu saya dalam mengatasi masalah kesulitan mengungkapkan perasaan.
Ikatan
yang sudah terjalin antara saya dan Serli selama dua tahun belakangan membuat
saya berani buka-bukaan padanya. Khususnya beberapa hari terakhir. Baru kali
itu saya blak-blakan pada seorang teman. Ah, sepertinya Serli punya sihir
tertentu yang bisa membuat saya bercerita gamblang. Hahahaha!
Saya
senang bisa mengakui kekurangan diri dalam mengungkapkan perasaan dan belajar
mengatasinya di 23. J
Ego
dan idelisme yang tinggi di tahun sebelumnya juga bisa saya atasi. Sekarang,
saya merasa lebih santai dan legowo.
Hahaha! Jadi, kalau dulu saya terlalu idealis terhadap sesuatu, berarti
“dolanku kurang adoh” (artinya, mainnya kurang jauh). Ini benar juga sih.
Karena sekarang saya lebih merasa nyaman dengan belajar menekan idealisme diri
sendiri. Di 23, saya juga mulai menemukan diri saya yang lain. Saya yang suka
mewarnai, belajar memasak dan suka dengan pernak-pernik.
Satu
lagi yang paling membahagiakan adalah saya menemukan solusi untuk kemalasan dan
ketidakkonsistenan saya dalam menulis. Awal Agustus 2016, saya berencana
mengisi blog dengan tajuk #Renungan23. Isinya tentang pemikiran-pemikiran saya
di umur 23. Inspirasinya dari blog Nazura Gulfira yang sangat apik. Saya sudah
merancang untuk mengisi blog seminggu dua-tiga kali. Tapi, rencana itu gagal.
Seperti biasa. Hahaha! Akhirnya, hanya ada beberapa postingan #Renungan23 yang
saya post. Jumlahnya bahkan tidak lebih dari sepuluh. Ini jauh dari target!
Bulan
lalu, saya ikut Writing Challenge dan
ternyata saya bisa konsisten menulis. Saya bisa menekan rasa malas. Saya bisa
menulis di sela-sela kesibukan dan tubuh saya yang mudah lelah. Saya bahagia
sekali bisa menulis tiga puluh challenge
itu. Nah, tema-tema yang diusung juga sebagian besar tentang diri sendiri.
Jadi, saya merasa sekaligus mendapat terapi untuk berani mengungkapkan diri
saya yang sesungguhnya. Berlatih mengungkapkan apa yang saya rasakan. Ini
sangat menyenangkan.
Di
23, saya juga tahu, mana yang menjadi prioritas utama. Kebahagiaan orang tua saya
adalah prioritas utama, segalanya bagi saya. Di malam yang sepi, saat melihat
mereka tertidur lelap karena lelah, saya sempat menitikkan air mata. Dalam
hati, saya berdoa dan memohon pada Tuhan. “Tuhan,
ijinkanlah saya membahagiakan kedua orang tua saya di dunia dan akhirat. Jika
tidak bisa di dunia, maka biarkan saya membahagiakannya di akhirat.” Itulah
yang saya inginkan. Kebahagiaan mereka lebih penting daripada kebahagiaan saya.
Tapi,
satu hal yang masih mengganjal di 23 ini. Saya masih saja merasa tersesat. Saya
belum menemukan dengan jelas, apa yang ingin saya perjuangkan. Apa yang ingin
diri saya kejar dan raih untuk kebahagiaan diri sendiri. Saya merasa senang
berada di kelas bersama para siswa. Melihat perkembangan mental, kepribadian
dan pengetahuan mereka. Tetapi, rasanya saya sangat bosan dan lelah belajar
fisika. Lalu, apa yang akan saya lakukan jika ingin berada di kelas tanpa
mengajar fisika? Bingung kan. Hahaha. Kita sama! Latar belakang pendidikan saya
adalah pendidikan fisika. Tidak mungkin kan, saya di kelas untuk mengatasi
konseling dan perkembangan mereka? Kalau hendak lanjut dan memilih jurusan yang
berbeda, yang bekerja di belakang layar pendidikan, apa saya tidak akan rindu
dengan tawa siswa? Apa saya bisa bahagia tanpa mendengar tawa siswa? Ah,
sudahlah. Saya semakin bingung. Semoga saya segara menemukan titik terang atas
rasa tersesat itu.
Terkahir,
saya ingin mengucapkan terima kasih pada diri saya sendiri yang sudah cukup
banyak belajar, berpikir dan berubah di 23-nya. Terima kasih, saya, di dua
puluh tiga.
Dan,
saya ucapkan selamat datang pada 24. Mari membuatnya lebih bermakna!


0 komentar:
Posting Komentar