Rabu, 08 Februari 2017

#Renungan23: Di penghujung 23...



Saya lebih menyukai diri saya yang sekarang. Saya mulai mengakui kesalahan dan kelemahan diri, meminta maaf pada diri sendiri, kemudian merangkak ke arah yang saya anggap lebih baik secara perlahan. Saya bersyukur atas semua yang ada. Hidup rasanya lebih bahagia dan lega.
Di penghujung 23, saya ingin mengungkapkan beberapa hal yang menurut saya penting. Sebuah pencapaian berharga untuk diri saya sendiri. Segala hal yang perlu saya ingat, bahwa saya pernah memikirkan dan melaluinya di 23.
Saya sangat bersyukur bisa masuk di #KampusFiksi12. Di sanalah saya menemukan banyak pandangan baru tentang hidup, teranugerahi untuk berubah dan mengembangkan diri, dan bertemu dengan teman yang seperti keluarga. Mereka semua tulus. Mereka semua saling menyayangi dalam pengertian tidak berlebihan. Mereka mengajariku tentang pertemanan sejati.
Mereka semua keren dengan kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Itu memacu saya untuk berubah dan mengembangkan diri. Karena sebelumnya, saya merasa tidak bisa dan tidak tahu cara mengembangkan diri. Terjebak dalam hidup dan pemikiran hidup yang saya tidak suka, tapi saya juga tidak bisa keluar. Di sana, saat bertemu dengan mereka yang kerennya berbeda-beda, saya mulai belajar. Teman-teman #KampusFiksi lain, yang saya tahu dan kenal juga berperan dalam ini.
Pertemanan dan kekeluargaan yang mereka tunjukan juga memberikan saya kenyamanan. Hingga saya mau terbuka pada mereka. Jujur saja, saya orang yang sangat tertutup. Saya jarang mengungkapkan apa yang saya rasakan. Bahkan, saat saya punya pacar, saya tidak pernah bilang rindu padanya. Padahal, saya sedang rindu. Ya, begitulah salah satu kekurangan diri saya. Susah mengungkapkan apa yang sedang saya rasakan. Kalau ditanya kenapa, mungkin ini ada hubungannya dengan pola asuh keluarga saya. Tapi, saya juga tidak bisa memastikannya semua berakar dari pola asuh. Karena saya belum belajar dan menelusurinya.
Di grup WhatsApp #KampusFiksi12, sedikit demi sedikit saya mau terbuka. Di sana, saya juga perlahan menjalin pertemanan lebih dekat dengan Serli. Dan, Serli cukup membantu saya dalam mengatasi masalah kesulitan mengungkapkan perasaan.
Ikatan yang sudah terjalin antara saya dan Serli selama dua tahun belakangan membuat saya berani buka-bukaan padanya. Khususnya beberapa hari terakhir. Baru kali itu saya blak-blakan pada seorang teman. Ah, sepertinya Serli punya sihir tertentu yang bisa membuat saya bercerita gamblang. Hahahaha!
Saya senang bisa mengakui kekurangan diri dalam mengungkapkan perasaan dan belajar mengatasinya di 23. J
Ego dan idelisme yang tinggi di tahun sebelumnya juga bisa saya atasi. Sekarang, saya merasa lebih santai dan legowo. Hahaha! Jadi, kalau dulu saya terlalu idealis terhadap sesuatu, berarti “dolanku kurang adoh” (artinya, mainnya kurang jauh). Ini benar juga sih. Karena sekarang saya lebih merasa nyaman dengan belajar menekan idealisme diri sendiri. Di 23, saya juga mulai menemukan diri saya yang lain. Saya yang suka mewarnai, belajar memasak dan suka dengan pernak-pernik.
Satu lagi yang paling membahagiakan adalah saya menemukan solusi untuk kemalasan dan ketidakkonsistenan saya dalam menulis. Awal Agustus 2016, saya berencana mengisi blog dengan tajuk #Renungan23. Isinya tentang pemikiran-pemikiran saya di umur 23. Inspirasinya dari blog Nazura Gulfira yang sangat apik. Saya sudah merancang untuk mengisi blog seminggu dua-tiga kali. Tapi, rencana itu gagal. Seperti biasa. Hahaha! Akhirnya, hanya ada beberapa postingan #Renungan23 yang saya post. Jumlahnya bahkan tidak lebih dari sepuluh. Ini jauh dari target!
Bulan lalu, saya ikut Writing Challenge dan ternyata saya bisa konsisten menulis. Saya bisa menekan rasa malas. Saya bisa menulis di sela-sela kesibukan dan tubuh saya yang mudah lelah. Saya bahagia sekali bisa menulis tiga puluh challenge itu. Nah, tema-tema yang diusung juga sebagian besar tentang diri sendiri. Jadi, saya merasa sekaligus mendapat terapi untuk berani mengungkapkan diri saya yang sesungguhnya. Berlatih mengungkapkan apa yang saya rasakan. Ini sangat menyenangkan.
Di 23, saya juga tahu, mana yang menjadi prioritas utama. Kebahagiaan orang tua saya adalah prioritas utama, segalanya bagi saya. Di malam yang sepi, saat melihat mereka tertidur lelap karena lelah, saya sempat menitikkan air mata. Dalam hati, saya berdoa dan memohon pada Tuhan. “Tuhan, ijinkanlah saya membahagiakan kedua orang tua saya di dunia dan akhirat. Jika tidak bisa di dunia, maka biarkan saya membahagiakannya di akhirat.” Itulah yang saya inginkan. Kebahagiaan mereka lebih penting daripada kebahagiaan saya.
Tapi, satu hal yang masih mengganjal di 23 ini. Saya masih saja merasa tersesat. Saya belum menemukan dengan jelas, apa yang ingin saya perjuangkan. Apa yang ingin diri saya kejar dan raih untuk kebahagiaan diri sendiri. Saya merasa senang berada di kelas bersama para siswa. Melihat perkembangan mental, kepribadian dan pengetahuan mereka. Tetapi, rasanya saya sangat bosan dan lelah belajar fisika. Lalu, apa yang akan saya lakukan jika ingin berada di kelas tanpa mengajar fisika? Bingung kan. Hahaha. Kita sama! Latar belakang pendidikan saya adalah pendidikan fisika. Tidak mungkin kan, saya di kelas untuk mengatasi konseling dan perkembangan mereka? Kalau hendak lanjut dan memilih jurusan yang berbeda, yang bekerja di belakang layar pendidikan, apa saya tidak akan rindu dengan tawa siswa? Apa saya bisa bahagia tanpa mendengar tawa siswa? Ah, sudahlah. Saya semakin bingung. Semoga saya segara menemukan titik terang atas rasa tersesat itu.
Terkahir, saya ingin mengucapkan terima kasih pada diri saya sendiri yang sudah cukup banyak belajar, berpikir dan berubah di 23-nya. Terima kasih, saya, di dua puluh tiga.
Dan, saya ucapkan selamat datang pada 24. Mari membuatnya lebih bermakna!



0 komentar:

Posting Komentar