Senin, 23 Maret 2015

Rindu pada yang Tak Kembali

Di tahun yang susah diperkirakan dengan pasti oleh siapapun, seseorang sedang merasakan pijatan konsisten dari logam berbentuk tangan. Itu alat pemijat baru yang kemarin sore dibeli dari seorang relasi. Menggantikan alat pijat yang sebelumnya hanya bisa bergetar teratur. Padahal, laki-laki itu baru membeli alat pijat getar sebulan lalu. Entahlah, semuanya begitu cepat bergerak dan bergeser. Begitu cepat muncul baru dan menggantikan.
Jangan harap kau temukan android atau blackberry di apartemen lantai 30 milik laki-laki itu. Android dan blackberry hanya milik pengemis di depan pintu otomatis apartemennya.
“Enak Pa, alat pijat yang baru? Lebih enak mana Pa, yang baru atau lama?”
Lebih enak pijatan istri, itu kata Bapak dulu. Gumamnya lirih. Namun dia hanya bisa menelan mentah. Istri yang memijat suami dengan balsem itu sudah kuno!
“Lumayan,” jawabnya malas.
Istrinya kembali sibuk memilih potongan rambut dengan sebuah aplikasi. Hanya memadukan foto dan model yang diinginkan. Dalam waktu sekejap, akan terlihat hasilnya. Kalau tak suka, tinggal ganti model rambut saja. Masa depan seperti mudah dibaca bukan?!
“Pa, ini apa?”
Suara lembut Riesta memecah keasyikan papa-mamanya. Tubuh mungilnya terhuyung menyeret sebuah album foto. Album itu berukuran hampir sama dengan tubuh anak perempuan berusia empat tahun itu. Patah-patah kakinya menghampiri papa yang sedang dipijat.
“Itu hanya album foto kuno sayang,” laki-laki itu menjawab santai.
Riesta terduduk di atas karpet. Konsentrasinya penuh memandangi setiap lembar foto ukuran 4R. Matanya seakan terhipnotis. Diapun bangkit dan berjalan cepat menuju kaca yang menyekat apartemen. Muka mungilnya ditempelkan pada kaca. Sedikit matanya mengerjap. Memandang keluar.
Sekian detik berlalu. Riesta kembali pada album foto yang masih membentangkan sebuah potret. Dahinya mengernyit.
Dia berlari cepat menuju kaca penyekat. Kali ini lebih lama dari yang pertama. Dahinya mengernyit.
“Pa.. . pa. . .”
Riesta berlari menuju papa-nya. Lima jari mungil itu mencengkeram lengan papa.
Papa menekan tombol off. Menghentikan aktivitas pijat tangan-tangan logam itu. Tarikan tangan Riesta terasa berat untuk diabaikan. Sekalipun pap belum mengerti apa artinya.
Pada kaca penyekat itu mereka bermuara. Kedunya sama memandang keluar gedung tanpa bersuara. Hening. Berada dalam pikiran masing-masing. Pikiran yang berbeda, namun isyaratnya sama. Isyarat pembuktian ramalan kuno Jayabaya yang disadari papa dan dipertanyakan Riesta.
Laki-laki itu mengelus rambut putrinya pelan.
“Pa, kenapa berbeda?” tanya Riesta sambil menunjuk sebuah foto.
Laki-laki itu menggendong putrinya. Perempuan yang mereka panggil mama pun ikut mengambil posisi. Dia berdiri tepat disamping papa yang menggendong Riesta. Tangan mama memegang erat lengan papa.
Papa dan mama mendongak. Beberapa detik kemudian mata mereka nanar. Bahkan mama tak sanggup menahan setetes air yang bersumber dari mata. Tetesan itu kemudian menggores make-up cerahnya.
Malam itu, hati papa dan mama teriris untuk kesekian kalinya. Sementara hati Riesta terus bertanya.
***
Mulut Riesta terbuka lebar. Gigi-gigi sebiji timun diperlihatkan sepanjang perjalanan. Ini senyum kemenangannya!
Mama tertunduk. Matanya sendu.
“Kita akan ke tempat yang semalam ada di foto kan Pa?” Riesta bertanya mantap.
Papa dan mama berpandangan sekilas.
“Iya sayang,” sahut mama pelan.
Setelah melewati beberapa kilometer, mobil berhenti. Ini tempat tujuan mereka.
Mata Riesta mengerjap-ngerjap. Membelalak. Sejenak dia hanya memandangi apa yang ada.
“Ma, ini apa Ma? Aku mau tugu yang tinggi kayak di foto,” rengeknya sambil mencengkeram ujung baju mama.
Hening.
Lautan di depan terasa asing untuk Riesta. Ini jauh sekali dari yang ada di foto. Bahkan tak terlihat apapun. Hanya ada air.
“Pa, ini apa? Aku mau ke tugu yang kemarin!” Riesta mulai marah.
Papa menghela napas panjang. Selaput bening mulai melapisi bola matanya.
Entah apa yang harus dijelaskan pada Riesta. Dia tak akan mengerti, bahkan terlalu sulit untuk mengerti.
Semalam, saat dia melihat foto papa di bawah hamparan gemintang langit, dia hanya bisa tercenung. Menelan kecewa. Karena di balik jendela, hanya ada gedung-gedung bertingkat yang sama. Gedung-gedung yang saling berhadapan dan berteman untuk memijaki bumi ini.
Ada banyak cahaya terang dari gedung-gedung itu. Namun tak seindah benda yang tampak kecil dan bersinar dalam foto. Benda yang mama dan papa masih sanggup menyebutnya bintang. Masih nyata terlihat saat mereka melongok keluar jendela kaca rumah dulu.
Konsep bintangpun menjadi sulit dijelaskan untuk riesta. Karena setiap hari dia hanya menatap bintang semu yang semakin menjamur dan mengalahkan bintang sejati.
Dan sekarang, tepat di tengah hamparan air itu, ada sebuah tugu yang sangat ingin dilihat oleh Riesta. Sebuah tugu yang pernah menjadi identitas Ibu Kota negeri ini. Tugu dengan ujung emas, yang kandas ditelan air.
Mama dan papa menatap hamparan air dengan luka tersayat.
Entah berapa meter kubik lagi negeri ini akan tersapu oleh air. Entah berapa banyak lagi kerlip dunia mengalahkan kerlip bintang. Entah seberapa canggih lagi teknologi yang akan muncul esok, lusa, bulan depan atau tahun depan. Kepastian akan rasa rindu itu selalu ada. Kerinduan pada hal-hal yang tak akan pernah kembali. Begitu muncul baru, maka yang lama akan tergantikan. Begitu prinsipnya Nak Riesta!
“Tugunya sudah hilang sayang. Papa dan teman-teman papa yang menghilangkannya,” jelas papa.
Riesta menangis sejadinya.

Terinspirasi dari puisi "Kembalikan Indonesia Padaku (Taufik Ismail)"

0 komentar:

Posting Komentar