Dila
memeras otaknya sampai kering. Berkali-kali memikirkan siapa dan siapa yang
bisa membantu. Hanya ini satu-satunya cara. Namun tak semudah yang dibayangkan.
Ini sich bak mencari jarum ditumpukan jerami! Urusan jodoh memang kerap seperti
ini.
Sebagian
orang memang menemukan jodohnya dengan mudah. Bahkan sangat mudah. Jalan-jalan
ke luar negeri, tersesat, bertemu seseorang, berkenalan hingga akhirnya
berjodoh. Hanya jalan-jalan ke luar negeri saja langsung ketiban durian runtuh.
Ada juga alur jodoh yang mirip sinetron, film, dan lain-lain.
Dan
sebagian yang lain harus bersabar lebih untuk menemukan jodoh. Dila memang
bukan bagian orang-orang yang perlu bersabar. Laki-laki pilihan Tuhan sudah
siap menikahinya. Tepat di usia 24 tahun. Rasanya usia ini sudah pas bagi Dila.
Sayangnya keadaan tak selamanya bisa selaras. Keadaan Mbak Nuri yang belum
menikah di usia 30++.
Ibu
melarang keras pernikahan Dila tahun depan. Jiwa kejawennya angkat bicara untuk
urusan ini. Ibu percaya dengan kutukan itu. Kutukan untuk anak perempuan yang
belum menikah dan dilangkahi saudaranya.
“Kalau
kamu melangkahi Mbak Nuri, dia akan semakin susah dapat jodoh. Ibu nggak bakal
ngijinin sebelum Mbak Nuri nikah!” tegas ibu saat Dila meminta ijin.
Dua
minggu Dila mencoba perang dingin dengan ibu. Harapannya hati ibu akan luluh
dan memberi ijin. Sayangnya kutukan itu terlalu menakutkan. Ibu lebih khawatir
kalau Mbak Nuri semakin susah menikah daripada Dila urung menikah tahun ini. Beruntung
Dimas mau mengerti. Hingga mengambil keputusan terekstrem. Menunggu Dila diijinkan
menikah. Entah berapa lama lagi, tiada kepastian sama sekali.
Sebulan.
Dua bulan. Semuanya berjalan lancar. Di bulan ketiga, sebuah kabar datang
mengacaukan pikiran Dila dan Dimas. Orang tua Dimas memberikan deadline untuk
menikah. Tahun ini Dimas harus melangkah ke pelaminan. Kalau bukan dengan Dila,
mereka bisa mencarikan calon lain.
“Apa
bisa dengan cara ini?” Dila bertanya dengan tatapan kosong.
Hening.
Dimas tampak berpikir lebih dalam. Hendak meyakinkan kekasihnya namun tak
sanggup. Keyakinan apa pula yang mau ditawarkan jika memang semuanya masih serba
meragukan.
“Ah
sial! Kenapa ibu begitu percaya dengan kutukan itu?!” Dila mengumpat sambil
menepuk jidatnya.
“Sudahlah
Dil. Kita nggak bisa nyalahin ibu kamu. Yang harus kita lakukan sekarang
hanyalah. . .”
Belum
sempat Dimas melanjutkan, Dila sudah memotong, “mencarikan jodoh buat Mbak
Nuri?!”
Wajah
Dila berubah masam. Kecut. Sudah dua minggu mereka menjalankan misi ini. Misi
mencari seseorang yang akan mematahkan kutukan. Misi mencari sesuatu yang entah
siapa dan di mana. Pelik!
“Kita
usahakan saja Dil. Walaupun sampai sekarang belum terlihat hasilnya. Sabar ya sayang,”
kata Dimas sambil mengelus tangan dila.
Bersamaan
mereka menegak jus yang sedari tadi diacuhkan. Dinginnya jus lumayan bisa
menyiram otak yang panas. Dimas melempar pandangan pada pintu restaurant. Mata Dila
menangkapnya kemudian ikut merayapi pandangan itu.
“Sudahlah,
mungkin orangnya nggak dateng,” kata Dila lesu.
Hampir
satu jam mereka menunggu. Menunggu laki-laki yang berniat daftar jadi calon
Mbak Nuri.
“Kita
tunggu setengah jam lagi ya,” bujuk Dimas lembut.
***
Rumah
ini bagai gubug derita bagi Dila. Efek perang dingin masih berlanjut. Biasanya suasana
makan malam lebih hangat. Ketiga perempuan penghuni rumah akan saling bercerita
satu sama lain. Tapi sudah seminggu Dila dan ibu saling bungkam lagi. Hanya
Mbak Nuri yang mau bercerita.
“Em
. . . Dila kapan mau nikah sama Dimas?” pertanyaan itu tiba-tiba terlontar dari
Mbak Nuri.
Dia
seolah bisa membaca apa yang terjadi. Ibu dan Dila jelas menyimpan masalah ini
rapat. Takut Mbak Nuri tersinggung.
“E.
. . e . . .,” Dila agak tergagap.
“Eh,
jangan-jangan Dimas udah ngajakin Dila nikah? Udah Dil, terima aja,” kata Mbak
Nuri sambil tersenyum.
“Dila
belum ingin menikah,” jawab ibu.
Mata
ibu melotot tepat ke pusat mata Dila. Membidik.
“Lho,
emang kenapa bu? Dimas kan udah mapan, usianya juga udah cukup. Harusnya Dila
tahun ini menikah saja. Iya nggak dek?”
Mbak
Nuri megedipkan sedikit matanya. Menggoda. Entah tahu atau tidak apa yang terjadi
dibelakangnya. Di meja makan ini, dia terus membicarakan pernikahan. Dila dan
ibu bungkam.
“Kutukan
itu nggak akan terjadi. Tenang saja,” ujar Mbak Nuri disela keheningan.
Kalimatnya
begitu menusuk. Dila dan ibu terperanjat. Terkejut.
“Dil,
menikahlah. Kamu nggak bisa nyuruh Dimas nunggu lagi. dan kamu juga nggak bisa
nunggu mbak yang jodohnya belum terlihat.”
Dila
menunduk. Air mata mulai mengalir menganak sungai di pipinya.
***
Langkah
Dila dipercepat. Kebahagiaan di hati membuncah tanpa bisa ditampung. Semalam,
tak hanya dia yang punya kabar bahagia untuk Dimas. Dimaspun membawa sebuah
kabar yang mengejutkan. Laki-laki yang kemarin tak datang, semalam menelepon Dimas.
Meminta maaf atas ketidakhadirannya dan menjadwalkan ulang pertemuan.
Wajah
Dila semakin berseri saat melihat laki-laki itu. Laki-laki yang akan mematahkan
kutukan kuno. Mereka bertiga membicarakan Mbak Nuri. Dila yang paling semangat
bercerita. Tak satupun kebaikan Mbak Nuri yang luput dari ceritanya.
Sebuah
perkenalanpun berjalan bersamaa persiapan pernikahan. Kekhawatiran di hati ibu
tak lagi ada. Mbak Nuri dan Mas Andra memutuskan akan menikah tahun depan. Hingga
hari itupun datang. Hari pernikahan Dila.
“Adekku
cantik banget,” ujar Mbak Nuri sambil tersenyum.
Mata
Mbak Nuri tak henti menatap Dila yang anggun mengenakan kebaya putih.
“Tahun
depan mbak pasti lebih cantik lagi.”
Kedua
saudara itu saling tatap. Bahagia. hingga telephone Mbak Nuri berdering nyaring.
Membuyarkan tatapan dalam mereka. Satu menit, dua menit Mbak Nuri berbicara
dengan seseorang di ruang kehidupan lain. Air mukanya berubah. Tubuh Mbak Nuri
ambruk, terduduk lemas di lantai.
Cepat
Dila mengahmpiri, “mbak kenapa mbak? ada apa?”
“Mas
Andra kecelakaan dan meninggal,” ujarnya diikuti tangis yang pecah.
Entah ini pertanda
apa. Apa kutukan itu benar-benar terjadi sekarang? Apa memang seharusnya anak
perempuan tak boleh dilangkahi adiknya? Hari yang membahagiakan itu berubah
suram seketika. Hanya karena sebuah kutukan kuno.

0 komentar:
Posting Komentar