Satu
hal yang paling kusepakati soal cinta. Patah kemudian jatuh. Itu rumus paten
buatku. Seperti Tuhan yang memaksa mentari tenggelam kemudian terbit.
“Ada
apa?”
Aku
mengulangi pertanyaan agar rasa kikuk ini tak begitu kentara. Sepuluh menit dia
hanya terdiam dan menatapku lamat. Bagaimana
aku bisa menghadapi keadaan canggung ini? Melihat wajahnya saja aku tak
pernah sempat. Bahkan aku baru tahu kalau dia punya tanda lahir tepat di bagian
bawah dagu. Padahal sudah lima tahun mengenalnya.
“Tidak
ada. Aku hanya ingin bertemu denganmu,” ujarnya diikuti senyum.
Mataku
berpaling pada beberapa pengunjung kedai kopi warna-warni ini. Sebatas
melayangkan pandang saja agar tak semakin dihimpit tatapannya. Melempar pandang
pada warna biru pastel, kuning dan orange yang memenuhi interior kedai kopi. Mirip
dengan kedai kopi di Polandia. Anna Kobylka dan Olga Sietnicka dari Bloogarden
yang merancang kedai kopi di sana. Sementara kedai kopi ini, entah siapa yang
merancang, tak begitu penting bagiku. Hanya saja, tempat ini selalu saja
penting ketika aku datang bersamanya.
Dia
mulai ikut menjalari tatapanku. Pada tamu-tamu yang seolah masa bodoh dengan
sekitar. Di meja seberang, sepasang kekasih beradu dengan tatapannya. Tangan
saling menggenggam di atas meja. Mesra. Tanpa peduli ada mata yang mengintip.
Di sisi meja lain beberapa orang sedang berkumpul dan bermain kartu. Seru
sekali. Beda drastis dengan apa yang kualami sekarang. Canggung!
***
Tiga
bulan yang lalu. Di kedai kopi warna-warni ini.
Atmosfer
kedai kopi ini terasa lebih hangat. Bibir kita tak henti tersenyum. Bahagia.
Pertemuan ini bisa dibilang perayaan. Merayakan lamarannya yang kuterima. Jari
manis ini tak lagi polos.
Busa
susu steam latte yang kupesan bahkan sudah tampak membosankan. Tapi aku belum
ingin menyesapnya. Cincin di jari manis masih begitu menggoda untuk dipandang.
Hatiku
warna-warni. Bagaikan kedai kopi yang selalu menjadi tempat istimewa kita. Aku
dan Raka pecandu kopi tingkat rendah. Langganan cappuccino atau latte, turunan
espresso. Hampir seminggu sekali kita ke sana. Sempat tak sempat harus sempat!
“Apa
yang membuatmu begitu senang hingga kau melupakan latte favoritmu?”
Raka
tersenyum lebar. Menyelidik mata bahagia milikku. Ah, tentu saja dia tahu
betul. Aku bahagia karena lamarannya. Tanganku meraih gagang cangkir. Mengadukan
bibir dengan busa susu steam. Seteguk. Dua teguk.
“Raka,
bukankah ini sangat menyenangkan?”
Aku
tersenyum. Merayapkan semua rasa di hati. Tak peduli angin berhembus lembut
menerpa jilbab, memberi efek berkelebat. Hubungan ini, entah benar atau tidak,
tapi aku menyukainya. Seluruh dunia mungkin bertanya. Bagaimana aku bisa
menerima lamaran orang ini? Seseorang yang bahkan sekalipun tak pernah
mengajakku berpacaran.
Tapi
ini bukan lelucon. Aku benar- benar menerima lamarannya kemarin. Lima tahun
mengenalnya, sudah cukup bukan? Bahkan umur relationship anak muda sekarang tak
selama itu. Dan lima tahun itu benar-benar berarti. Pertemanan yang benar menakjubkan.
Sungguh klise kalau aku bilang dia laki-laki baik dan sempurna. Toh dia selalu
lupa dimana meletakkan kunci mobil. Tapi dia melengkapi. Melengkapi hatiku yang
selama ini terasa rumpang.
Sekali
dalam hidupku menemukan teman seperti Raka. Laki-laki berkaki panjang itu
memperlakukanku dengan baik. Dia atasan yang berhak memutuskan ini-itu. Keputusan
di kantor mungkin masih bisa dilobi asal ada argumen kuat, masuk akal dan tentu
saja secangkir latte atau cappuccino. Tapi keputusannya yang satu ini sangat
saklek. Aku berhak menolak ikut nongkrong sepulang kerja di hari Jumat. Sekalipun
besok weekend dan itu tradisi sebulan sekali, aku tetap berhak menolaknya. Aku
hanya wajib mengikuti perkumpulan sore di kedai kopi ini. Rutinitas Sabtu sore,
dua minggu sekali di divisiku. Dari sanalah kita saling tahu. Kita cocok! Klop!
Untuk minuman bercafein ini.
Begitulah
sepanjang lima tahun, Raka selalu membawa kebahagiaan. Membuat bunga-bunga di
hatiku mekar seketika. Entah memang sudah musim semi atau masih musim dingin. Bunga-bunga
di hatiku bermekaran begitu subur tanpa terkendali.
“Apa
yang membuatmu menerima lamaranku?”
Mungkin
ini juga pertanyaan seluruh makhluk yang tahu kisah kita. Aku menghela napas
panjang. Membuat napasnya berhenti dan menunggu jawabanku. Air mukanya tampak
serius. Seperti saat memeriksa laporan akhir bulan.
“Harga
diri.”
Dahinya
mulai mengernyit. Mengkerut. Beberapa lipatan memberi efek wajah lebih tua.
“Bagiku
cinta adalah harga diri. Siapa yang memberikan penghargaan dan penghormatan
pada diriku, dialah yang paling mencintaiku. Dan. . .,” aku menghela napas
membuatnya semakin penasaran, “apa yang telah kau lakukan lima tahun ini sudah
lengkap.”
Raka
tersenyum simpul. Sejenak dia mulai menyelami sinar mata ini. Aku melempar
pandangan pada seberang jalan. Kaca yang menggantikan tembok kedai kopi ini
membuatku leluasa memandang keluar. Untung saja dia tak lupa memesan tempat
favorit ini. Tanpa memesannya terlebih dahulu pasti sudah dipakai. Tempat ini
memang paling eksklusif. Apapun yang sedang berada di jalanan bisa dinikmati
dari dalam kedai. Anak kecil yang berlarian di trotoar, seniman jalanan yang
terus bersenandung dan orang berlalu-lalang. Duduk di bangku retro sambil
menikmati latte akan semakin indah.
“Bagaimana
jika aku punya masa lalu, Dea?” Raka menatapku tajam.
Aku
menoleh, kembali menatapnya lamat. Rasanya ada yang berbeda hari ini. Ini bukan Raka yang biasanya.
“Setiap
orang punya masa lalu Raka,” jawabku kemudian tersenyum.
Lagi,
dia menatap tajam. Menghunus tepat di bola mataku.
“Dea,
kau tampak mempesona dengan keanggunan dan harga dirimu. Hatimu cantik bagikan
bunga yang selalu dirawat tanpa boleh dipetik. Aku beda denganmu.”
Intonasi
suaranya melemah di akhir. Tatapanku semakin lamat. Mencoba menyelami apa yang
mata itu akan katakan.
“Aku
punya masa lalu Dea. Kau harus tahu, sebelum semuanya terlanjur jauh.”
Raka
meletakkan sebuah buku. Katanya itu buku masa lalu. Aku harus membacanya,
sebelum semua berjalan lebih jauh. Setidaknya itu yang dia katakan sebelum
meninggalkanku terpekur di kedai kopi.
***
Canggung!
Tak
mungkin aku bertanya ada apa lagi. Jarum
jam terus bergerak tanpa memperdulikan kita yang stagnan.
“Kau
sudah membacanya?”
Terbata
dia bertanya. Aku yakin, dia sudah mengumpulkan beribu keberanian untuk
menanyakannya. Sementara hatiku jadi getir. Pahit! Bagaimana mungkin aku lupa
membaca buku penting itu? Buku yang membuatku terpekur dua hari di dalam kamar.
Memikirkan banyak hal. Aku, dia dan. . . kita?!
“Iya.”
Tiga
bulan aku memilih bungkam. Menelan semuanya bersama udara yang kian terasa
hambar. Masa lalunya. . . Ah, andai saja masa lalu tak pernah ada. Pasti pertemuan
sekarang membicarakan tanggal pernikahan. Bukan bermain pada luka hati yang sebenarnya
tak pernah ada. Karena masa lalunya yang melukaiku.
“Apa
kau tak ingin mengatakan sesuatu lagi Dea?” tanyanya mulai pesimis.
Aku
tertegun. Menunduk. Kembali memikirkan hal yang sudah tiga bulan memenuhi
otakku. Masa lalunya! Empat belas bukanlah angka yang sedikit. Apalagi itu
adalah jumlah hati perempuan yang pernah bersamanya. Empat belas hati, empat
belas kisah cinta dan empat belas patah hati. Mungkin juga empat belas lukas
yang pernah dia torehkan. Apa aku masih
bisa menerimanya?
“Raka,
setiap orang pasti punya masa lalu. tak hanya kau. Hanya saja, sepertinya kau
sedang tak beruntung. Kau punya masa lalu yang buruk. Bahkan sangat buruk,”
ujarku sambil tersenyum simpul. Mencairkan suasana.
“Raka,
satu hal yang paling kusepakati soal cinta. Patah kemudian jatuh. Itu yang
kudapat dari cerita masa lalumu.”
Raka
menatapku penuh tanya. Hikmat mendengarkan. Udara mengisi kekosongan ini. Aku
kembali menenggak latte. Mengurangi intesitas serius pembicaraan.
“Iya,
patah kemudian jatuh. Tak sadarkah kau, patah hati adalah pertanda bahwa kau
akan jatuh cinta. Sayangnya, selama ini kau sama sekali tak tahu itu. Kau hanya
tahu patah hati menyakitkan. Padahal ada kabar gembira dibalik patah. Kabar
bahwa kau akan jatuh cinta suatu saat nanti,” lanjutku.
“Raka,
apa kau pernah menyadari satu hal? Apa yang membuat matahari terbit?”
Air
mukanya berubah seketika. Mungkin terkejut dengan pertanyaanku. Seharusnya kita
saling berbicara tentang perasaan dan masa depan. Kenapa justru membahas matahari
yang selalu terlihat bulat dari bumi.
“Rotasi
bumi???” tanyanya sambil mengangkat bahu.
Aku
terkekeh,“sejak kapan kau jadi ilmiah begini?”
Raka
ikut terkekeh. Otot-otot dimukanya terlihat tak mengkerut lagi. Lebih rileks.
“Matahari
tak mungkin terbit kalau tak tenggelam terlebih dahulu. Sama halnya dengan patah
kemudian jatuh. Tak akan ada jatuh cinta jika tak patah patah hati terlebih
dahulu. Itu kesalahan terbesarmu di masa lalu. Kau tak pernah menyadarinya.
Hingga kau patah dan jatuh berkali-kali tanpa ampun. Tanpa pernah sadar,
setelah patah akan ada saatnya jatuh suatu hari nanti. Bukan lekas memaksa
jatuh cinta untuk mengurangi rasa sakit patah hati. Akan ada saatnya patah, dan
akan ada saatnya jatuh yang tepat.”
Mungkin
laki-laki di hadapanku terkesan. Wajahnya terlihat tercekat. Memandangiku agak lama.
Hening.
“Apa
kau bisa memaafkan kebodohanku di masa lalu itu?”
Mantap
dia bertanya. Matanya menatapku lamat. Semburat cahaya lampu kedai kopi yang
menggantung terpantul dari bola matanya. Bersinar. Bening. Menghangatkan. Ah, andai saja kau tak patah dan jatuh
sebanyak itu di masa lalu, Raka. . .
Pedih.
Rasanya ada yang tersayat di dalam tubuhku. Segumpal daging yang bisa merusakkan
seluruh tubuh. Hati. Leherku berputar sembilan puluh derajat. Menatap jalanan
lengan atau apapun yang ada di hadapan. Semuanya tersapu oleh mata yang
menghindar darinya.
Lima
menit. Kita sama diamnya. Membiarkan angin lewat begitu saja. Mengacuhkan seluruh
isi kedai yang terus bergerak.
“Apa
kau bisa memaafkan kebodohanku di masa lalu, Dea?”
Aku
kembali menatapnya. Menghela napas panjang. Mengarahkan sorot mata hanya
padanya.
“Aku
telah patah. Patah hati dengan diriku sendiri. Merasa kurang lengkap hingga
akhirnya merasa membutuhkan seseorang. Kemudian aku jatuh. Jatuh padamu, Raka,”
ujarku sambil tersenyum.
Senyum lebarnya
terpasang lepas. Mungkin dia merasa lega mendengar itu. Pun aku yang merasa lega
bisa memaafkan masa lalunya. Hanya karena masa lalu yang buruk, seseorang tak
perlu dihukum berat di masa depan. Asal ada penyesalan dan perubahan, rasanya
itu sudah cukup.

0 komentar:
Posting Komentar