Jumat, 06 Maret 2015

Patah Kemudian Jatuh

Satu hal yang paling kusepakati soal cinta. Patah kemudian jatuh. Itu rumus paten buatku. Seperti Tuhan yang memaksa mentari tenggelam kemudian terbit.
“Ada apa?”
Aku mengulangi pertanyaan agar rasa kikuk ini tak begitu kentara. Sepuluh menit dia hanya terdiam dan menatapku lamat. Bagaimana aku bisa menghadapi keadaan canggung ini? Melihat wajahnya saja aku tak pernah sempat. Bahkan aku baru tahu kalau dia punya tanda lahir tepat di bagian bawah dagu. Padahal sudah lima tahun mengenalnya.
“Tidak ada. Aku hanya ingin bertemu denganmu,” ujarnya diikuti senyum.
Mataku berpaling pada beberapa pengunjung kedai kopi warna-warni ini. Sebatas melayangkan pandang saja agar tak semakin dihimpit tatapannya. Melempar pandang pada warna biru pastel, kuning dan orange yang memenuhi interior kedai kopi. Mirip dengan kedai kopi di Polandia. Anna Kobylka dan Olga Sietnicka dari Bloogarden yang merancang kedai kopi di sana. Sementara kedai kopi ini, entah siapa yang merancang, tak begitu penting bagiku. Hanya saja, tempat ini selalu saja penting ketika aku datang bersamanya.
Dia mulai ikut menjalari tatapanku. Pada tamu-tamu yang seolah masa bodoh dengan sekitar. Di meja seberang, sepasang kekasih beradu dengan tatapannya. Tangan saling menggenggam di atas meja. Mesra. Tanpa peduli ada mata yang mengintip. Di sisi meja lain beberapa orang sedang berkumpul dan bermain kartu. Seru sekali. Beda drastis dengan apa yang kualami sekarang. Canggung!
***
Tiga bulan yang lalu. Di kedai kopi warna-warni ini.
Atmosfer kedai kopi ini terasa lebih hangat. Bibir kita tak henti tersenyum. Bahagia. Pertemuan ini bisa dibilang perayaan. Merayakan lamarannya yang kuterima. Jari manis ini tak lagi polos.
Busa susu steam latte yang kupesan bahkan sudah tampak membosankan. Tapi aku belum ingin menyesapnya. Cincin di jari manis masih begitu menggoda untuk dipandang.
Hatiku warna-warni. Bagaikan kedai kopi yang selalu menjadi tempat istimewa kita. Aku dan Raka pecandu kopi tingkat rendah. Langganan cappuccino atau latte, turunan espresso. Hampir seminggu sekali kita ke sana. Sempat tak sempat harus sempat!
“Apa yang membuatmu begitu senang hingga kau melupakan latte favoritmu?”
Raka tersenyum lebar. Menyelidik mata bahagia milikku. Ah, tentu saja dia tahu betul. Aku bahagia karena lamarannya. Tanganku meraih gagang cangkir. Mengadukan bibir dengan busa susu steam. Seteguk. Dua teguk.
“Raka, bukankah ini sangat menyenangkan?”
Aku tersenyum. Merayapkan semua rasa di hati. Tak peduli angin berhembus lembut menerpa jilbab, memberi efek berkelebat. Hubungan ini, entah benar atau tidak, tapi aku menyukainya. Seluruh dunia mungkin bertanya. Bagaimana aku bisa menerima lamaran orang ini? Seseorang yang bahkan sekalipun tak pernah mengajakku berpacaran.
Tapi ini bukan lelucon. Aku benar- benar menerima lamarannya kemarin. Lima tahun mengenalnya, sudah cukup bukan? Bahkan umur relationship anak muda sekarang tak selama itu. Dan lima tahun itu benar-benar berarti. Pertemanan yang benar menakjubkan. Sungguh klise kalau aku bilang dia laki-laki baik dan sempurna. Toh dia selalu lupa dimana meletakkan kunci mobil. Tapi dia melengkapi. Melengkapi hatiku yang selama ini terasa rumpang.
Sekali dalam hidupku menemukan teman seperti Raka. Laki-laki berkaki panjang itu memperlakukanku dengan baik. Dia atasan yang berhak memutuskan ini-itu. Keputusan di kantor mungkin masih bisa dilobi asal ada argumen kuat, masuk akal dan tentu saja secangkir latte atau cappuccino. Tapi keputusannya yang satu ini sangat saklek. Aku berhak menolak ikut nongkrong sepulang kerja di hari Jumat. Sekalipun besok weekend dan itu tradisi sebulan sekali, aku tetap berhak menolaknya. Aku hanya wajib mengikuti perkumpulan sore di kedai kopi ini. Rutinitas Sabtu sore, dua minggu sekali di divisiku. Dari sanalah kita saling tahu. Kita cocok! Klop! Untuk minuman bercafein ini.
Begitulah sepanjang lima tahun, Raka selalu membawa kebahagiaan. Membuat bunga-bunga di hatiku mekar seketika. Entah memang sudah musim semi atau masih musim dingin. Bunga-bunga di hatiku bermekaran begitu subur tanpa terkendali.
“Apa yang membuatmu menerima lamaranku?”
Mungkin ini juga pertanyaan seluruh makhluk yang tahu kisah kita. Aku menghela napas panjang. Membuat napasnya berhenti dan menunggu jawabanku. Air mukanya tampak serius. Seperti saat memeriksa laporan akhir bulan.
“Harga diri.”
Dahinya mulai mengernyit. Mengkerut. Beberapa lipatan memberi efek wajah lebih tua.
“Bagiku cinta adalah harga diri. Siapa yang memberikan penghargaan dan penghormatan pada diriku, dialah yang paling mencintaiku. Dan. . .,” aku menghela napas membuatnya semakin penasaran, “apa yang telah kau lakukan lima tahun ini sudah lengkap.”
Raka tersenyum simpul. Sejenak dia mulai menyelami sinar mata ini. Aku melempar pandangan pada seberang jalan. Kaca yang menggantikan tembok kedai kopi ini membuatku leluasa memandang keluar. Untung saja dia tak lupa memesan tempat favorit ini. Tanpa memesannya terlebih dahulu pasti sudah dipakai. Tempat ini memang paling eksklusif. Apapun yang sedang berada di jalanan bisa dinikmati dari dalam kedai. Anak kecil yang berlarian di trotoar, seniman jalanan yang terus bersenandung dan orang berlalu-lalang. Duduk di bangku retro sambil menikmati latte akan semakin indah.
“Bagaimana jika aku punya masa lalu, Dea?” Raka menatapku tajam.
Aku menoleh, kembali menatapnya lamat. Rasanya ada yang berbeda hari ini. Ini bukan Raka yang biasanya.
“Setiap orang punya masa lalu Raka,” jawabku kemudian tersenyum.
Lagi, dia menatap tajam. Menghunus tepat di bola mataku.
“Dea, kau tampak mempesona dengan keanggunan dan harga dirimu. Hatimu cantik bagikan bunga yang selalu dirawat tanpa boleh dipetik. Aku beda denganmu.”
Intonasi suaranya melemah di akhir. Tatapanku semakin lamat. Mencoba menyelami apa yang mata itu akan katakan.
“Aku punya masa lalu Dea. Kau harus tahu, sebelum semuanya terlanjur jauh.”
Raka meletakkan sebuah buku. Katanya itu buku masa lalu. Aku harus membacanya, sebelum semua berjalan lebih jauh. Setidaknya itu yang dia katakan sebelum meninggalkanku terpekur di kedai kopi.
***
Canggung!
Tak mungkin aku bertanya ada apa lagi. Jarum jam terus bergerak tanpa memperdulikan kita yang stagnan.
“Kau sudah membacanya?”
Terbata dia bertanya. Aku yakin, dia sudah mengumpulkan beribu keberanian untuk menanyakannya. Sementara hatiku jadi getir. Pahit! Bagaimana mungkin aku lupa membaca buku penting itu? Buku yang membuatku terpekur dua hari di dalam kamar. Memikirkan banyak hal. Aku, dia dan. . . kita?!
“Iya.”
Tiga bulan aku memilih bungkam. Menelan semuanya bersama udara yang kian terasa hambar. Masa lalunya. . . Ah, andai saja masa lalu tak pernah ada. Pasti pertemuan sekarang membicarakan tanggal pernikahan. Bukan bermain pada luka hati yang sebenarnya tak pernah ada. Karena masa lalunya yang melukaiku.
“Apa kau tak ingin mengatakan sesuatu lagi Dea?” tanyanya mulai pesimis.
Aku tertegun. Menunduk. Kembali memikirkan hal yang sudah tiga bulan memenuhi otakku. Masa lalunya! Empat belas bukanlah angka yang sedikit. Apalagi itu adalah jumlah hati perempuan yang pernah bersamanya. Empat belas hati, empat belas kisah cinta dan empat belas patah hati. Mungkin juga empat belas lukas yang pernah dia torehkan. Apa aku masih bisa menerimanya?
“Raka, setiap orang pasti punya masa lalu. tak hanya kau. Hanya saja, sepertinya kau sedang tak beruntung. Kau punya masa lalu yang buruk. Bahkan sangat buruk,” ujarku sambil tersenyum simpul. Mencairkan suasana.
“Raka, satu hal yang paling kusepakati soal cinta. Patah kemudian jatuh. Itu yang kudapat dari cerita masa lalumu.”
Raka menatapku penuh tanya. Hikmat mendengarkan. Udara mengisi kekosongan ini. Aku kembali menenggak latte. Mengurangi intesitas serius pembicaraan.
“Iya, patah kemudian jatuh. Tak sadarkah kau, patah hati adalah pertanda bahwa kau akan jatuh cinta. Sayangnya, selama ini kau sama sekali tak tahu itu. Kau hanya tahu patah hati menyakitkan. Padahal ada kabar gembira dibalik patah. Kabar bahwa kau akan jatuh cinta suatu saat nanti,” lanjutku.
“Raka, apa kau pernah menyadari satu hal? Apa yang membuat matahari terbit?”
Air mukanya berubah seketika. Mungkin terkejut dengan pertanyaanku. Seharusnya kita saling berbicara tentang perasaan dan masa depan. Kenapa justru membahas matahari yang selalu terlihat bulat dari bumi.
“Rotasi bumi???” tanyanya sambil mengangkat bahu.
Aku terkekeh,“sejak kapan kau jadi ilmiah begini?”
Raka ikut terkekeh. Otot-otot dimukanya terlihat tak mengkerut lagi. Lebih rileks.
“Matahari tak mungkin terbit kalau tak tenggelam terlebih dahulu. Sama halnya dengan patah kemudian jatuh. Tak akan ada jatuh cinta jika tak patah patah hati terlebih dahulu. Itu kesalahan terbesarmu di masa lalu. Kau tak pernah menyadarinya. Hingga kau patah dan jatuh berkali-kali tanpa ampun. Tanpa pernah sadar, setelah patah akan ada saatnya jatuh suatu hari nanti. Bukan lekas memaksa jatuh cinta untuk mengurangi rasa sakit patah hati. Akan ada saatnya patah, dan akan ada saatnya jatuh yang tepat.”
Mungkin laki-laki di hadapanku terkesan. Wajahnya terlihat tercekat. Memandangiku agak lama.
Hening.
“Apa kau bisa memaafkan kebodohanku di masa lalu itu?”
Mantap dia bertanya. Matanya menatapku lamat. Semburat cahaya lampu kedai kopi yang menggantung terpantul dari bola matanya. Bersinar. Bening. Menghangatkan. Ah, andai saja kau tak patah dan jatuh sebanyak itu di masa lalu, Raka. . .
Pedih. Rasanya ada yang tersayat di dalam tubuhku. Segumpal daging yang bisa merusakkan seluruh tubuh. Hati. Leherku berputar sembilan puluh derajat. Menatap jalanan lengan atau apapun yang ada di hadapan. Semuanya tersapu oleh mata yang menghindar darinya.
Lima menit. Kita sama diamnya. Membiarkan angin lewat begitu saja. Mengacuhkan seluruh isi kedai yang terus bergerak.
“Apa kau bisa memaafkan kebodohanku di masa lalu, Dea?”
Aku kembali menatapnya. Menghela napas panjang. Mengarahkan sorot mata hanya padanya.
“Aku telah patah. Patah hati dengan diriku sendiri. Merasa kurang lengkap hingga akhirnya merasa membutuhkan seseorang. Kemudian aku jatuh. Jatuh padamu, Raka,” ujarku sambil tersenyum.
Senyum lebarnya terpasang lepas. Mungkin dia merasa lega mendengar itu. Pun aku yang merasa lega bisa memaafkan masa lalunya. Hanya karena masa lalu yang buruk, seseorang tak perlu dihukum berat di masa depan. Asal ada penyesalan dan perubahan, rasanya itu sudah cukup.

0 komentar:

Posting Komentar