Aku
punya masalah dengan si disiplin. Dari dulu, masalah ini tidak bisa kupecahkan
walau sudah mencoba berbagai cara.
Orang-orang
bilang, dengan membuat jadwal harian, maka masalah disiplin bisa tertasi. Aku
pun menuruti mereka. Setiap malam, sebelum tidur, aku membuat jadwal harian
tentang apa saja yang harus kulakukan besok. Kutullis runut dari pagi sampai
malam, beserta dengan jamnya. Sehari, dua hari, semua berjalan mulus. Tapi,
belum sampai seminggu, semua kembali seperti semula. Aku gagal disiplin.
Merenungi
kegagalan itu, sebuah web menjawabnya bahwa terlalu rinci menulis jadwal
kegiatan juga tidak terlalu bagus. Maka, aku mencoba lagi. Mengganti jadwal
harian dengan “list to do” setiap hari. Tiap malam atau pagi, aku
menuliskannya. Belum ada seminggu, aku sudah gagal lagi.
Pengingat
atau memo atau semacamnya juga pernah kulakukan. Kutulis di kertas kemudian
kutempel di tembok. Ditambah lagi menuliskannya di ponsel. Tujuannya, suapaya
aku selalu ingat dan terngiang-ngiang dengan niat (baik) berdisiplin. Hasilnya,
sampai bulan kemarin, di wallpaper
depan ponselku terdapat sebuah memo yang harusnya kulakukan bulan lalu. Hahaha!
Aku gagal lagi.
Beberapa
cara lain sudah pernah kucoba, yang bahkan aku sudah lupa cara seperti apa itu.
Hahaha. Ketiga cara di atas adalah yang kuingat dan kuterapkan dalam waktu
dekat ini. Saat disodori tema ini, aku berpikir bahwa kemageranku ini sudah
terlalu akut. Tidak bisa ditangani dengan cara mana pun. Lalu, aku berpikir
lebih lanjut, bahwa mungkin saja di dalam diri setiap manusia terdapat “rasa
ingin melanggar” aturan. Hingga aku melanggar aturan—semua kegiatan yang ingin
dilakukan—yang kubuat sendiri. Di pikiranku juga terbersit bahwa mungkin saja
aku ditakdirkan untuk tidak disiplin. *teori apaan ini?
Tapi,
jika aku kembali ke bulan januari, aku melihat sesuatu yang berbeda. Di bulan
januari, aku ikut 30DaysWritingChallenges, 10HariTantatanMenulisKF, dan
30HariBercerita di Instagram. Di blogku, ada tiga puluh lebih tulisan yang
terbit pada bulan itu. Artinya, aku juga bisa disiplin walau dalam keadaan
jadwal di bimbel sedang padat. Jika diingat, aku menulis di ponsel sepulang
dari bimbel, saat badan benar-benar lelah. Sambil tiduran dengan maksud
istirahat, aku menulis semua itu. Paginya, saat badan sudah fresh, aku edit
tulisan semalam kemudian posting di blog. Kadang sehari satu tulisan bisa dituliskan.
Tak jarang juga aku absen menulis sehari dua hari, karena terlalu lelah atau ada
hal-hal yang mendadak menyita waktu. Kalau itu terjadi, yang kulakukan adalah menggantinya
di hari lain. Semua tulisan harus selesai di 31 Januari. Dan, aku benar-benar menyelesaikannya!
Prok prok prok~
Sekarang,
ada beberapa tulisan yang kuanggap sebagai hutang, tapi tak kunjung kucicil
pelunasannya. Hihihi. Aku mulai berpikir bahwa mager atau malas adalah
satu-satunya penyebab ketidakdisiplinan diri. Dan, mindset adalah satu-satunya
obat untuk itu. Semua berpangkal pada pikiran. Jadi, mulai sekarang, aku akan
memperbaiki pikiranku untuk tetap lurus berdisiplin.
Semoga
bisa, yes?
*ditulis
untuk satu minggu satu cerita

0 komentar:
Posting Komentar