Minggu, 16 Juli 2017

Usaha terbaik

sumber gambar: google

Yang terbaik, yang pernah kulakukan
Mundur beberapa tahun silam, saat aku masih duduk di bangku sekolahSD, SMP dan SMA, hariku habis untuk belajar. Sore, malam hari, selepas subuh, aku mengisi waktu dengan belajar. Aku menyelesaikan Pekerjaan Rumah (PR), membaca dan mengerjakan latihan berikutnya. Waktu belajar pun kutambah saat ulangan tengah semester dan kenaikan kelas. Waktuku benar-benar kucurahkan untuk belajar.
Saat kelas tiga SMP dan SMA, aku tidak pernah mendapat kesempatan les di bimbingan belajar. Karena biayanya terlalu mahal. Sebagian besar teman-temanku masuk bimbingan belajar. Katanya, untuk hasil ujian yang lebih baik, begitu kurang lebih kalimat promosi bimbel. Saat itu, aku melihat teman-temanku punya kesempatan belajar lebih banyak. Mereka diberi buku-buku panduan dari bimbel, diberi cara-cara praktis. Aku ingin punya kesempatan seperti mereka. Maka, aku meminjam buku panduan dan catatan teman dekatku. Seminggu sekali, tiap akhir pekan, saat bimbel libur aku belajar buku temanku itu. Buatku, keterbatasan bukanlah hambatan, melainkan tantangan.
Di semester akhir kelas satu SMA, energi kuhabiskan untuk berjuang. Semester itu adalah penentuan jurusan. Semua orang memandang bahwa IPA jurusan yang elegan, dihuni oleh orang-orang dengan rangking terbaik. Buktinya, untuk masuk IPA, ada standart nilai yang perlu dipenuhi. Jika tidak, maka akan dilempar ke jurusan IPS atau Bahasa. Masyarakat juga memandang jurusan IPA spesial. Seorang anak yang masuk jurusan IPA, akan mengangkat derajat orang tuanya di mata tetangga. Begitulah sekiranya pandangan semua orang, yang pada saat itu juga mempengaruhi pandanganku dan teman-teman. Kita semua berjuang untuk masuk IPA. Jadwal belajar kutambah, hingga kadang lupa makan. Di akhir tahun ajaran, aku mendapatkan apa yang kuinginkan. Tapi, aku juga mendapatkan penyakit maag yang lumayan parah. Tiga minggu masa liburan hanya kugunakan untuk istirahat di rumah. Saat itu, aku juga telah mengeluarkan usaha terbaikku.
Yang terbaik, yang pernah kudapatkan
Enam tahun belajar di SD, aku tak pernah melewatkan posisi pertama. Pernah suatu kali aku tak berada di peringkat pertama. Tapi, mungkin ini karena sentimen pribadi seorang pendidik. Lain kali, akan kubahas sendiri. Lulus ujian dengan nilai yang baik. Bisa masuk SMP dan SMA yang bagus, sesuai harapanku.
Di SMA, aku masuk jurusan IPA dan selalu peringkat dua di kelas. Itu pula yang mengantarkanku masuk ke perguruan tinggi lewat jalur tanpa tes.
Saat kuliah yang berkesan di benakku adalah memperjuangkan skripsi. Setiap hari menunggu di depan ruangan dosen pembimbing. Dari pagi sampai menjelang malam. Malamnya lembur revisi, sampai pagi. Tidur hanya tiga-empat jam saja. Hasilnya, lulus sesuai waktu yang didambakan.
Apa itu terbaik?
Setelah lulus, aku mulai kehilangan definisi terbaik. Dulu, rangking satu dianggap yang terbaik. IPK tertinggi juga yang terbaik. Lalu, apa pekerjaan dengan pangkat tinggi itu terbaik? Aku mulai bingung ingin meraih apa. Ingin berusaha seterbaik apa hingga aku bisa sampai di titik yang dulu kuanggap terbaik. Aku tidak tahu, bingung, hingga semua itu mengantarkanku pada keadaan stagnan luar biasa.
Sekarang, aku hanya bisa mengerjakan apa pun seterbaik diriku. Walau itu hanya dalam mencuci baju.

*untuk 1minggu1cerita

sebenarnya ini tema minggu lalu. Nulisnya juga minggu lalu. Tapi, aku lupa upload dan setor karena berada di luar kota.

0 komentar:

Posting Komentar