Selasa, 13 Juni 2017

#7DaysKF: Aku kehilangan arah

sumber gambar: google


Dua tahun lalu, saat aku lulus kuliah, aku merasa kehilangan sesuatu yang sangat penting dalam hidup, yaitu jati diri dan arah hidup.

Setalah lulus, aku tidak tahu ingin jadi apa. Kebingungan besar melandaku. Sementara waktu terus berjalan, tak mau menunggu aku yang bingung. Sementara semua ini terlanjur terjadi, orang-orang kampung memandangku lebih tinggi, sebagai seorang sarjana—tidak banyak yang sarjana di kampungku, kecuali mereka anak perangkat desa.

Aku ini sarjana pendidikan, tapi saat itu aku tidak ingin mengajar. Em, mungkin lebih tepatnya, tidak ingin mengajar fisika. Begitu lulus, aku yang lemah dalam bahasan-bahasan kelistrikan, elektromagnetik, dan sejenisnya, merasa enggan bertemu fisika. Bisa dibilang, aku kehilangan kemistri dengan fisika.

Tapi, aku tidak kehilangan passion untuk mengajar. Aku tetap ingin mengajar. Di dalam kelas, bertemu banyak siswa, tetapi aku tidak ingin membicarakan fisika sama sekali. Padahal, empat tahun aku kuliah fisika dan mendapatkan gelar sarjana dari sana. Sudah semestinya aku berada di dalam kelas dan mendongeng tentang hukum newton. Lalu, apa yang akan kulakukan di dalam kelas kalau tak mau berbicara tentang fisika sama sekali? Saat itu, aku berpikir bahwa aku gila. Hahahaha.

Sudah ada niatan dalam hati untuk berhenti dulu, sembari berpikir. Tidak memasukkan lamaran ke sekolah mana pun, sambil memantau peluang pekerjaan lain. Tapi, takdir berkata lain dan mempertemukan aku dengan sebuah pekerjaan paruh waktu: jadi tutor les. Awalnya aku berpikir untuk menolak. Aku masih membutuhkan waktu untuk berpikir. Setelah berpikir ulang, luntang-luntung sambil berpikir itu tak enak. Lebih baik aku jalani ini sambil berpikir. Aku pun menerima tawaran itu.

Satu bulan, dua bulan, tiga bulan, hingga satu tahun, aku masih merasa ingin kabur dari pekerjaan ini. Aku tak suka. Terjerat. Dadaku sesak. Aku ingin lari sejauh mungkin. Aku tetap tidak ingin mengocehkan hukum newton terlalu banyak di depan siswa. Merasa kemampuanku tak seberapa. Walau siswa banyak yang terbantu atas dongengku. Beberapa kali aku bolos kerja untuk memasukkan lamaran ke Bank dan perusahaan lain. Sayangnya, tak satu pun usahaku membuahkan hasil. Tak ada yang memanggilku untuk wawancara. Aku merasa semakin frustasi.

Orang tua dan teman-temanku tak tahu apa yang kurasakan ini. Orang tuaku menyuruhku melamar ke sekolah-sekolah. Aku melakukannya dengan setengah hati. Orang tuaku berharap ada dari salah satu sekolah itu memanggilku. Tapi, hatiku berharap itu tidak akan terjadi.

Aku tidak tahu ingin berbuat apa dan ingin jadi apa. Aku tidak tahu harus melangkah ke mana.

0 komentar:

Posting Komentar