Minggu, 02 April 2017

#Renungan24: Antara Kebenaran, Kesalahan dan Realitas



Benak saya masih dihantui satu kesalahan beberapa waktu lalu. Dan, saya yakin tidak akan melupakan kesalahan itu.
Bulan lalu, salah satu kelas yang saya ajar di bimbingan belajar meminta persiapan ulangan. Besok mereka akan ulangan fisika. Saya tahu benar, gurunya killer. Soal yang dibuat biasanya susah, tidak bisa diprediksi, dan dihubungkan dengan bab-bab sebelumnya. Saya temani mereka belajar hingga keluar semua peluh dan kepala terasa berat. Wajah mereka kusut dan lelah.
Di hari lain, kelas yang diajar guru sama juga akan ulangan. Mereka meminta tambahan les. Saya terkejut ketika mereka datang dengan sebuah foto soal ulangan. Bocoran soal ulangan!
Mereka meminta saya mengerjakan soal itu. Sebentar saya tertegun. Teringat jerih payah siswa yang saya temani perjuangannya kemarin. Mereka mendesak saya untuk mengerjakan soal itu lagi. Saya mengerjakannya. Sepulangnya saya menangis. Saya tidak akan lupa dengan kejadian itu.
Perasaan bersalah selalu menghantui. Saya memutuskan untuk meminta maaf pada kelas sebelumnya dan memberi tahu tentang kebocoran soal yang terjadi. Tapi, semua ini tidak berhenti di situ saja.
Sulit rasanya memberi tahu kelas yang mendapat bocoran bahwa saya tidak mau mengerjakan soal bocoran lagi. Karena saya pernah mengerjakan soal yang mereka bawa. Secara tidak langsung, saya sudah menyetujui perilaku itu. Tapi, saya tetap memberi tahu mereka. Reaksinya di luar dugaan saya. Mereka memilih untuk tidak masuk les lagi. Separuh dari mereka tidak pernah masuk kelas lagi semenjak kejadian itu.
Saya merasa sedih karena hubungan di antara kita rusak. Sayangnya saya tidak bisa mengontrol apa yang terjadi di benak mereka dan reaksi yang mereka berikan.
Saya hanya berusaha menyampaikan kebenaran. Walau realitasnya banyak yang tidak menyukai kebenaran itu.

*ditulis untuk 1minggu1cerita


0 komentar:

Posting Komentar