Benak
saya masih dihantui satu kesalahan beberapa waktu lalu. Dan, saya yakin tidak
akan melupakan kesalahan itu.
Bulan
lalu, salah satu kelas yang saya ajar di bimbingan belajar meminta persiapan
ulangan. Besok mereka akan ulangan fisika. Saya tahu benar, gurunya killer. Soal yang dibuat biasanya susah,
tidak bisa diprediksi, dan dihubungkan dengan bab-bab sebelumnya. Saya temani
mereka belajar hingga keluar semua peluh dan kepala terasa berat. Wajah mereka
kusut dan lelah.
Di
hari lain, kelas yang diajar guru sama juga akan ulangan. Mereka meminta
tambahan les. Saya terkejut ketika mereka datang dengan sebuah foto soal
ulangan. Bocoran soal ulangan!
Mereka
meminta saya mengerjakan soal itu. Sebentar saya tertegun. Teringat jerih payah
siswa yang saya temani perjuangannya kemarin. Mereka mendesak saya untuk
mengerjakan soal itu lagi. Saya mengerjakannya. Sepulangnya saya menangis. Saya
tidak akan lupa dengan kejadian itu.
Perasaan
bersalah selalu menghantui. Saya memutuskan untuk meminta maaf pada kelas
sebelumnya dan memberi tahu tentang kebocoran soal yang terjadi. Tapi, semua
ini tidak berhenti di situ saja.
Sulit
rasanya memberi tahu kelas yang mendapat bocoran bahwa saya tidak mau
mengerjakan soal bocoran lagi. Karena saya pernah mengerjakan soal yang mereka
bawa. Secara tidak langsung, saya sudah menyetujui perilaku itu. Tapi, saya
tetap memberi tahu mereka. Reaksinya di luar dugaan saya. Mereka memilih untuk
tidak masuk les lagi. Separuh dari mereka tidak pernah masuk kelas lagi
semenjak kejadian itu.
Saya
merasa sedih karena hubungan di antara kita rusak. Sayangnya saya tidak bisa
mengontrol apa yang terjadi di benak mereka dan reaksi yang mereka berikan.
Saya
hanya berusaha menyampaikan kebenaran. Walau realitasnya banyak yang tidak
menyukai kebenaran itu.



0 komentar:
Posting Komentar