Selasa, 24 Februari 2015

Bahagia (Hanya) Terletak di Pikiran


Apa yang membuatmu bahagia?
Akan ada banyak jawaban untuk pertanyaan sederhana itu.
"Aku bahagia kalau punya banyak uang". (umumnya begini)
"Aku bahagia kalau punya banyak pacar". (yang ini sich, bahagianya sepihak. -_______-)
"Aku bahagia kalau dia putus. " (tipe kebahagiaan seorang jomblo. :D)
"Aku bahagia. . . . "
dan
"Aku bahagia. . . "
(silakan diisi sendiri, menurut versi masing-masing).
Akan ada banyak jawaban yang muncul. Tapi apakah ada yang menuliskan bahwa bahagia adalah ketika aku makan tempe sedangkan orang lain makan ayam?
Jika tidak, maka benar bahwa selama ini kebahagiaan diorientasikan pada sesuatu yang dianggap tinggi. Sesuatu yang dianggap lebih dan lebih baik.
Kalau begitu, di mana letak bahagia?
Sebagian orang mungkin akan menjawab ketika dia bisa mencapai sesuatu yang tinggi, lebih tinggi dan lebih tinggi lagi. Lebih baik dan lebih baik lagi dari orang lain. Ingin melampaui siapa saja atau apa saja untuk merasa puas. Itu yang disebut bahagia?
Cobalah mendongak ke atas sebentar. Menatap hamparan langit luas. Dan ingatlah, di atas langit masih ada langit. Kenapa tak menikmati hamparan langit yang bisa dilihat saja. Sekalipun di atas langit ada langit.
Merasa bahagia saat makan tempe saat orang lain makan ayam.
Bahagia saat bisa berlibur ke kota sebelah saat orang lain berlibur ke negara sebelah.
Bahagia hidup bersama karyawan perusahaan saat orang lain hidup bersama pemilik perusahaan.
Dan masih banyak lagi macam bahagia.
Jadi, sebenarnya bahagia terletak di pikiran setiap orang. Hanya dipikiran. Simple bukan?
Cobalah, merubah semua yang ada dipikiran. Ambisi, obsesi, transfer menuju satu kata. Bahagia. Coba saja pilih kalimat sugesti begini.
Aku bahagia makan tempe sekalipun orang lain makan ayam. Karena ini berkah yang Tuhan berikan hari ini.
Aku bahagia bisa berlibur ke kota sebelah sekalipun orang lain berlibur ke negara sebelah. Karena Tuhan masih memberiku kesempatan melihat keindahan di bumi-Nya yang luas.
Aku bahagia hidup bersama karyawan perusahaan sekalipun orang lain hidup bersama pemilik perusahaan. Karena. . . (isi sendiri ya. hhe)
Jika bahagia terletak di pikiran, maka semua orang dengan mudah bisa bahagia bukan?
So, bahagiakanlah dirimu sendiri. :-)
_Aku bahagia dengan hidup ini. Bukan karena aku merasa lebih dari yang lain. Tapi karena aku berpikir tentang hidup yang membahagiakan_
Putri Lestari.

2 komentar: